Jeruk pamelo Indonesia potensial dikembangkan
Jumat, 12 Juli 2013 15:20 WIB
Jeruk Pamelo (FOTO ANTARA)
Bogor (ANTARA Sumsle) - Guru besar Institut Pertanian Bogor, Profesor Slamet Susanto mengatakan jeruk Pamelo Indonesia sangat potesial dikembangkan karena memiliki nilai perdagangan yang tinggi mendampingi grapefruit, mandarin, orange dan lemon.
"Karakteristik jeruk Pamelo ini khas yakni berukuran besar, memiliki rasa segar dan daya simpan yang lama sampai empat bulan," kata Slamet di Bogor, Jumat.
Profesor Slamet menjelaskan, keunggulan lain Pamelo ini adalah beberapa kultivarnya hanya terdapat di Indonesia, jeruk ini juga mengandung gizi dan zat yang berkhasiat baik.
Meski memiliki potensi untuk dikembangkan, saat ini keberadaan Jeruk Pamelo di Indonesia masih terabaikan. Padahal di pasar internasional, pamelo merupakan jenis jeruk yang mempunyai nilai perdagangan yang tinggi.
Dibanding dengan jeruk lain, kata dia, Pamelo mempunyai bobot dan ukuran yang paling besar yakni berkisar antara 1-3 kg tergantung pada kultivar.
Umumnya buah pamelo mempunyai warna kulit hijau sampai kekuningan dengan warna daging buah bervariasi mulai dari putih, putih kemerahan, merah sampai merah tua.
"Jumlah bijinya juga bervariasi, ada yang berbiji banyak sampai tidak ada biji sama sekoli," katanya.
Lebih lanjut Profesor Slamet menjelaskan, Pamelo memiliki kandungan metabolit primer dan kandungan zat berkhasiat yang tinggi dan termasuk jenis jeruk komersial yang kurang disukai CVPD.
"CVPD adalah sala satu penyakit mirip bakteri yang banyak menyerang tanaman jeruk," ujarnya.
Di Indonesia, ujar Slamet, plasma nutfah pamelo banyak ditemukan di berbagai daerah dengan nama daerah yang berbeda-beda dan dikenal sebagai kultivar lokal.
Saat ini tidak kurang dari 24 kultivar pamelo yang telah dikenal masyarakat. Namun, tidak semua kultivar yang diproduksi secara komersial hanya beberapa saja seperti 'Magetan', Nambangan, Raja, Ratu dan Sri Nyonya.
Pengembangan Pamelo Terbatas
Guru Besar Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian IPB mengatakan, sampai saat ini area pengembangan pamelo di Indonesia masih sangat terbatas meski ia memiliki potensi yang sangat baik.
Produksi pamelo, kata dia, sangat rendah hanya sekitar 5 persen dari total produksi jeruk yang mencapai 2,2 juta ton pada 2010 (BPS 2012).
"Daerah pengembangannya juga terbatas, saat ini baru ada di Magetan, Pangkajene, dan Kepulauan serta Aceh yang menjadi sentra utama," katanya.
Sementara itu, pertamanan pamelo di Kabupaten Sumedang yang sudah pernah punah karena serangan penyakit, saat ini mulai berkembang kembali walaupun belum terlalu luas.
Begitu juga di Kabupaten Pati dan Kudus juga telah berkembang menjadi sentra baru pamelo. Pamelo juga ditemukan di beberapa wilayah lain seperti Jambi, NTB, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Banyuwangi.
"Tapi pengembangan ini dalam jumlah yang tidak banyak dan hanya beredar di pasar lokal," katanya.
Berdasarkan penelitian Profesor Slamet, luas areal Pamelo dari 2004-2011 berfluktuasi antara 4.161 hingga 6.235 hektar. Dengan dipengaruhi oleh kondisi iklim tahun berjalan, produsi berkisar antara 64 hingga 106 ribu ton dan produktivitas 12,03-22,23 ton per hektar.
Menurutnya, produktivitas tersebut masih tergolong rendah dibandingkan dengan potensinya yang dapat mencapai 40 ton per hektar.
"Ini disebabkan karena teknik budidaya yang umumnya masih konversial dan tidak intensif," ujarnya.
Untuk harga jual buah Pamelo, lanjut Profesor Slamet, di tingkat petani berfluktuatif dan berbeda antara daerah sentra produksi.
Berdasarkan kajian lapangan pada 2013, harga Pamelo pada saat panen raya di Kabupaten Magetan dan Pangket sekitar Rp 3.000 per buah, di Sumedang dan Bireun Rp 5.000 per buah, sementara di Kabupaten Kudus dan Pati harganya cukup tinggi yakni mencapai Rp15.000 per buah, bahkan ada yang menjual Rp20.000 per buah di Banyuwangi.
Profesor Slamet menambahkan, Pamelo selain memiliki nilai jual tinggi di pasar internasional juga memiliki khasiat dalam meningkatkan kesehatan tubuh, seperti antioksidan, antikanker dan dapat melarutkan kolesterol.
"Diperlukan dorongan dan pembinaan pemerintah terhadap petani pamelo dari sisi teknis budidaya dan pemasarannya agar Pamelo yang potensial ini bisa dikembangkan dapat meningkatkan produktifitas buah nusantara," katanya.
