
Tips dokter spesialis anak atasi picky eater, kenali metode Sensory Play

Jakarta (ANTARA) - Seorang dokter spesialis membagikan sejumlah cara yang dapat dilakukan orang tua untuk mengatasi anak yang memiliki kebiasaan terlalu pemilih makanan atau picky eater.
Dokter spesialis anak dr. Ian Suryadi Suteja, M.Med.Sc., Sp.A. dalam diskusi kesehatan di Jakarta, Jumat, menyarankan orang tua untuk melakukan sensory play atau permainan melatih sensorik dengan berbagai tekstur makanan serta metode sensory food hierarchy secara bertahap.
"Kita atasi dulu picky eater-nya. Boleh lakukan misalnya sensory play dengan berbagai macam tekstur makanan. Cari segala macam ide sensory play setiap harinya. Kemudian, Anda boleh belajar tentang sensory food hierarchy," kata Ian.
Ia menjelaskan bahwa penerapan metode sensory food hierarchy membantu anak mengenal makanan melalui berbagai tahapan interaksi. Dokter lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM) tersebut menyampaikan bahwa orang tua dapat memulai metode ini dengan meletakkan makanan yang tidak disukai anak di dalam piring setiap hari.
Upaya tersebut bertujuan agar anak terbiasa melihat makanan tersebut tanpa merasa dipaksa. Dalam proses sensory food hierarchy, anak biasanya akan melalui beberapa tahap, mulai dari melihat makanan, merasa penasaran, menyentuh, mencium, hingga akhirnya mencoba memakannya.
"Kalau anaknya picky eater dan tidak mau makan daging sama sekali, setiap hari Anda harus memberikan daging di dalam piring. Biarkan anak melihat terus. Perkara dia tidak mau makan itu tidak apa-apa, yang penting setiap hari dibiasakan ada di situ. Lama-lama anak terbiasa melihat dan pasti penasaran," ujar Ian.
Selain masalah pola makan, Ian juga menyarankan orang tua untuk memastikan apakah anak mengalami alergi susu sapi. Hal ini penting karena alergi sering kali ditemukan pada anak yang mengalami kondisi picky eater.
Menurutnya, banyak pasien yang diklaim alergi susu sapi, namun setelah diperiksa ternyata tidak memiliki alergi tersebut.
"Semua susu tinggi kalori pasti mengandung susu sapi. Namun, ingat nomor satu, benar-benar pastikan itu alergi susu sapi atau tidak," imbuhnya.
Ian memaparkan cara mengetahui alergi susu sapi adalah dengan memberikan susu tersebut dan memperhatikan munculnya gejala tertentu, seperti ruam, muntah, batuk, atau pilek. Jika gejala muncul, konsumsi susu sapi sebaiknya dihentikan sementara.
"Berikan susu sapi, jika muncul gejala, hentikan selama dua hingga empat minggu sampai gejalanya hilang secara konstan. Setelah itu, coba berikan lagi atau rechallenge. Jika muncul gejala dalam satu sampai tiga hari, maka betul anak tersebut alergi susu sapi," kata Ian.
Pewarta: Sri Dewi Larasati
Editor: Dolly Rosana
COPYRIGHT © ANTARA 2026
