Menjadi laki-laki feminis

id feminis, laki-laki, pria, budaya patriarki, kesetaraan perempuan, mengurusi rumah, perubahan radikal, budaya barat

Ilustrasi (Ist)

....Banyak laki-laki yang merasa mendapat keuntungan dengan memiliki hubungan yang setara dengan pasangannya karena dapat memiliki gaya hidup yang lebih baik....
Jakarta (Antarasumsel.com) - Unggahan istri Perdana Menteri Kanada Sophie Trudeau pada Hari Perempuan Internasional di media sosial menjadi kontroversial.

Ia mengunggah foto dirinya bergandengan dengan suaminya Justin Trudeau disertai ajakan merayakan Hari Perempuan Internasional dengan rasa syukur pada sosok lelaki yang ada di dalam hidup perempuan.

Sophie juga mengajak para perempuan mengunggah foto dengan laki-laki untuk menginspirasi lebih banyak laki-laki bergabung mendukung kesetaraan gender.

Meskipun foto romantis dengan suaminya yang menyatakan diri sebagai sorang feminis itu mendapat 13 ribu tanda jempol, ribuan lainnya berkomentar mengenai ketidakpekaan Sophie yang justru mengajak merayakan laki-laki di satu-satunya hari untuk perempuan.

Sebagian berkomentar mengenai kuatnya budaya patriarki yang harus digoncang dengan perjuangan perempuan sendiri, bukan hadiah dari laki-laki.

Apakah alasan itu bisa menjadi pembenaran tidak mengikutsertakan laki-laki dalam perjuangan mencapai kesetaraan?
Duta Besar Kanada untuk Indonesia Peter MacArthur dalam perayaan Hari Perempuan Internasional di Jakarta, Rabu (8/3), menyebut kesetaraan yang lebih luas berakibat pada peran laki-laki dalam keluarga untuk mengurangi masalah perilaku anak laki-laki dan mengurangi tingkat kenakalan saat beranjak dewasa.

Di Kanada, terdapat perubahan laki-laki lebih banyak merawat anak-anak dan punya tugas mengurusi rumah, tetapi pembagian peran tersebut memang membutuhkan waktu, tergantung pada budaya negara.

Selain itu, semakin banyak laki-laki yang merasa mendapat keuntungan dengan memiliki hubungan yang setara dengan pasangannya karena dapat memiliki gaya hidup yang lebih baik.

Kesetaraan gender dalam keluarga menurunkan angka perceraian dan depresi, membuat lebih bahagia serta meningkatkan standar hidup yang lebih baik, misalnya dalam kasus istri dan suami bekerja.

"Banyak perempuan yang berpenghasilan lebih dan laki-laki tidak peduli. Yang kami pikirkan ekonomi keluarga yang lebih baik dengan tambahan pemasukan dan perhatian," kata dia.

Melihat ibu yang bebas bekerja dan dukungan pemerintah memperbolehkan libur saat akan melahirkan, menurut dia, membuat anak laki-laki memahami salah satu nilai kesetaraan gender.

"Butuh waktu karena itu perubahan generasi. Saat orang tuaku tumbuh, keluarganya besar. Para ibu tidak bekerja dan kondisi miskin membuat ibu-ibu mulai bekerja. Butuh puluhan tahun untuk berubah," tutur dia.

Ia berpendapat setiap negara bergerak dalam kecepatan berbeda, tetapi yang pasti banyak negara bergerak untuk mencapai tujuan dari pembangunan berkelanjutan (SDGs) dengan adanya kesetaraan untuk perempuan.

Kesetaraan gender berupa perlakuan yang adil pada perempuan dalam bidang ekonomi dan sosial membawa hal positif untuk masyarakat, ekonomi serta keluarga.

"Kami percaya perempuan yang berada dalam lingkungan yang menjunjung kesetaraan akan berdampak pada pemerintahan dan bisnis yang lebih baik," tutur Dubes MacArthur.

    
    Feminisme tidak terbatas jenis kelamin
Setali tiga uang, Direktur Eksekutif Yayasan Jurnal Perempuan Gadis Arivia menegaskan pentingnya melibatkan laki-laki dalam kesetaraan gender untuk mengubah paradigma masyarakat yang lebih luas.

