Palembang (ANTARA Sumsel) - Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional Provinsi Sumatera Selatan terus menggaungkan pentingnya program Kependudukan dan KB ke seluruh lapisan masyarakat karena  menjadi salah satu penentu keberhasilan pembangunan bangsa dan negara.

"Program Kependudukan dan Keluarga Berencana (KKB) memerlukan perhatian serius dari seluruh komponen bangsa, mulai dari kalangan pemimpin hingga para penyuluh KB yang menjadi perpanjangan tangan pemerintah. Hal ini lantaran kesuksesannya sangat menentukan keberhasilan pembangunan bangsa," kata Kepala BKKBN Provinsi Sumatera Selatan Sri Rahayu dalam acara Pertemuan "Refreshing Contraception Knowledge" Ikatan Penyuluh KB  (IPeKB) di Palembang, Senin.

Sri mengatakan program KKB belum berjalan dengan semestinya berdasarkan hasil Survey Demografi Kependudukan Indonesia (SDKI) tahun 2012 yang memperlihatkan peningkatan jumlah total angka kelahiran atau Total Fertility Rate (TFR).

Angka TFR tercatat 2,6 per wanita usia subur (dalam 10 wanita usia subur terdapat 26 anak yang terlahirkan). Jumlah ini sama dengan catatan SDKI 2007.

"Stagnasi TFR ini dipicu oleh tingkat pemakaian KB selama lima tahun yang hanya meningkat sedikit," ujarnya.

Menurut dia, hal ini juga merupakan akibat dari berbagai permasalahan di antaranya, berubahnya nilai jumlah anak ideal dalam keluarga, melemahnya pembinaan kepesertaan KB Aktif yang menyebabkan angka "drop out" terbilang tinggi, rendahnya pemakaian alat kontrasepsi jangka panjang, pelayanan KB yang belum terjangkau secara merata dan meningkatnya kelahiran usia remaja (15-19 tahun) dari 35 menjadi 48 per seribu orang perempuan.

Untuk itu, ia melanjutkan, peranan semua pihak dalam menanggulangi berbagai permasalahan tersebut sangat diperlukan, terutama para penyuluh lapangan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat.

"Program KKB merupakan investasi jangka panjang yang tidak bisa dilihat hasilnya hanya dalam satu dua tahun. Dampak keberhasilan ataupun kegagalan program KKB akan sangat menentukan keberhasilan pembangunan lainnya seperti lingkungan, ketahanan pangan, lapangan kerja, pendidikan, kesehatan, sosial, ekonomi dan budaya," ujarnya.

Ia menambahkan, penurunan angka kematian tanpa diimbangi dengan penurunan angka kelahiran akan menyebabkan terjadinya ledakan penduduk yang luar biasa.

Sedangkan, kemajuan bangsa dimasa depan sangat ditentukan oleh kualitas SDM-nya atau bukan dari kuantitas.

"BKKBN tidak bisa bekerja sendiri dan membutuhkan peran pemerintah daerah, pemangku kepentingan, dan kesadaran masyarakat itu sendiri untuk pemantapan komitmen membentuk keluarga kecil yang bahagia dan sejahtera," ujarnya.

Sebelumnya, bertepatan dengan Hari Kartini, Sri Rahayu mendapatkan kesempatan mensosialisasikan program KKB pada salah satu acara di Kompas TV.

Ia terpilih karena dianggap sebagai tokoh perempuan yang menginspirasi mengingat dipercaya mengemban tugas sebagai Kepala Perwakilan BKKBN Sumsel yakni 10 provinsi yang mendapat perhatian khusus mengingat menjadi target keberhasilan program KKB di Indonesia.
 
Penyampaian materi tentang kebijakan dan strategi akselerasi pencapaian sasaran pembangunan KKB Sumsel 2013 itu turut dihadiri Ketua Umum Dewan Pimpinan Daerah IPeKB Indonesia Sumsel Gusnadi Osen, Sekretaris Umum Khairul, Perwakilan Dewan Pimpinan Pusat IPeKB Indonesia Moh Iqbal Trihidayat, dan perwakilan dari PT Bayer Indonesia Rusdi Yahya. (adv/Dolly Rosana)