
Pedagang daging sapi di Palembang minta pemerintah intervensi harga

Sumatera Selatan (ANTARA) - Sejumlah pedagang daging sapi di pasar tradisional Palembang, Sumatera Selatan, meminta pemerintah daerah setempat mengintervensi pengendalian harga yang hingga kini masih melonjak cukup signifikan.
Pedagang daging sapi di Pasar Tradisional KM5 Palembang Madon, Sabtu, mengatakan harga jual daging sapi segar naik dari Rp115.000 hingga Rp120.000 ribu per kilogram menjadi Rp150.000 per kilogram.
Kondisi lonjakan harga jual daging sapi di kalangan pedagang pasar tradisional itu sudah berlangsung sejak sepekan sebelum Hari Raya Idul Fitri 1443 Hijriyah.
“Kami kira efek lebaran saja tapi ternyata sampai sekarang masih tinggi, jadi mau tidak mau pedagang tetap bertahan dengan harga itu,” kata dia.
Bapak satu orang anak ini mengaku terpaksa menjual daging sapi segar dengan harga tersebut, karena tidak ada pilihan lain untuk menghindari kerugian yang lebih besar.
Di mana akibat tingginya harga tersebut ia pun harus menerima risiko sepinya pembeli, karena pembeli lebih memilih daging sapi beku yang jauh lebih murah dengan harga Rp68.000 per kilogram.
“Perang harga dengan daging frozen (beku), biasanya 20 Kg daging sapi segar dalam setengah hari sudah habis terjual, sekarang paling 5 Kg saja sehari bahkan nyaris tidak ada sama sekali pembeli, kami rugi Rp3 jutaan per hari itu,” kata dia.
Sementara itu, pedagang daging lainnya Acong mengaku, kondisi terparah berlangsung sejak dua pekan terakhir ini sebanyak 250 kilogram daging sapi miliknya terancam rusak karena tidak laku terjual akibat kalah saing dengan daging beku.
Maka dari itu ia berharap, pemerintah bisa bergerak cepat mengendalikan harga daging sapi itu, jika tidak risiko terbesarnya banyak pedagang gulung tikar lebih awal.
“Ada yang potong satu sapi terus dagingnya mereka bagi dua, saya satu sapi utuh 250 Kg beli Rp10 jutaan terancam rusak semua sekalipun dibekukan harganya anjok Rp120 ribu, pembeli kami hanya pelanggan itu pun pedagang bakso/rumah makan kalau masyarakat tidak ada lagi,” kata dia.
Menurutnya, tidak diketahui pasti apa penyebab kondisi tersebut, namun ketidakstabilan harga dengan jumlah pembeli yang berlangsung saat ini sudah tidak normal lagi, dan ini pertama dialaminya selama 13 tahun berdagang daging sapi segar.
“Kami kurang tahu penyebabnya apa, mungkin juga ada kaitannya dengan isu penyakit menular pada sapi yang beredar belakangan ini, tapi, yang pasti ini sudah tidak normal lagi, oleh karena itu mereka minta pemerintah mengintervensi harga tersebut guna menyelesaikan masalah ini secara konkret,” tandasnya.
Pewarta: Muhammad Riezko Bima Elko
Editor: Indra Gultom
COPYRIGHT © ANTARA 2026