"Mereka harus dilibatkan, tanpa mereka tidak bisa mengubah masyarakat, jadi harus berperan," ujar Gadis saat berbincang dengan Antara.

Feminisme tidak berhubungan dengan jenis kelamin, melainkan perspektif mengenai kesetaraan peran dalam berbagai bidang.

Gadis menilai meski masyarakat Indonesia sudah modern, sebagian besar masih terikat tradisi menomorduakan perempuan. Keluarga memiliki kebanggaan pada anak laki-laki, sementara tidak ada keistimewaan pada anak perempuan.

Tradisi yang diterapkan dalam keluarga mempengaruhi laki-laki menjadi merasa nomor satu. Hal tersebut dibawa hingga dewasa dan saat menikah tidak memposisikan perempuan sebagai rekan dengan peran setara.

"Lingkaran ini terus berjalan karena melihat contoh dalam keluarga. Memang perlu perubahan radikal," ucap Gadis.

Menurut dia, budaya memang menentukan pandangan seseorang mengenai kesetaraan gender, tetapi siapa pun bisa mengubah suatu perspektif dengan kreativitas untuk kondisi yang lebih baik.

"Pemikiran baru bisa membuat budaya baru, kita tidak harus mereplikasi budaya, meskipun banyak yang dipertahankan, tetapi unsur pelecehan dan ketidaksetaraan bisa dibuang," kata dia.

Meski pendidikan mengenai kesetaraan gender dalam kehidupan sehari-hari masih kurang dan media populer seperti film belum menampilkan contoh, Gadis mengaku melihat harapan yang lebih baik pada generasi muda.

Dengan bantuan internet untuk mengetahui informasi-informasi peran dan gender, generasi muda dapat melihat pentingnya menghargai perempuan, walaupun diperlukan proses panjang untuk memutus lingkaran.

"Laki-laki harus mendukung. Ingat akan punya anak perempuan, akankah nanti tumbuh dalam lingkungan berkeadilan, itu pilihan laki-laki mulai dari sekarang," ujar dia.
    

    Benarkah pandangan generasi muda menunjukkan harapan?
Salah seorang lelaki muda, Tesla Manaf (29) mengutarakan pandangannya mengenai kesetaraan gender. Menurut gitaris yang sudah "go internasional" itu, tidak ada kesetaraan antara laki-laki dan perempuan.

"Laki-laki dan perempuan tidak bisa disamakan, perempuan selalu lebih superior dari laki-laki, selalu lebih di depan daripada laki-laki. Mereka memberikan segalanya," kata dia.

Ia mengaku tidak setuju dengan paham perempuan harus di dapur dan bersih-bersih rumah. Perubahan gaya hidup laki-laki lebih mau membantu "pekerjaan" perempuan dirasanya harus terjadi sejak zaman dulu.

Hal-hal tersebut menurut dia fundamental untuk dilakukan sendiri, oleh laki-laki maupun perempuan.

"Tanpa ada isu kesetaraan gender harus dilakukan laki-laki. Kalau pulang melihat rumah kotor masa harus menunggu istri untuk bersih-bersih, baru nyuruh-nyuruh. Hal seperti itu dilakukan semua manusia, tidak harus berdasar gender," ucap musisi jazz komtemporer itu.

Terkait perempuan bekerja, ia tidak melihat adanya masalah, hanya tergantung pada manajemen waktu.

Untuk musisi yang lebih sering tinggal di rumah, Tesla justru lebih suka melihat perempuan yang lebih aktif, baik di rumah atau di luar rumah.

Perempuan yang aktif, kata dia, menunjukkan kreativitasnya sehingga ia lebih suka melihat perempuan yang sibuk dan aktif.

"Masalah bertemu atau waktu mengurus anak tergantung manajemen waktu saja, dengan komunikasi yang bagus tidak ada masalah," ucap dia.

Menurut dia, perempuan patut melakukan hal-hal yang mereka senangi, baik itu mengejar karier atau sekadar menjadi ibu rumah tangga itu harus atas dasar keinginannya.

"Apa pun yang mereka lakukan, mereka patut melakukan apa yang mereka sukai," kata Tesla.

Bukankah pandangan itu sesuai untuk memulai generasi baru yang peduli kesetaraan gender?
Pewarta :
Editor: Ujang
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar