Logo Header Antaranews Sumsel

Sektor perikanan Sumsel lemah manfaatkan teknologi

Rabu, 27 April 2016 18:04 WIB
Image Print
Ilustrasi - Seorang pedagang ikan gabus membersihkan ikan yang akan digiling di pasar tradisional Cinde, Palembang, Senin (1/6). (ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/15/Den)
....Selama ini sebatas dikonsumsi langsung....

Palembang (ANTARA Sumsel) - Sektor perikanan Sumatera Selatan masih lemah dalam pemanfaatan teknologi sehingga sebatas memproduksi ikan segar dari perairan tangkap seluas 2,5 juta hektare.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Dinas Perikanan dan Kelautan Sumatera Selatan Galamda di Palembang, Rabu, mengatakan, dari hasil perikanan tangkap terbilang sudah cukup baik yakni sekitar 98 ribu ton/tahun tapi disayangkan masih sedikit diversifikasi produknya.

"Selama ini sebatas dikonsumsi langsung. Jika pun ada hanya berubah sedikit, misalnya jadi ikan asap, nungget ikan, ikan asin, dan lainnya. Hingga kini belum ada suatu produk yang benar-benar memanfaatkan teknologi seperti produk ikan kaleng," kata dia.

Untuk itu DKP bekerja sama dengan Balai Penelitian dan Pengembangan Inovasi Daerah untuk meneliti beragam produk turunan ikan, seperti patin kaleng.

Ikan patin dipandang cukup berpontensi karena Sumsel memproduksi sekitar 250.000 ton per tahun atau menjadi penyuplai kebutuhan nasional setelah beberapa provinsi di Kalimantan.

"Rencananya produk ikan patin kaleng ini yang akan menjadi produk hilirisasi perikanan Sumsel dengan target sudah menembus pasar pada 2017," kata dia.

Sumsel memiliki luas perikanan umum dan daratan terluas di Indonesia yakni mencapai 2,5 juta hektare, meliputi Sungai Musi beserta anak sungai, rawa, dan danau.

Kemudian, luas perikanan ini belum ditambah dengan luas perikanan budidaya, seperti tambak dan kolam.

Volume ekspor produk kelautan dan perikanan Sumsel mencapai 1,65 juta ton pada 2014, dan ditargetkan meningkat hingga 1,67 juta ton pada 2015. Sementara nilai ekspor mencapai 14,46 juta dolar pada 2015, dan ditargetkan meningkat menjadi 15 juta dolar pada 2016.



Pewarta:
Editor: Ujang
COPYRIGHT © ANTARA 2026