Gelombang laut yang tak pernah diam

id gelombang laut,abrasi,rob,mitigasi bencana,kota mataram

Gelombang laut yang tak pernah diam

Ilustrasi. Gelombang tinggi di pantai Ampenan, Mataram, NTB, Kamis (22/1/2026). (ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi/rwa.)

Mataram (ANTARA) - Setiap musim barat tiba, gelombang tinggi dan pasang air laut kembali menjadi ancaman di banyak wilayah pesisir Indonesia. Fenomena rob dan abrasi tidak hanya mengikis garis pantai, tetapi juga mengganggu kehidupan masyarakat yang menggantungkan diri pada laut.

Di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), ancaman ini terasa semakin nyata. Ombak tinggi yang menghantam kawasan pesisir seperti Pantai Ampenan, Bintaro, Pondok Prasi, dan Mapak membawa bukan hanya basah-basahan, tetapi juga ketakutan, kerusakan rumah, dan tertundanya aktivitas nelayan.

Pada akhir Desember 2025, gelombang setinggi 5–6 meter meluluhlantakkan puluhan rumah di Kampung Bugis, memaksa ratusan warga mengungsi sementara, sekaligus menimbulkan dampak ekonomi yang signifikan bagi komunitas lokal.



Pemerintah Kota Mataram menanggapi dengan cepat, memasang batu boulder sepanjang 280-300 meter di Kampung Bugis, dan mendirikan tanggul darurat dari geobag dengan bantuan Balai Wilayah Sungai (BWS).

Sistem batu boulder yang dilepas berjejer dipilih agar tetap memungkinkan nelayan menurunkan perahu mereka tanpa terhalang. Pendekatan ini, walaupun efektif secara parsial, masih bersifat mitigasi jangka pendek.

Di sisi lain, Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Kota Mataram telah mengusulkan pembangunan pemecah gelombang permanen di Pantai Ampenan dan Bintaro, sebuah infrastruktur yang dirancang untuk menahan gelombang sekaligus melindungi aset publik dan rumah warga dari erosi terus-menerus. Usulan anggaran yang diajukan mencapai ratusan miliar rupiah, menandakan skala permasalahan yang tidak kecil.

Data menunjukkan, sekitar 500 Kepala Keluarga di Ampenan terdampak abrasi, dengan rumah yang berada di sempadan pantai paling rentan. Sementara itu, prediksi BMKG untuk gelombang setinggi 1,25 hingga 2,5 meter pada awal 2026 menambah urgensi langkah mitigasi.

Pemerintah daerah menyadari, selain strategi fisik, kesiapsiagaan masyarakat dan koordinasi antarinstansi menjadi kunci menghadapi bencana tahunan ini.


Inovasi lokal

Penanganan abrasi pantai di Kota Mataram memperlihatkan upaya adaptif yang mengombinasikan pendekatan konvensional dengan inovasi berbasis kearifan lokal.

Di tengah keterbatasan anggaran dan tekanan alam yang terus berulang, pemerintah daerah bersama masyarakat pesisir berusaha mencari solusi yang tidak hanya efektif, tetapi juga berkelanjutan. Struktur pertahanan pantai seperti riprap, boulder, dan geobag masih menjadi pilihan utama untuk meredam energi gelombang.

Namun, metode ini kerap membutuhkan biaya besar dan pemeliharaan jangka panjang, sehingga tidak selalu bisa diterapkan secara masif di seluruh garis pantai.

Dalam konteks itulah muncul inovasi lokal berupa metode ban insang. Menggunakan ban mobil bekas yang dibelah, diikat, lalu disusun menyerupai insang ikan, struktur ini berfungsi menahan pasir yang terbawa arus gelombang.

Seiring waktu, pasir mengendap dan membentuk daratan baru yang bisa dimanfaatkan untuk penanaman mangrove dan pohon waru sebagai penguat alami garis pantai. Lebih dari sekadar pemecah gelombang, tanggul elastis ini juga ramah bagi aktivitas nelayan karena memungkinkan perahu ditambatkan tanpa risiko kerusakan.

