Logo Header Antaranews Sumsel

Mesin kendaraan sulit mati karena faktor elektromagnetik di rel kereta

Selasa, 5 Mei 2026 10:40 WIB
Image Print
Seorang pedagang kerupuk berhenti di perlintasan kereta sebidang saat KRL melintas. ANTARA/Luthfia Miranda Putri/am. (Luthfia Miranda Putri)

Jakarta (ANTARA) - Pengamat otomotif Bebin Djuana menilai bahwa secara ilmiah, kemungkinan kendaraan mati akibat pengaruh gelombang elektromagnetik dari rel kereta sangat kecil.

“Dari beberapa pihak menyebutkan gelombang elektromagnetik yang terjadi di rel kereta sebetulnya tidak cukup kuat untuk mematikan mesin ICE, apalagi menonaktifkan BEV,” ujar Bebin ketika dihubungi ANTARA dari Jakarta, Selasa.

Hal ini dikemukakan Bebin menyingkapi dua kasus kecelakaan antara kereta api dan mobil dalam sepekan terakhir di Bekasi Timur dan Grobogan, di mana dalam dua kasus tersebut mobil mengalami mati mesin saat berada di atas perlintasan kereta.

Ia mengungkapkan, fenomena kendaraan mati di perlintasan rel masih menimbulkan tanda tanya jika dikaitkan dengan faktor teknis tersebut.

“Jadi apa yang sebetulnya terjadi terasa aneh karena secara ilmiah tidak terbukti,” katanya.

Menurut Bebin, penyebab kejadian tersebut belum dapat disimpulkan secara pasti tanpa bukti yang jelas.

Ia mengingatkan agar tidak terburu-buru menarik kesimpulan, termasuk mengaitkannya dengan faktor tertentu yang belum terverifikasi.

Lebih lanjut, ia menyoroti pentingnya aspek keselamatan di perlintasan sebidang, terutama di wilayah dengan tingkat kepadatan tinggi.

Bebin menilai keberadaan perlintasan sebidang masih menjadi titik rawan kecelakaan yang perlu mendapat perhatian serius.

“Yang jelas perlintasan sebidang sebaiknya sudah ditiadakan di tempat-tempat yang padat penduduknya,” kata dia.

 



Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Mesin kendaraan sulit mati karena faktor elektromagnetik di rel kereta

Pewarta:
Uploader: Aang Sabarudin
COPYRIGHT © ANTARA 2026