Logo Header Antaranews Sumsel

Fajar Alamri, pebiliar cilik hebohkan CIO 2026

Kamis, 12 Februari 2026 14:53 WIB
Image Print
Fajar Alamri (ANTARA/HO-Dokumentasi Pribadi)

“Kalahnya hill-hill, last game,” kata Sang Ayah, Jafar Alamri saat dihubungi ANTARA, Rabu (11/2).

Biliar bukan dunia asing bagi Fajar. Ia adalah putra dari Jafar Alamri, atlet biliar berprestasi asal Tolitoli yang juga memiliki usaha rumah biliar. Dari sanalah segalanya bermula.

“Umur tiga tahun dia sudah mulai ambil bola, ambil stik, nyodok-nyodok,” kata Jafar.

Baru sekitar enam bulan terakhir, dia mulai berlatih lebih fokus. Bakatnya terlihat jelas, daya ingat cepat, pemahaman arah bola, dan ketenangan yang tak biasa bagi anak seusianya.

Orang tuanya tidak menargetkan Fajar menjadi atlet, walaupun bakat dan minat sang anak sangat besar di olahraga biliar.

Di kampung halamannya, Kelurahan Baru, Kecamatan Baulan, Fajar bahkan pernah turun di turnamen lokal. Tanpa kelas usia, ia bergabung dengan pemain dewasa. Hasilnya mengejutkan, Fajar sempat menembus delapan besar, bahkan mengalahkan pemain dewasa.

Menurut Jafar, biliar bukan hanya soal teknik memasukkan bola. Mental bertanding adalah pelajaran utama yang ingin ia tanamkan sejak dini. Dia ingin anaknya tetap berlatih di kampung, karena sekolah masih menjadi prioritas utama.

Fajar merupakan anak ketiga dari empat bersaudara. Selama ini, seluruh proses latihan dilakukan langsung oleh sang ayah. Ke depan, Jafar berencana terus mengikutkan putranya dalam berbagai kejuaraan. 

“Fokus utamanya bukan semata prestasi, melainkan pembentukan mental. Yang paling penting buat saya melatih mentalnya dulu,” katanya menegaskan.

Pengurus Provinsi (Pengprov) Persatuan Olahraha Biliar Seluruh Indonesia (POBSI) Sulawesi Tengah (Sulteng) turut bangga dengan altet cilik dari Tolitoli itu. Fajar diproyeksikan akan mendapatkan pembinaan dari pelatih profesional, sebagai aset masa depan olahraga biliar Sulteng.

"Saya berpikir ini bisa menjadi generasi masa depan untuk Sulteng,” ujar Ketua POBSI Sulteng Andi Limbunan.

Dia berharap ke depan jika POBSI memiliki pelatih berstandar nasional di Sulawesi Tengah. Sehingga bakar Fajar bisa diarahkan dengan benar, bahkan potensinya bisa jauh lebih besar dibanding atlet-atlet Sulteng saat ini.

Menurut dia, kasus Fajar menjadi contoh pentingnya pembinaan atlet usia dini. Selama ini, sebagian besar atlet biliar di Sulteng berkembang tanpa pelatihan formal. Sebagian besar atlet lahir secara otodidak, tanpa adanya pelatih berstandar nasional.

"Prestasi kita naik-turun seperti detak jantung. Tidak ada coaching, tidak ada mentor yang memoles. Di PON Papua kita dapat medali, tapi di PON Aceh kita tidak bicara banyak," ungkapnya.
CIO 2026 merupakan salah satu turnamen biliar terbesar di Asia. Ajang itu menghadirkan tiga event internasional sekaligus: Carabao International Open, Carabao Junior Open, dan Carabao International Celebrity Billiard. Turnamen itu juga mencatatkan Rekor MURI sebagai kejuaraan biliar multikategori dengan peserta terbanyak di satu lokasi. 



Pewarta:
Uploader: Aang Sabarudin
COPYRIGHT © ANTARA 2026