Jakarta (ANTARA Sumsel) - Calon wakil presiden nomor urut satu, Hatta Rajasa menjelaskan impor beras dilakukan sebagai antisipasi terhadap ancaman iklim ekstrem dan untuk cadangan yang terpakai apabila benar-benar diperlukan.

"Kita melakukan impor apabila ada gangguan yang terjadi akibat iklim ekstrem," kata Hatta dalam debat capres dan cawapres putaran terakhir yang diselenggarakan Komisi Pemilihan Umum (KPU) di Jakarta, Sabtu malam.

Debat capres dan cawapres bertemakan "Pangan, Energi dan Lingkungan Hidup" berlangsung di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, dengan moderator Rektor Universitas Diponegoro Prof Sudharto P Hadi, Phd.

Hatta menjawab pertanyaan soal kebijakan impor beras, yang diajukan oleh calon presiden nomor urut dua Joko Widodo, dalam kapasitasnya sebagai mantan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian.

Ia mengakui Indonesia selalu melakukan impor beras sejak tahun 2000, namun selain sebagai antisipasi dari iklim ekstrem, impor tersebut dilakukan untuk memenuhi kebutuhan jenis beras tertentu yang tidak diproduksi di dalam negeri.

"Impor yang selalu kita lakukan juga untuk beras tertentu, untuk kebutuhan masyarakat asing," kata Hatta.

Ia mengatakan Indonesia tidak hanya melakukan impor beras, namun pernah mengalami kelebihan produksi beras atau swasembada tahun 2008 serta membantu Filipina yang waktu itu sedang mengalami krisis pangan.

"Kita tahun 2008 mengalami surplus, dan membantu Filipina. Kita mengimpor apabila mengalami gangguan, dan menambah dana (cadangan risiko) Rp2 triliun setahun, agar petani bisa 'survive'," kata Hatta.

Debat putaran terakhir kali ini diikuti oleh dua kandidat capres-cawapres, pasangan nomor urut satu Prabowo Subianto-Hatta Rajasa dan pasangan nomor urut dua Joko Widodo (Jokowi)-Jusuf Kalla (JK).