Angka Sepsis di Indonesia masih tinggi

id sepsi,gagal organ,medis,dokter,Dokter Intensive Care Indonesia,PERDiCI,infeksi,sumsel,viral

Pertemuan tahunan 9th Annual Meeting of Indonesia Society of Intensive Care Medicine (ISICM) in Conjunction with 6th World Sepsis Day Tahun 2018 di Palembang, Kamis (13/9). (ANTARA News Sumsel/Aziz Munajar/Erwin Matondang/18)

Palembang (ANTARA News Sumsel) - Sepsis atau kegagalan organ yang mengancam nyawa karena gangguan respons tubuh terhadap infeksi dimana kuman menyebar di pembuluh darah hingga menyebabkan kematian, ternyata jumlah kasusnya masih tinggi di Indonesia. 

Ketua Perhimpunam Dokter Intensive Care Indonesia (PERDiCI) Dr. Ike Sri Rejeki pada forum 9th Annual Meeting of Indonesia Society of Intensive Care Medicine (ISICM) in Conjunction with 6th World Sepsis Day Tahun 2018 di Palembang mengatakan jumlah kematian pasien akibat Sepsis 50 - 70 persen. 

"Di Indonesia kisaranya 50 - 70 persen, jadi dari 10 pasien, 5 sampai 7 meninggal dunia karena kondisi yang kompleks hingga menyebabkan sepsis, kalau secara keseluruhan di dunia angkanya  25 persen," ujar Ike Sri Rejeki, Kamis (13/9)

Menurutnya faktor pemicu terjadinya Sepsis berasal dari kebersihan dan sterilisasi saat pasien mendapat perawatan, untuk menekan angka kematian tersebut perlu diperbanyak kampanye serta edukasi kepada dokter-dokter intensive care di ruang Intensive Care Unit (ICU). 

Misalnya kampanye cuci tangan yang bersih, awalnya gerakan cuci tangan hanya diharuskan untuk kalangan tenaga medis, namun belakangan elemen masyarakat juga diminta melakukannya dengan alasan menjaga tubuh dari kuman adalah langkah mencegah sepsis. 

Contoh lainnya kampanye proses persalinan yang baik, benar, bersih, dan steril, lalu penyediaan MCK harus terjaga kebersihannya sehingga tidak bisa disepelekan, kemudian upaya memberi kekebalan tubuh lewat imunisasi/vaksinasi kepada anak tak kalah penting diperhatikan. 

Di sisi lain faktor kondisi pasien yang kompleks ikut mempengaruhi timbulnya Sepsis, tetapi teknologi alat di ruang ICU sudah mendukung penanganan pasien, pihaknya mengklaim teknologi ruang ICU di Indonesia sudah banyak yang modern, hanya saja belum merata. 

"Kampanye cuci tangan, persalinan, MCK, dan imunisasi merupakan upaya preventif atau pencegahan, setidaknya cara-cara simpel itu bisa mengurangi terjadinya sepsis sembari kami terus menambah tenaga dokter intensive care di Indonesia, untuk menekan angka kematian," ungkap Dr. Ike Sri Rejeki. 

Berdasarkan data pihaknya, jumlah dokter intensive care di bawah PERDICI terdapat 269 orang dan banyak terpusat di Pulau Jawa, padahal idealnya harus ada 1.000 - 2.000 dokter intensive care merata ke seluruh Indonesia dengan hitungannya satu rumah sakit minimal memiliki 2 - 3 dokter IC. 

Pihaknya sendiri mengakui masih butuh kerja keras untuk melahirkan dokter intensive care ke depan dengan peningkatan kualitas pendidikan calon dokter serta lebih banyak menghadirkan forum-forum diskusi seperti pertemuan tahunan di Palembang 11-17 September 2018 yang tengah berlangsung dan dihadiri 700 dokter berbagai spesialis seluruh Indonesia. 

Pertemuan tahunan tersebut juga untuk memperingati Hari Sepsis Dunia ke 6 tepat jatuh pada 13 September, sebagai momen bagi seluruh warga dunia bersatu melawan Sepsis yang sangat sulit ditangani,  setidaknya Sepsis telah menyebabkan 8 juta kematian di seluruh dunia setiap tahunya..

Sepsis dapat terjadi pada semua orang dan segala usia yang mengalami infeksi, tetapi ada beberapa kelompok orang yang memiliki risiko lebih tinggi, yakni bayi, anak-anak, serta manula.

Kemudian Pengidap penyakit jangka panjang seperti gagal ginjal, diabetes, orang dengan sistem kekebalan tubuh lemah, seperti pengidap kanker yang menjalani kemoterapi atau pengidap HIV, hingga ibu hamil. 

Lalu pengidap penyakit parah dan sering dirawat di rumah sakit, orang yang memiliki luka, contohnya luka bekas operasi, serta orang yang menggunakan alat-alat medis, misalnya kateter ataupun alat bantu pernapasan.

 
Pewarta :
Editor: Erwin Matondang
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar