DME lebih murah dari LPG
Rabu, 13 November 2013 15:17 WIB
Ilsutrasi - Tabung elpiji (FOTO ANTARA)
Jakarta (ANTARA Sumsel) - Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi Marzan A Iskandar mengatakan harga bahan bakar dimethyl eter lebih murah dibandingkan elpiji/LPG.
"Harganya sekitar 20 persen lebih murah dari LPG," kata Marzan usai membuka Konferensi DME se-Asia di Jakarta, Rabu.
Marzan menjelaskan DME dapat diproduksi dari sumber bahan baku yang beragam seperti gas alam, biomassa, dan batu bara setelah proses gasifikasi.
"Penggunaan DME mencakup sebagai bahan bakar ramah lingkungan serta bahan baku kimia," jelas dia.
DME juga, lanjut dia, ramah lingkungan dan sifatnya cair sehingga bisa dimasukkan ke dalam tabung seperti LPG.
Deputi Kepala BPPT Bidang Teknologi Informasi, Energi dan Material Unggul Priyanto mengatakan DME diperlukan untuk menggantikan LPG yang terbatas.
"Konsumsi LPG domestik mencapai sekitar 47,2 juta Barrel Oil Equivalent (BOE) per tahun. Diperkirakan dalam kurun waktu 17 tahun permintaan semakin meningkat dengan rata-rata empat persen per tahun," jelas Unggul.
Persentase tersebut, lanjut dia, lebih tinggi dari pertumbuhan produksi LPG sebesar 2,6 persen per tahun.
Alasan lainnya diperlukan DME, lanjut Unggul, karena infrastruktur gas alam yang belum menjangkau seluruh wilayah di Tanah Air.
"BPPT sudah melakukan kajian, dan hasilnya DME layak dijadikan bahan bakar meskipun nilai kalor lebih rendah dibandingkan LPG."
Unggul mengusulkan harga jual DME lebih rendah dari LPG mengingat nilai kalornya yang rendah.
"Harganya sekitar 20 persen lebih murah dari LPG," kata Marzan usai membuka Konferensi DME se-Asia di Jakarta, Rabu.
Marzan menjelaskan DME dapat diproduksi dari sumber bahan baku yang beragam seperti gas alam, biomassa, dan batu bara setelah proses gasifikasi.
"Penggunaan DME mencakup sebagai bahan bakar ramah lingkungan serta bahan baku kimia," jelas dia.
DME juga, lanjut dia, ramah lingkungan dan sifatnya cair sehingga bisa dimasukkan ke dalam tabung seperti LPG.
Deputi Kepala BPPT Bidang Teknologi Informasi, Energi dan Material Unggul Priyanto mengatakan DME diperlukan untuk menggantikan LPG yang terbatas.
"Konsumsi LPG domestik mencapai sekitar 47,2 juta Barrel Oil Equivalent (BOE) per tahun. Diperkirakan dalam kurun waktu 17 tahun permintaan semakin meningkat dengan rata-rata empat persen per tahun," jelas Unggul.
Persentase tersebut, lanjut dia, lebih tinggi dari pertumbuhan produksi LPG sebesar 2,6 persen per tahun.
Alasan lainnya diperlukan DME, lanjut Unggul, karena infrastruktur gas alam yang belum menjangkau seluruh wilayah di Tanah Air.
"BPPT sudah melakukan kajian, dan hasilnya DME layak dijadikan bahan bakar meskipun nilai kalor lebih rendah dibandingkan LPG."
Unggul mengusulkan harga jual DME lebih rendah dari LPG mengingat nilai kalornya yang rendah.
Pewarta : Oleh: Indriani
Editor : Yudi Abdullah
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Pertamina Patra Niaga: Disparitas harga jadi pemicu utama penyalahgunaan BBM Subsidi
01 May 2026 20:24 WIB
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dorong implementasi biodiesel B50 dan bioetanol E20
27 April 2026 20:31 WIB
Kementerian ESDM minta masyarakat tidak panik, pasokan energi mudik Lebaran 2026 terjamin
13 March 2026 8:34 WIB
Jelang Idul Fitri 2026, Pertamina Patra Niaga Sumbagsel perketat pantauan distribusi BBM dan LPG
06 March 2026 18:15 WIB
Terpopuler - Makro & Mikro
Lihat Juga
Desa Bukit Makmur raih penghargaan 15 desa terbaik nasional Program BRILiaN 2025
11 November 2025 15:18 WIB
Pusri resmikan Rumah Kompos di Desa Tebat Benawa, dukung pengembangan kopi lokal
18 July 2025 16:03 WIB, 2025
Pusri tampilkan produk UMKM binaan di Pameran Produk Unggulan Sumsel 2025
03 July 2025 10:28 WIB, 2025