Manama (ANTARA/Xinhua-OANA Sumsel) - Pemerintah Bahrain telah mengantisipasi serangan teroris dengan melarang jejaring yang memiliki hubungan dengan Al Qaida, Hizbullah dan kelompok lain yang berafiliasi pada kelompok pelaku teror sebagai bagian dari tindakan lebih keras anti-teror.

Menteri Negara Urusan Komunikasi Sheikh Fawaz bin Mohammad Al Khalifa, Sabtu mengumumkan peraturan tersebut --yang menjadi reaksi atas saran baru-baru ini oleh Majelis Nasional di negeri tersebut untuk melakukan tindakan lain anti-teror.

"Dengan peningkatan ancaman terorisme, penting bagi Bahrain untuk bergabung dengan mitra global dan sekutunya dalam mencegah penyebaran ideologi ekstrem melalui penutupan akses ke jejaring yang dikembangkan oleh kelompok teror yang diakui masyarakat internasional, seperti Al Qaida dan Hizbullah," kata Sheikh Fawaz di dalam satu pernyataan.

Ia menambahkan tindakan hukum akan dilakukan terhadap mereka yang menghasur kerusuhan dan mendorong aksi teror, demikian laporan Xinhua --yang dipantau Antara di Jakarta, Ahad pagi.

Kementerian tersebut sudah membuat saluran khusus dan surel untuk menerima keluhan mengenai pelecehan media sosial, kata laporan itu.

Pada Sabtu malam (3/8), bom mobil meledak di dekat taman terkenal di Bahrain; para pejabat polisi mengatakan satu bom mobil diledakkan di Budaiya, tapi tak merenggut korban.

Kejadian tersebut telah memaksa semua organ pasukan keamanan di negeri itu untuk bersiaga penuh.

Direktur jenderal polisi Gubernuran Utara mengatakan polisi bergegas ke lokasi segera setelah menerima pemberitahuan mengenai ledakan tersebut dan penyelidikan awal mengungkapkan dua tabung gas telah diletakkan di dalam mobil itu tapi hanya satu tabung yang meledak.

Pada Jumat (2/8), polisi Bahrain menyerbu satu gudang amunisi dan menyita beberapa bom rakitan, senjata serta 150 bom Molotov.(Antara)