Trump-Kim Jong Un: Cuitan, Jabat Tangan dan "Rangkaian Harapan"

id Trump,Kim Jong Un,Korut,DMZ,Nuklir,Semenanjung Korea

Trump-Kim Jong Un: Cuitan, Jabat Tangan dan "Rangkaian Harapan"

Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in terlihat di zona demiliterisasi (DMZ) yang memisahkan dua Korea, di Panmunjom, Korea Selatan, dalam gambar yang diambil dari video Minggu (30/6/2019). SouthKoreanPool/via REUTERS TV/hp/cfo (REUTERS/REUTERS TV)

....Saya tidak pernah berharap bertemu dengan Anda di tempatnya,,,,
Panmunjon (ANTARA) - Presiden Amerika Serikat Donald Trump melakukan langkah bersejarah ke Korea Utara pada Minggu, mengingatkan publik akan kepiawaiannya sebagai seorang bintang televisi.

Ia memberi kejutan pada dunia saat melakukan pertemuan dengan Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un di Zona Demiliterisasi (DMZ) yang membelah kedua Korea.

Drama pertemuan itu diperbesar dengan pemilihan desa gencatan senjata Panmunjom sebagai tempat pertemuannya dengan Kim, di mana 66 tahun yang lalu prajurit Amerika Serikat dan Korea Utara berkerumun untuk menyusun Garis Demarkasi Militer setelah perang 1950-1953 yang pahit.

"Melintasi garis itu merupakan kehormatan besar," kata Trump ketika dia duduk bersama Kim, di tengah-tengah suasana kacau saat wartawan AS dan Korea Utara berdesak-desakan berebut mengabadikan momen bersejarah itu sementara para pengawal presiden berusaha menahan mereka.

Sebelumnya pada hari itu, Trump mengadakan pertemuan dan makan siang dengan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in di Kantor Presiden Korea Selatan, Gedung Biru, di Seoul. Kemudian, keduanya mengonfirmasi bahwa pertemuan dengan Kim memang akan terjadi.

"Presiden Trump memberi harapan besar kepada dunia melalui cuitannya kemarin," kata Moon. "Melihat cuitan itu, saya merasa bunga-bunga harapan bermekaran di Semenanjung Korea."

Trump mencuitkan undangan pada Sabtu, meminta Kim bergabung dengannya saat ia melakukan tur di DMZ. Pertemuan yang katanya mungkin hanya akan berlangsung selama beberapa menit untuk jabat tangan simbolis melintasi garis.

Gagasan spontan itu rupanya mengejutkan Kim, tetapi ia cepat membalas.

Trump melangkah sebentar melewati penghalang beton yang membelah Semenanjung Korea sebelum membawa Kim ke Freedom House di sisi selatan untuk melakukan pertemuan selama satu jam.

Mereka sepakat untuk membentuk tim yang akan mengatasi tantangan guna menjawab perbedaan mendasar antara kedua negara yang menyebabkan gagalnya pertemuan puncak kedua mereka pada Februari di ibu kota Vietnam, Hanoi.

Trump, yang membintangi sebuah acara televisi realitas populer sebelum dia mencalonkan diri untuk jabatan presiden, terus mengatakan dia tidak yakin apakah pertemuan itu akan terjadi, seraya memberikan wartawan yang bepergian bersamanya pembaruan rutin sementara mencatat logistik dan keamanan yang sulit.

Setelah Trump tiba di DMZ, ia melihat Korea Utara dari sudut pandang Pos Observasi Ouellette sementara bendera Amerika Serikat, Korea Selatan dan PBB berkibar akibat angin yang kencang.

Melintas Garis

Kemudian, Trump berjalan perlahan dari Freedom House di sisi Korea Selatan dari desa perbatasan untuk bertemu dengan pemimpin Korea Utara yang mendekati blok beton yang berfungsi sebagai garis demarkasi militer dari sisi lain.

"Saya tidak pernah berharap bertemu dengan Anda di tempatnya," kata Kim. Para pemimpin berjabat tangan dan Kim tertawa terbahak-bahak.

"Apakah Anda ingin saya melewati batas?" Trump bertanya pada Kim saat mereka berbincang-bincang. "Dia berkata, 'Saya akan merasa terhormat.'"

Kekacauan saat wartawan dan para pengawal presiden saling bertabrakan menyoroti betapa sedikit perencanaan telah dibuat untuk terlaksananya pertemuan itu atau dengan kata lain pertemuan itu dengan tergesa-gesa diatur.

Namun kedua pemimpin itu tidak menyadari kebingungan para pengawal mereka dan wartawan ketika mereka bertukar undangan untuk mengunjungi ibu kota masing-masing.

"Saya akan mengundangnya sekarang, ke Gedung Putih," kata Trump. Kim memberi tahu Trump bahwa ia akan disambut di Pyongyang.

Para kritikus mempertanyakan apakah Trump telah memperoleh keuntungan substantif dari pertemanannya dan khawatir bahwa keinginannya untuk berbicara dengan orang-orang kuat justru memberikan legitimasi bagi mereka.

Persahabatannya yang tidak biasa dengan Kim telah menjadi sorotan. Di masa lalu Trump pernah mengancam dengan "api dan amarah" - tetapi sekarang bertukar "surat-surat indah" secara teratur dengan Kim.

Bahkan ketika Trump menikmati pertemuan itu, dia tidak bisa menyembunyikan kebenciannya kepada media dan lembaga kebijakan luar negeri yang dia percaya tidak memberinya kredit yang cukup pada pekerjaannya untuk mengekang ambisi nuklir Pyongyang.

Trump membalas para kritikus dengan mengatakan bahwa ketegangan telah mereda untuk warga Korea dan Jepang dan itu adalah sikap yang "menghina" dengan menyebut tidak ada kemajuan.
Sumber: Reuters
Pewarta :
Editor: Indra Gultom
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar