Logo Header Antaranews Sumsel

Plastik mahal, peluang hijau bagi sistem pangan

Rabu, 15 April 2026 13:10 WIB
Image Print
Arsip Foto - Petani memupuk tanaman bawang merah di Ngantang, Malang, Jawa Timur, Minggu (20/7/2025). ANTARA FOTO/Muhammad Mada/sgd/am.

Jakarta (ANTARA) - Plastik bukan sekadar pembungkus. Dalam pertanian modern, plastik mengatur air, suhu, dan kehidupan tanaman.

Ketika harga plastik melonjak, lebih dari 50 persen, akibat gangguan pasokan energi global di Selat Hormuz, yang terguncang bukan hanya industri, tetapi juga fondasi ketahanan pangan. Kenaikan harga mulsa plastik menambah tekanan bagi petani yang bergantung pada input ini, sekaligus membuka persoalan yang jarang disadari.

Di lahan pertanian, plastik hadir dalam berbagai bentuk: mulsa yang menutup permukaan tanah, pipa irigasi yang menyalurkan air, hingga lapisan plastik UV pada greenhouse yang mengendalikan air, suhu, dan stabilitas lingkungan tumbuh. Semua itu bekerja pada satu tujuan utama—mengatur air—sehingga plastik bukan sekadar material, melainkan instrumen hidrologi.

Pada saat yang sama, sistem irigasi tetes memungkinkan air dialirkan langsung ke zona akar dengan efisiensi tinggi. Kombinasi ini menjadikan plastik sebagai alat yang secara efektif “mengunci” air di dalam sistem tanah, menjaga stabilitas lingkungan tumbuh, dan pada akhirnya menentukan tingkat produktivitas pertanian.

Hanya saja, ketergantungan ini justru membuka kerentanan. Ketika pasokan terganggu, sistem yang terlalu bergantung pada plastik ikut goyah.

Di titik inilah krisis berubah menjadi cermin—memaksa kita melihat ulang fondasi pertanian modern: apakah efisiensi yang dibangun selama ini terlalu bergantung pada material yang rapuh secara rantai pasok dan bermasalah secara ekologis?

Plastik memang membantu mengendalikan lingkungan tumbuh tanaman dalam jangka pendek, tetapi meninggalkan jejak panjang di dalam tanah. Sisa mulsa yang tertinggal terfragmentasi menjadi mikroplastik, mengganggu struktur tanah, pergerakan air, dan kehidupan biota yang menjadi kunci kesuburan. Dalam situasi ini, pertanian modern dihadapkan pada dilema: mempertahankan efisiensi berbasis plastik, atau membangun sistem yang lebih selaras dengan fungsi alami tanah.

Plastik yang digunakan dalam sektor pertanian tidak muncul begitu saja, melainkan berasal dari rantai industri panjang berbasis energi fosil. Sebagian besar bahan bakunya berasal dari kawasan Timur Tengah—wilayah yang selama beberapa dekade menjadi pusat produksi energi dunia. Negara-negara, seperti Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab, memiliki industri petrokimia terintegrasi yang memasok kebutuhan polimer global.

Bahan baku plastik berasal dari minyak bumi dan gas alam yang diolah menjadi naphtha, etana, propana, dan butana, kemudian diproses melalui tahap cracking untuk menghasilkan senyawa dasar, seperti etilena dan propilena. Senyawa ini selanjutnya diolah menjadi monomer dan akhirnya menjadi resin plastik, seperti polyethylene, polypropylene, PVC, dan PET selanjutnya diekspor dalam bentuk butiran (pellet).



Pewarta:
Uploader: Aang Sabarudin
COPYRIGHT © ANTARA 2026