"Karakteristik jeruk Pamelo ini khas yakni berukuran besar, memiliki rasa segar dan daya simpan yang lama sampai empat bulan," kata Slamet di Bogor, Jumat.
Profesor Slamet menjelaskan, keunggulan lain Pamelo ini adalah beberapa kultivarnya hanya terdapat di Indonesia, jeruk ini juga mengandung gizi dan zat yang berkhasiat baik.
Meski memiliki potensi untuk dikembangkan, saat ini keberadaan Jeruk Pamelo di Indonesia masih terabaikan. Padahal di pasar internasional, pamelo merupakan jenis jeruk yang mempunyai nilai perdagangan yang tinggi.
Dibanding dengan jeruk lain, kata dia, Pamelo mempunyai bobot dan ukuran yang paling besar yakni berkisar antara 1-3 kg tergantung pada kultivar.
Umumnya buah pamelo mempunyai warna kulit hijau sampai kekuningan dengan warna daging buah bervariasi mulai dari putih, putih kemerahan, merah sampai merah tua.
"Jumlah bijinya juga bervariasi, ada yang berbiji banyak sampai tidak ada biji sama sekoli," katanya.
Lebih lanjut Profesor Slamet menjelaskan, Pamelo memiliki kandungan metabolit primer dan kandungan zat berkhasiat yang tinggi dan termasuk jenis jeruk komersial yang kurang disukai CVPD.
"CVPD adalah sala satu penyakit mirip bakteri yang banyak menyerang tanaman jeruk," ujarnya.
Di Indonesia, ujar Slamet, plasma nutfah pamelo banyak ditemukan di berbagai daerah dengan nama daerah yang berbeda-beda dan dikenal sebagai kultivar lokal.
Saat ini tidak kurang dari 24 kultivar pamelo yang telah dikenal masyarakat. Namun, tidak semua kultivar yang diproduksi secara komersial hanya beberapa saja seperti 'Magetan', Nambangan, Raja, Ratu dan Sri Nyonya.
Pengembangan Pamelo Terbatas
Guru Besar Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian IPB mengatakan, sampai saat ini area pengembangan pamelo di Indonesia masih sangat terbatas meski ia memiliki potensi yang sangat baik.
Produksi pamelo, kata dia, sangat rendah hanya sekitar 5 persen dari total produksi jeruk yang mencapai 2,2 juta ton pada 2010 (BPS 2012).
"Daerah pengembangannya juga terbatas, saat ini baru ada di Magetan, Pangkajene, dan Kepulauan serta Aceh yang menjadi sentra utama," katanya.
Sementara itu, pertamanan pamelo di Kabupaten Sumedang yang sudah pernah punah karena serangan penyakit, saat ini mulai berkembang kembali walaupun belum terlalu luas.
Begitu juga di Kabupaten Pati dan Kudus juga telah berkembang menjadi sentra baru pamelo. Pamelo juga ditemukan di beberapa wilayah lain seperti Jambi, NTB, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Banyuwangi.
"Tapi pengembangan ini dalam jumlah yang tidak banyak dan hanya beredar di pasar lokal," katanya.
Berdasarkan penelitian Profesor Slamet, luas areal Pamelo dari 2004-2011 berfluktuasi antara 4.161 hingga 6.235 hektar. Dengan dipengaruhi oleh kondisi iklim tahun berjalan, produsi berkisar antara 64 hingga 106 ribu ton dan produktivitas 12,03-22,23 ton per hektar.
Menurutnya, produktivitas tersebut masih tergolong rendah dibandingkan dengan potensinya yang dapat mencapai 40 ton per hektar.
"Ini disebabkan karena teknik budidaya yang umumnya masih konversial dan tidak intensif," ujarnya.
Untuk harga jual buah Pamelo, lanjut Profesor Slamet, di tingkat petani berfluktuatif dan berbeda antara daerah sentra produksi.
Berdasarkan kajian lapangan pada 2013, harga Pamelo pada saat panen raya di Kabupaten Magetan dan Pangket sekitar Rp 3.000 per buah, di Sumedang dan Bireun Rp 5.000 per buah, sementara di Kabupaten Kudus dan Pati harganya cukup tinggi yakni mencapai Rp15.000 per buah, bahkan ada yang menjual Rp20.000 per buah di Banyuwangi.
Profesor Slamet menambahkan, Pamelo selain memiliki nilai jual tinggi di pasar internasional juga memiliki khasiat dalam meningkatkan kesehatan tubuh, seperti antioksidan, antikanker dan dapat melarutkan kolesterol.
"Diperlukan dorongan dan pembinaan pemerintah terhadap petani pamelo dari sisi teknis budidaya dan pemasarannya agar Pamelo yang potensial ini bisa dikembangkan dapat meningkatkan produktifitas buah nusantara," katanya.
Pewarta :
Editor : AWI-SEO&Digital Ads
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Kopi Tebat Benawa, saat tradisi dan inovasi Pusri bertemu di kaki Gunung Dempo
22 April 2026 16:45 WIB
Terpopuler - Info Bisnis
Lihat Juga
Kopi Tebat Benawa, saat tradisi dan inovasi Pusri bertemu di kaki Gunung Dempo
22 April 2026 16:45 WIB
Disbun Sumsel ingatkan petani sawit manfaatkan momen kenaikan harga, genjot perawatan kebun
18 April 2026 13:56 WIB