Salah satu indikasinya,
mereka mengedepankan latar belakang bernuansa SARA calon pemimpinnya
ketimbang program dan cara para calon itu melaksanakan program kerjanya.
Juga bagaimana masyarakat bisa serta dalam pengawasan dan pelaksanaan
program kerja itu.
Dia berharap pemilih jangan memilih
gubernur hanya berdasarkan pada kesamaan suku atau agama, tetapi lebih
kepada kemampuan dan kapasitas calon yang dinilai bisa memimpin Jakarta.
"Agama
dan kesukuan cukup diketahui sebagai latar belakang saja. Pemilih harus
lebih dewasa sehingga memilih calon yang memiliki kemampuan untuk
memperbaiki Jakarta," katanya.
Menurut dia, Indonesia memiliki
keberagaman suku dan agama sehingga pembicaraan mengenai etnis sah-sah
saja asalkan tidak mengangkat isu membenci atau memusuhi kelompok
tertentu.
"Hal itu berbeda dengan masyarakat Barat yang cenderung aktif
mencari tahu latar belakang, kelebihan serta kekurangan calon yang akan
mereka pilih," kata Subiakto, saat dihubungi di Jakarta, Selasa.
Sebentar
lagi warga Jakarta akan menentukan gubernur barunya. Dua calon
bertarung, Fauzi Bowo (gubernur menjabat) dan Joko Widodo (walikota
Solo), keduanya menawarkan Jakarta yang lebih baik jika bisa menjadi DKI
1.
Kalaupun pemilih tahu tentang calon kepala daerah yang akan mereka
pilih, maka hal itu hanya pada tataran "kulit dan permukaan" saja. Dia
berharap masyarakat Jakarta lebih aktif dan kritis supaya mengenal calon
gubernur supaya tidak salah pilih.
"Media dan politisi juga harus lebih aktif mengampanyekan latar
belakang, aktivitas dan rekam jejak pasangan calon yang bersaing. Jangan
sibuk menyerang dengan isu kesukuan atau agama," katanya. (ANT/SDP-49)