Masjid Imaduddin, oase di lintas barat Sumatera

id Masjid Imaduddin, tanggamus, Lampung, Lintas Barat Sumatera, pelintas, berarsitektur rumah tradisional, kubah kecil, imam masjid

Masjid Imaduddin, Kabupaten Tanggamus, Lampung. (2017) (Atman Ahdiat)

....Mesjid memang sengaja dibangun di lokasi ini mengingat banyaknya pelintas yang membutuhkan tempat istirahat dan sekaligus beribadah....
Kelelahan yang mendera setelah melakukan perjalanan panjang dari Jakarta menuju Padang,Sumatera Barat menjadi terobati saat berhenti dan mampir di komplek Masjid Imaduddin, Kabupaten Tanggamus, Lampung.

Ibarat perjalanan menempuh padang pasir yang kering kerontang, keberadaan Masjid Imaduddin bagaikan oase bagi para pelintas yang menempuh Lintas Barat Sumatera yang membentang sepanjang lebih kurang 1000 km dari Bengkunat, Lampung) sampai Kota Padang.

Dilihat sepintas, sebenarnya tidak ada yang istimewa dengan masjid yang berarsitektur rumah tradisional Lampung itu. Yang membedakan hanyalah adanya kubah kecil di puncak bangunan dengan atap berwarna merah bata itu.

Memasuki kompleks masjid dengan lahan parkir yang luas dan bersih, pengunjung disambut dengan keramahan pengurus maupun sesama pengunjung yang juga sedang beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan panjang.

"Silakan istirahat dulu. Kalau mau mandi di belakang ada kamar mandi," kata Pak Anas, imam masjid dengan ramah dan bersahabat. Pria berjenggot berusia sekitar 50-an tahun itu seolah mengerti kebutuhan pengunjung yang ingin melepas penat dan sekaligus menjalankan ibadah sholat.

Di pelataran depan masjid, di atas meja sudah tersedia termos air panas, kopi dan gula. Para pengunjung pun dipersilahkan menikmatinya secara gratis. Sambil istirahat, pengunjung juga bisa mengecas telepon selular sebagai persiapan sebelum sebelum melanjutkan perjalanan.

Subhan Adnan, yang mengaku warga Cakung, Jakarta dan hendak menuju kampung halamannya di Bukittinggi, Sumbar bersama empat anggota keluarga keluarga, tampak menikmati kopi dan teh sambil lesehan.

Di samping masjid, juga terdapat sebuah kolam dengan ukuran sekitar 100m persegi. Beberapa orang anak laki-laki terdengar berteriak kegirangan sambil bermain air.

Sumber air yang melimpah dan berasal dari kaki pegunungan membuat bak kamar mandi tidak pernah berhenti mengalirkan air segar, meski saat musik kemarau sekalipun.

"Saya belum pernah menemukan tempat istirahat senyaman ini. Rasanya semangat dan energi saya bangkit lagi untuk melanjutkan perjalanan jauh," kata Subhan, jebolan Fakultas Ekonomi Universitas Andalas itu.

Menurut Pak Anas yang didampingi rekannya Abdullah, masjid yang dibangun pada 2008 tersebut sebenarnya sudah dikenal oleh para pelintas jalur barat Sumatera dan menjadi tempat favorit untuk istirahat, terutama saat mudik Lebaran.

Beberapa di antara para pelintas tersebut sudah menjadwalkan singgah di Mesjid Imaduddin dan membawa oleh-oleh untuk Pak Anas dan pengurus mesjid. Hubungan persaudaraan pun terjalin di antara mereka.

"Pada bulan puasa, terutama seminggu menjelang Lebaran, mesjid ini penuh oleh pengunjung yang akan pulang kampung," kata Pak Anas.

Masjid Imaduddin yang dibangun sebagai program dari Gubernur Lampung Syachroedin ZP ketika itu, terletak di Pekon Way Kerap, Kecamatan Semaka, Kabupaten Tanggamus. Berlokasi persis di kaki pegunungan Bukit Barisan Selatan, tepatnya di tikungan jalan ke arah pekon Way Kerap atau sebelum tanjakan Sedayu.

Dari arah Kota Agung ke Bengkunat, masjid ini terletak di sebelah kanan jalan, setelah melewati jembatan Semaka atau Polsek Semaka. Komplek masjid itu merupakan titik terakhir yang ada penduduknya sebelum menembus hutan belantara yang sama sekali tidak ada pemukiman sepanjang sekitar 100km.

Pak Anas mengisahkan bahwa mesjid tersebut merupakan hasil dari program Satu Kabupaten Satu Mesjid dari Pemerintah Provinsi Lampung dengan dana awal Rp300 juta.

Dari dana tersebut, berdirilah mesjid Imaduddin seluas 200m persegi di lahan seluas 500m yang sampai pada pembangunan tahap akhir telah menghabiskan biaya hampir Rp1 miliar.

"Mesjid memang sengaja dibangun di lokasi ini mengingat banyaknya pelintas yang membutuhkan tempat istirahat dan sekaligus beribadah," kata Anas yang mengaku berasal dari Bandar Lampung.

Banyaknya tamu yang berkunjung silih berganti tanpa kenal waktu membuat pengurus memberlakukan tugas bergilir selama 24 jam, terutama petugas kebersihan.

Honor untuk petugas kebersihan serta biaya untuk menyediakan kopi, teh dan gula berasal dari donatur tetap serta sumbangan yang diberikan oleh pengunjung.
Pewarta :
Editor: Ujang
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar