'Ngidang' makin jarang pada upacara perkawinan
Sabtu, 9 Juni 2012 21:00 WIB
Makan bersama dalam satu menu yang dihidangkan saat pesta perkawinan di Palembang. (Foto.Antarasumsel.com/Dolly)
Palembang (ANTARA Sumsel) - Menyantap makanan secara bersama-sama dalam satu hidangan lengkap dengan duduk bersila atau disebut 'ngidang' semakin jarang dijumpai pada upacara adat perkawinan di Kota Palembang seiring dengan modernisasi kehidupan masyarakat saat ini.
Ketua Seksi Budaya Dinas Pariwisata Sumsel Dadang Irawan mengatakan di Palembang, Sabtu, prosesi itu kian luntur karena masyarakat perkotaan menginginkan sesuatu yang praktis seperti prasmanan ala budaya barat.
"Untuk kawasan di tengah kota bisa dikatakan sudah jarang ditemukan acara makan ala 'ngidang' itu. Namun di pinggiran kota seperti di kawasan Seberang Ulu masih ada karena sejumlah pemangku adat setempat masih mempertahankannya," katanya.
Kearifan lokal itu memiliki nilai yang tinggi dalam membentuk kepribadian masyarakat karena menumbuhkan sikap kepedulian dan kebersamaan.
Biasanya warga setempat bahu membahu saat prosesi 'ngidang' dilaksanakan untuk membantu si pengundang dalam memuaskan para tamu, baik orang tua maupun kaum muda dan anak-anak.
Uniknya, ada yang bertugas membawa ember air untuk cuci tangan yang disebut 'ngobeng' hingga gerakan estafet saling sambut untuk membawa makanan hingga ke tempat yang ditentukan, ujarnya.
Seiring dengan perkembangan zaman pelaksanaan 'ngidang' itu tidak sesempurna sebelumnya.
"Saat ini sudah disesuaikan, tidak laga memakai gelas karena sudah ada air minuman kemasan yang lebih praktis. Selain itu, menunya juga mengalami pergeseran," katanya.
Tuan rumah akan menyiapkan beberapa hidangan untuk para tamu undangan. Setiap hidangan untuk 5-10 orang dengan menu lengkap yang terdiri dari nasi, lauk pauk, sambal, lalap, dan buah-buahan.
Hidangan digelar pada selembar kain dengan tempat nasi berupa nampan ditempatkan pada bagian tengah.
(ANT/pso-039)
Ketua Seksi Budaya Dinas Pariwisata Sumsel Dadang Irawan mengatakan di Palembang, Sabtu, prosesi itu kian luntur karena masyarakat perkotaan menginginkan sesuatu yang praktis seperti prasmanan ala budaya barat.
"Untuk kawasan di tengah kota bisa dikatakan sudah jarang ditemukan acara makan ala 'ngidang' itu. Namun di pinggiran kota seperti di kawasan Seberang Ulu masih ada karena sejumlah pemangku adat setempat masih mempertahankannya," katanya.
Kearifan lokal itu memiliki nilai yang tinggi dalam membentuk kepribadian masyarakat karena menumbuhkan sikap kepedulian dan kebersamaan.
Biasanya warga setempat bahu membahu saat prosesi 'ngidang' dilaksanakan untuk membantu si pengundang dalam memuaskan para tamu, baik orang tua maupun kaum muda dan anak-anak.
Uniknya, ada yang bertugas membawa ember air untuk cuci tangan yang disebut 'ngobeng' hingga gerakan estafet saling sambut untuk membawa makanan hingga ke tempat yang ditentukan, ujarnya.
Seiring dengan perkembangan zaman pelaksanaan 'ngidang' itu tidak sesempurna sebelumnya.
"Saat ini sudah disesuaikan, tidak laga memakai gelas karena sudah ada air minuman kemasan yang lebih praktis. Selain itu, menunya juga mengalami pergeseran," katanya.
Tuan rumah akan menyiapkan beberapa hidangan untuk para tamu undangan. Setiap hidangan untuk 5-10 orang dengan menu lengkap yang terdiri dari nasi, lauk pauk, sambal, lalap, dan buah-buahan.
Hidangan digelar pada selembar kain dengan tempat nasi berupa nampan ditempatkan pada bagian tengah.
(ANT/pso-039)
Pewarta :
Editor : Indra Gultom
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Program Romantis Kabupaten OKU bisa terbitkan akta perkawinan warga non Muslim gratis
17 March 2025 13:28 WIB
Kemenag luruskan informasi, KUA libur Sabtu-Minggu tapi naib tetap bertugas
13 October 2024 10:18 WIB, 2024
Kemenkumham Sumsel gelar sosialisasi kewarganegaraan bagi warga kawin campuran
27 February 2024 22:00 WIB, 2024
Marsha Timothy & Oka Antara petik banyak pelajaran di film terbarunya
09 September 2022 7:38 WIB, 2022
Kemenkumham mencatat banyak WNI hilang kewarganegaraan akibat perkawinan
18 May 2022 12:52 WIB, 2022