Tempat hiburan Palembang sering dirazia
Rabu, 12 September 2012 8:54 WIB
Palembang (ANTARA Sumsel) - Pengusaha hotel dan tempat hiburan di Kota Palembang, Sumatera Selatan, mengaku resah karena tempat usaha mereka itu sering dirazia aparat kepolisian tanpa koordinasi dan target operasi yang jelas.
"Aparat kepolisian sering melakukan razia tanpa target operasi yang jelas sehingga membuat pengunjung hotel dan tempat hiburan takut," kata Ketua Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sumsel Erlan Aspiudin di Palembang, Rabu.
Menurut dia, pengunjung hotel dan tempat hiburan adalah orang-orang yang membutuhkan kenyamanan dan hiburan untuk menghilangkan kepenatan setelah melakukan perjalanan jauh atau pekerjaan berat.
Dengan adanya razia tersebut, suasana santai menjadi tegang karena polisi melakukan penggeledahan dan pemeriksaan barang bawaan yang kemungkinan ditemukan kesalahan atau pelanggaran hukum yang pada akhirnya berdampak ditangkap aparat keamanan itu, kata dia.
Dia menjelaskan, pemilik hotel dan tempat hiburan anggota PHRI Sumsel tidak antirazia jika memang ada target operasi yang jelas misalnya ada informasi maraknya peredaran obat-obatan terlarang atau narkoba silahkan saja dilakukan razia.
Untuk mengatasi masalah keresahan para pengusaha hotel dan tempat hiburan tersebut, pengurus dan anggota PHRI Sumsel akan melakukan pembicaraan dengan aparat kepolisian setempat.
Masalah keresahan tersebut perlu segera dicarikan jalan keluar yang terbaik karena jika dibiarkan bisa banyak hotel dan tempat hiburan tutup akibat sepinya pengunjung dan sekarang ini saja banyak investor menunda investasinya karena kondisinya kurang menguntungkan.
Tutupnya hotel dan tempat hiburan akibat sepinya pengunjung, bisa menimbulkan dampak sosial baru karena akan terjadi pemutusan hubungan kerja secara besar-besaran serta bisa membuat investor takut menanamkan modalnya di bisnis hotel dan tempat hiburan, kata Ketua PHRI Sumsel itu. (ANT-Y009)
"Aparat kepolisian sering melakukan razia tanpa target operasi yang jelas sehingga membuat pengunjung hotel dan tempat hiburan takut," kata Ketua Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sumsel Erlan Aspiudin di Palembang, Rabu.
Menurut dia, pengunjung hotel dan tempat hiburan adalah orang-orang yang membutuhkan kenyamanan dan hiburan untuk menghilangkan kepenatan setelah melakukan perjalanan jauh atau pekerjaan berat.
Dengan adanya razia tersebut, suasana santai menjadi tegang karena polisi melakukan penggeledahan dan pemeriksaan barang bawaan yang kemungkinan ditemukan kesalahan atau pelanggaran hukum yang pada akhirnya berdampak ditangkap aparat keamanan itu, kata dia.
Dia menjelaskan, pemilik hotel dan tempat hiburan anggota PHRI Sumsel tidak antirazia jika memang ada target operasi yang jelas misalnya ada informasi maraknya peredaran obat-obatan terlarang atau narkoba silahkan saja dilakukan razia.
Untuk mengatasi masalah keresahan para pengusaha hotel dan tempat hiburan tersebut, pengurus dan anggota PHRI Sumsel akan melakukan pembicaraan dengan aparat kepolisian setempat.
Masalah keresahan tersebut perlu segera dicarikan jalan keluar yang terbaik karena jika dibiarkan bisa banyak hotel dan tempat hiburan tutup akibat sepinya pengunjung dan sekarang ini saja banyak investor menunda investasinya karena kondisinya kurang menguntungkan.
Tutupnya hotel dan tempat hiburan akibat sepinya pengunjung, bisa menimbulkan dampak sosial baru karena akan terjadi pemutusan hubungan kerja secara besar-besaran serta bisa membuat investor takut menanamkan modalnya di bisnis hotel dan tempat hiburan, kata Ketua PHRI Sumsel itu. (ANT-Y009)
Pewarta :
Editor : Yudi Abdullah
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Google tanggapi temuan pemalsuan data Google Bisnis hotel di Indonesia
13 August 2024 14:45 WIB, 2024
226 hotel di Gili Matra NTB belum dapat pesanan kamar di ajang MotoGP 2022
27 January 2022 9:08 WIB, 2022
Disbudpar Sumsel upayakan pekerjakan kembali karyawan hotel yang dirumahkan
28 October 2021 19:09 WIB, 2021
PHRI Sumsel bantu sosialisasikan aplikasi Giwang promosikan pariwisata
26 September 2021 20:38 WIB, 2021