Guru Besar: Hoaks lebih kejam dari pembunuhan

id gubernur aceh,banda aceh,pemerintah aceh,nova iriansyah,covid,safari ramadhan

Guru Besar:  Hoaks lebih kejam dari pembunuhan

Guru besar UIN Ar Raniry, Syahrizal Abbas

Banda Aceh (ANTARA) - Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Ar Raniry Prof Syahrizal Abbas menyatakan kegiatan menyebar informasi bohong atau fitnah (hoaks) merupakan suatu  perbuatan yang lebih kejam dari pembunuhan.

“Ajaran agama maupun hukum negara melarang penyebaran informasi bohong maupun fitnah, sebab fitnah itu dampaknya berbahaya sekali. Dalam Alquran mengatakan bahwa Fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan,” kata Syahrizal Abbas di Takengon, Sabtu malam.

Ia menjelaskan ciri orang muttaqin lainnya adalah orang yang saat mendapatkan informasi, dia akan selalu melakukan pemeriksa kembali kebenarannya.

“Orang yang berpuasa ketika mendapat informasi dari mana saja maka orang tersebut akan memeriksa, dia akan mengecek ulang dari mana informasi itu, betulkan informasi itu? Kalau tidak jangan sebarkan kepada orang lain, karena risiko itu besar. Fitnah itu besar sekali dampaknya,” kata Prof Syahrizal.

Menurutnya, sejarah telah membuktikan betapa berbahaya pengaruh informasi bohong.

Prof Syahrizal menuturkan, di banyak peperangan yang dilakukan oleh Rasulullah tentu ada yang menang dan ada juga yang kalah. Salah satu faktor kekalahan karena munculnya informasi bohong seperti peristiwa Perang Uhud.

Karena itu, ia berharap ketika mendapat informasi mengenai COVID-19 mengenai masker, harus dilakukan pengecekan ulang untuk memastikan kebenaran informasi tersebut.

“Mengenai COVID-19 itu fakta, bukan hanya di tempat kita, bahkan di dunia internasional secara kasat mata kita melihat bahwa itu ada dan risikonya sudah banyak orang yang meninggal dunia,” katanya.

Menurut dia Gerakan BEREH (bersih, rapi, estetika, dan hijau) dan penerapan protokol kesehatan dapat mencegah penularan COVID-19, karena kewajiban setiap orang berpuasa itu untuk berikhtiar agar tidak terkena COVID-19.

Pewarta :
Editor: Indra Gultom
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar