Logo Header Antaranews Sumsel

BRI putuskan bunga kredit UKM 9,75 persen

Jumat, 22 April 2016 20:56 WIB
Image Print
Bank BRI (Antarasumsel.com/Grafis/Aw)

Jakarta (ANTARA Sumsel) - Perseroan Terbatas Bank Rakyat Indonesia Tbk memutuskan memangkas suku bunga kredit usaha kecil dan menengah sebesar 300 basis poin menjadi 9,75 persen dari 12,75 persen yang mulai berlaku 1 Mei 2016.

Wakil Direktur Utama BRI Sunarso dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat petang, mengatakan penurunan itu akibat indikator makro yang mencerminkan daya beli masyarakat seperti inflasi kian terjaga, potensi membaiknya likuiditas dengan instrumen bunga acuan terbaru, dan keinginan perseroan untuk memperbesar saluran kredit UKM yang masih sekitar Rp20 triliun.

"Saluran kredit di kecil dan menengah baru mencapai Rp20 triliun. Berbeda jauh dengan mikro yang sudah sekitar Rp130 triliun, kita ingin perbesar untuk UKM," kata dia.

Penurunan ini, lanjut Sunarso, karena mulai melonggarnya suku bunga deposito akibat ketentuan OJK dan Kementerian BUMN utuk batas atas 75 basis poin dari BI Rate untuk bunga dana deposito.

Sunarso mengatakan upaya meningkatkan penyaluran kredit UKM juga untuk menjaga target pertumbuhan kredit BRI di rentang 13-15 persen pada tahun ini.

"Kita lihat nanti di triwulan II 2016, apakah permintaan akan naik, dengan pelonggaran ini, kita harapkan sih naik," katanya.

Meskipun penurunan bunga kredit ini bisa menurunkan pendapatan bunga, Sunarso mengatakan pihaknya akan mengkompensasi potensi turunnya marjin bunga dengan pengurangan biaya operasional, peningkatkan dari pendapatan berbasis komisi, dan efisiensi suku bunga simpanan.

"Kita juga tidak ingin mengorbankan profitabilitas," kata dia.

Meskipun bunga kredit UKM turun, Sunarso mengatakan pihaknya masih mengkaji untuk penurunan bunga kredit sektor lain. BRI menargetkan pertumbuhan kredit sebesar 13-15 persen tahun ini, sedangkan marjin bunga bersih (NIM) 7,8-8 persen.

Adapun rasio pinjaman terhadap simpanan (loan to deposit ratio/LDR) BRI sebesar 85 persen.

Emiten berkode BBRI itu akan menjaga potensi kenaikan rasio kredit bermasalah (non performing loan/npl) akibat penurunan bunga kredit ini. Saat ini NPL untuk kredit UKM dan ritel BRI sekitar 2,5 persen. Perseroan menargetkan dapat menurunkan NPL ke 2,1-2,4 persen.

"Kita mitigasi, UKM yang dibiayi yang layak, misalnya berada di klaster dan merupakan jaringan dari industri besar," ujarnya.

"Jika yang belum 'bankable', itu kan dijamin, nanti masuknya ke sektor Kredit Usaha Rakyat," tambahnya.



Pewarta:
Editor: Indra Gultom
COPYRIGHT © ANTARA 2026