Di luar solusi teknis, penataan ruang pesisir menjadi strategi penting dalam mitigasi abrasi. Pemerintah Kota Mataram menyiapkan kawasan kampung nelayan aman di Bintaro seluas 2,3 hektare, lengkap dengan hunian susun sederhana sewa (rusunawa) bagi nelayan terdampak.

Kehadiran pasar ikan bersih di kawasan yang sama turut memperkuat rantai ekonomi nelayan, mempersingkat distribusi hasil tangkapan, dan menekan biaya logistik.

Langkah-langkah tersebut menegaskan bahwa mitigasi abrasi tidak semata soal pembangunan fisik, tetapi juga perencanaan tata ruang yang berpihak pada keselamatan dan keberlanjutan hidup masyarakat pesisir.

Pengalaman Mataram sejalan dengan praktik internasional, khususnya di negara-negara kepulauan, yang menggabungkan infrastruktur keras dengan adaptasi berbasis masyarakat.

Dengan demikian, inovasi lokal seperti ban insang bukan hanya solusi kreatif, melainkan juga sarana edukasi dan pemberdayaan warga dalam menghadapi bencana pesisir yang terus berulang.


Penanganan permanen

Meskipun berbagai langkah mitigasi telah diterapkan, kebutuhan akan solusi permanen tetap mendesak. Pemecah gelombang di Pantai Ampenan dan Bintaro, yang menjorok hingga 400 meter ke laut, bersama riprap sepanjang 700 meter, menjadi upaya jangka panjang untuk menahan abrasi.

Anggaran yang diusulkan mencapai Rp150 miliar, menandai prioritas serius pemerintah pusat dan daerah untuk melindungi garis pantai yang rentan.

Infrastruktur ini, bila terealisasi, akan mengurangi risiko kerusakan rumah dan fasilitas publik, sekaligus memberikan rasa aman bagi pengunjung dan nelayan.

Namun, realisasi proyek besar membutuhkan koordinasi multi-instansi dan kesiapan lahan. Hingga saat ini, Pemkot Mataram masih mengandalkan mitigasi sementara melalui boulder dan geobag, sambil menyiapkan anggaran cadangan sekitar Rp1,2 miliar untuk titik-titik kritis.

Langkah ini mencerminkan pemahaman bahwa mitigasi bencana adalah proses berkelanjutan, bukan sekali jalan. Kesiapsiagaan masyarakat, pelibatan Aparatur Sipil Negara (ASN) dalam gotong royong, dan penguatan posko logistik juga menjadi bagian integral dari strategi keseluruhan.

Selain infrastruktur, edukasi warga dan kampanye kesadaran mitigasi bencana tetap menjadi fokus utama. Masyarakat pesisir perlu memahami karakter gelombang dan rob, serta berpartisipasi aktif dalam menjaga saluran air, menanam vegetasi penahan erosi, dan memanfaatkan inovasi lokal.

Integrasi teknologi, tata ruang yang aman, serta pelibatan masyarakat akan menciptakan sistem yang tidak hanya melindungi fisik pantai, tetapi juga memberdayakan komunitasnya.

Penanganan rob dan abrasi di Mataram merupakan cerminan tantangan global yang dihadapi kawasan pesisir, yakni risiko bencana alam yang berulang, dampak ekonomi bagi masyarakat lokal, dan keterbatasan sumber daya untuk mitigasi permanen.

Solusi yang berhasil adalah kombinasi antara pembangunan fisik yang tepat, inovasi lokal yang kreatif, tata ruang yang adaptif, dan pemberdayaan masyarakat.

Ketika semua unsur ini berjalan seiring, garis pantai Mataram tidak hanya aman dari abrasi dan banjir rob, tetapi juga menjadi contoh bagaimana kolaborasi pemerintah dan masyarakat dapat menghadirkan mitigasi bencana yang berkelanjutan dan manusiawi.



Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Gelombang laut yang tak pernah diam

Pewarta :
Uploader: Aang Sabarudin
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.