Menyusuri malam di Palu usai gempa

id gempa,gempa palu,TNI,PLN,listrik,polhukam

Personel TNI dan Polri berjaga di depan sebuah pusat perbelaanjan di Palu, Sulawesi Tengah, Selasa (2/10/2018) malam. Pusat perbelanjaan, bank dan pertokoan di Palu mendapatkan penjagaan untuk mengantisipasi penjarahan oleh warga pascagempa dan tsunami yang melanda Palu dan Donggala. (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)

Palu (ANTARA News Sumsel) - "Seperti kota mati," demikian kata orang-orang tentang Kota Palu setelah gempa 7,4 pada Skala Richter memporakporandakan ibu kota Provinsi Sulawesi Tengah itu pada 28 September 2018.

Kota yang sebelumnya dinamis menjadi lumpuh total setelah guncangan bumi membelah tanah dan merobohkan bangunannya, dan gelombang air laut menyapu semua yang berdiri di hadapannya.

Setelah bencana Jumat malam yang menewaskan seribu lebih orang dan membuat bangunan-bangunannya rusak, malam Palu yang gelap gulita makin mencekam dengan banyaknya jenazah korban yang belum berhasil dievakuasi dari reruntuhan gedung, timbunan lumpur, atau bangunan yang terbakar.

Titik terang mulai datang pada Rabu (3/10) malam, ketika lampu listrik mulai menerangi jalan raya dan sebagian fasilitas umum.

Direktur PLN Regional Sulawesi Syamsul Huda mengatakan empat sampai lima hari pascagempa 30 persen sistem kelistrikan Palu bisa dipulihkan. Ruas Jalan Basuki Rahmat yang terhubung hingga ke Bandara Mutiara SIS Al Jufri pun mulai terang, menunjukkan gambar papan-papan reklame yang masih berdiri di tepi jalan dan bangunan sekitarnya.

Gerobak dorong pedagang yang menjajakan makanan seperti kue terang bulan dan martabak mulai beroperasi. Satu dua warung makan tenda mulai buka.

Lampu lalulintas di bilangan Basuki Rahmat - I Gusti Ngurah Rai dan Emi Saelan juga sudah berfungsi baik meski masih banyak pengendara yang menerobosnya.

Jalan Emi Saelan yang juga terhubung dengan Jalan Basuki Rahmat juga sudah mulai bersinar. Dari selatan ke utara, lampu jalannya sudah menyinari aspal, memperlihatkan tenda-tenda yang dibangun warga di depan rumah.

Di dalam asrama tentara Raksatama 711 Korem 132 Tadulako Jalan Emi Saelan, tenda-tenda pengungsi tampak padat. Beberapa kendaraan pribadi keluar masuk dari tempat yang dijaga ketat prajurit TNI itu. Namun lalu lintas kendaraan di jalur itu sepi, tidak padat merayap seperti biasanya.

Sementara restoran siap saji Pizza Hut dan Mal Tatura Palu yang sebelum bencana setiap malam selalu ramai, kini sepi dan mencekam. Bau busuk mulai menyeruak di sekitar Mal Tatura. Mal pertama di Kota Palu yang dibangun atas prakarsa pemerintah kota itu rusak total. Bagian depan, samping dan belakangnya tampak compang camping.

Hanya ada penerangan kecil bagi aparat kepolisian yang mengamankan pusat perbelanjaan modern berlantai empat itu.

Saat gempa seluruh material yang jatuh dari bangunan ini menimpa kendaraan yang terparkir di bawahnya. Belum diketahui jumlah pengunjung dan karyawan yang terjebak di dalam gedung mal milik badan usaha milik daerah Kota Palu itu.

Pusat niaga senyap

Kawasan Jalan Monginsidi yang merupakan pusat perniagan elektronik dan otomotif serta tempat operasi apotek dan dokter praktik sebelum gempa kanan kirinya selalu penuh dengan kendaraan yang diparkir. Setelah gempa jalanan ini lengang. Ruko-ruko ditinggal pergi para pemiliknya mengungsi entah kemana.

Setelah lima malam gelap gulita, jalanan ini mulai diterangi lampu listrik pada malam keenam setelah gempa. Namun hanya beberapa kendaraan saja yang lewat.

Bundaran hutan taman nasional yang dilewati kendaraan dari Jalan Monginsidi menuju pusat perbelanjaan Hasanuddin juga mulai bercahaya.

Sementara di Kompleks Pertokoan Hasanuddin suasana kota mati masih sangat terasa. Ruas jalannya masih gelap, demikian pula jejeran toko-tokonya. Jauh berbeda dengan Gedung BNI Cabang Palu, yang masih dalam satu bagian dari pertokoan Hasanuddin. Gedung BNI malam itu menyalakan seluruh lampu di luar gedung. Anjungan tunai mandirinya ramai karena banyak warga yang antre setelah beberapa hari tanpa pelayanan.

Di depan Gedung BNI ada pusat perbelanjaan modern Trans Mart, yang menggunakan mesin generator untuk menyalakan sebagian lampu di dalam gedung. Dari luar terlihat bagian dalam toko yang berantakan. Kabel-kabel menggelantung tidak beraturan di gedung yang tidak mengalami kerusakan berat itu.

Bergeser sedikit ke arah timur, tampak ratusan kendaraan terparkir. Pemiliknya sedang menggunakan Internet di dalam area Telkom.

Namun beberapa meter setelah kompleks Telkom, Kantor DPRD, Taman GOR, rumah jabatan gubernur dan Hotel Santika, masih diliputi kegelapan.

Mesti tidak roboh, Hotel Santika tidak dapat beroperasi lagi karena sebagian eksterior dan interiornya rusak parah. Beberapa dindingnya jebol.

Bangunan-bangunan penanda lain di pusat Kota Palu kini menjadi bisu dalam gelap.

 
Pewarta :
Editor: Erwin Matondang
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar