Logo Header Antaranews Sumsel

Pemaksimalan EBT bisa turunkan konsumsi BBM

Senin, 25 Desember 2017 12:15 WIB
Image Print
Layanan Mobile SPBU Pertamina Anggota Satuan Tugas (Satgas) BBM mengisi BBM jenis Pertamax pada mobil milik pemudik dengan menggunakan Mobile SPBU di Jalan Tol Sumatra ruas Palembang-Indralaya, Ogan Ilir (OI), Sumatra Selatan, Selasa (20/6). Dalam me

Jakarta (Antaranews Sumsel) - Upaya Pemerintah dalam mencapai target pengembangan energi baru terbarukan (EBT) serta terserap maksimal berdampak pada penurunan presentase bahan bakar minyak (BBM) dalam pemakaian energi primer untuk pembangkit.

Dari hasil data monitoring yang diterima Antara di Jakarta, Minggu, di mana dilakukan oleh tim Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tercatat porsi bauran energi primer triwulan 3 tahun 2017 untuk BBM adalah 6,06 persen, dari yang sebelumnya pada periode yang sama di tahun 2016 mencatatkan angka 7,10 persen.

Angka tersebut sudah termasuk Bahan Bakar Nabati (BBN) sebagai campuran BBM, yang memberikan porsi 0,42 persen terhadap total bauran energi primer pembangkit.

Bila dibandingkan dengan tiga tahun lalu, porsi BBM pada bauran energi primer pembangkit 2014 adalah 11,81 persen, sementara untuk EBT 11,21 persen. Bahkan, penggunaan BBM untuk bahan bakar pembangkit ini sempat mendominasi hingga 36 persen di tahun 2008.

Presentase tersebut dihitung berdasar realisasi produksi listrik yang dihasilkan oleh tiap energi primer yang terdiri dari BBM (ditambah BBN), gas, batu bara, dan EBT. Total, hingga triwulan ketiga telah dihasilkan listrik sebesar 186.699 Giga Watt hour (GWh) baik dari PLN maupun IPP (Independent Power Producer).

Adapun volume BBM untuk pembangkit PLN hingga triwulan ketiga ini mencapai 2,54 juta kilo Liter (kL) atau setara untuk memproduksi listrik sebesar 8.976 GWh. Di sisi lain, porsi EBT dalam bauran pembangkit ini meningkat cukup signifikan dibanding tahun sebelumnya. Energi hydro, panas bumi dan EBT lainnya, tercatat menyumbangkan porsi 12,51 persen, meningkat dari tahun 2016 dan lebih tinggi dari yang ditargetkan dalam APBN-P 2017 (11,96 persen).

Laporan juga mencatatkan realisasi produksi listrik dari pembangkit EBT, dimana produksi pembangkit listrik tenaga air (PLTA) telah mencapai 13.593 GWh, pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) 9.324 GWh, dan pembangkit EBT lainnya 456 GWh.



Pewarta:
Uploader: Aang Sabarudin
COPYRIGHT © ANTARA 2026