
BMKG : wilayah Sumsel belum ada hujan

...Berdasarkan pemantauan melalui satelit, hari ini tidak ada satupun daerah yang berpeluang turun hujan, dan kondisi cuaca tanpa hujan ini diprakirakan hingga pertengahan November 2015...
Palembang (ANTARA Sumsel) - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Sumatera Selatan memprakirakan kondisi cuaca di seluruh wilayah provinsi setempat berawan atau belum ada satupun daerah yang berpeluang hujan.
"Berdasarkan pemantauan melalui satelit, hari ini tidak ada satupun daerah yang berpeluang turun hujan, dan kondisi cuaca tanpa hujan ini diprakirakan hingga pertengahan November 2015," kata Kepala Seksi Data dan Informasi Stasiun Klimatologi Kenten BMKG Sumatera Selatan Indra Purnama di Palembang, Selasa.
Sebelumnya pada 6 Oktober dan 17 Oktober 2015 masih ada sejumlah daerah di wilayah Provinsi Sumatera Selatan yang memiliki 17 kabupaten dan kota itu berpeluang turun hujan dengan intensitas ringan.
Pada 6 Oktober sejumlah daerah yang berpeluang hujan yakni Kabupaten Muaraenim, Pali, Musirawas, Sekayu, dan Pangkalanbalai, kemudian pada 17 Oktober hujan hanya berpeluang terjadi di Kabupaten Musirawas.
Sedangkan 12 kota lainnya yakni Palembang, Baturaja, Kayua Agung, Lahat, Martapura, Muaradua, Indralaya, Tebingtinggi, Pagaralam, Lubuklinggau, Musirawas Utara, dan Prabumulih hingga kini berdasarkan pemantauan melalui satelit masih berawan, katanya.
Kota yang diprakirakan berawan sekarang ini memiliki suhu udara berkisar 22-35 derajat Celsius, kelembapan udara berkisar 42-96 persen, kecepatan angin sekitar 25 km/jam dengan arah angin daerah tersebut sebagian besar menuju timur.
Pada Oktober 2015 ini, sebenarnya mulai memasuki musim pancaroba atau peralihan dari kemarau ke musim hujan, namun karena pengaruh El Nino hujan yang diprediksi mulai banyak turun namun kenyataannya intensitasnya masih sangat rendah di bawah 100 milimeter.
Dalam kondisi cuaca yang cukup ekstrem sekarang ini, dan hujan diprakirakan mulai banyak turun pada awal November 2015, masyarakat diimbau agar terus meningkatkan kewaspadaan dari ancaman bencana kekeringan, kebakaran hutan, lahan pertanian, dan perkebunan, kata Indra.
Menghadapi kondisi cuaca tersebut, personel gabungan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Selatan, manggala Agni, TNI/Polri di bawah kendali Satgas Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan secara terpadu berupaya menanggulangi kebakaran hutan dan lahan penyebab bencana kabut asap dengan melakukan operasi darat dan udara.
Wakil Komandan Satgas Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan Sumatera Selatan Yulizar Dinoto menjelaskan menghadapi kondisi cuaca sekarang ini pihaknya berupaya meningkatkan tindakan tanggap darurat seperti melakukan operasi darat dan udara di daerah yang terdeteksi banyak titik panas, serta mengupayakan hujan buatan (teknologi modifikasi cuaca/TMC).
Untuk melakukan operasi darat ada 4.997 personel gabungan saat ini disebar ke sejumlah daerah yang terdapat banyak titik panasnya untuk mencegah terjadinya kebakaran dan melakukan pemadaman pada kawasan hutan dan lahan yang terbakar.
Sedangkan untuk melakukan operasi udara, pihaknya mendapat dukungan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) enam helikopter, dua pesawat traktor udara (air tracktor), satu pesawat Cassa untuk melakukan hujan buatan (teknologi modifikasi cuaca /TMC), dan dua pesawat sewa dari Rusia jenis amphibi Beriev Be-200 yang memiliki kemampuan melakukan pengeboman air 12 ton.
Dalam kondisi cuaca ekstrem sekarang ini, jumlah titik panas atau hotspot di provinsi ini berfluktuasi dan cenderung meningkat sehingga perlu dilakukan upaya meminimalkan titik panas yang dapat menimbulkan kebakaran hutan dan lahan penyebab kabut asap secara intensif dan terpadu.
Dengan peningkatan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan penyebab kabut asap secara intensif dan terpadu sesuai arahan Menkopolhukam Luhut Binsar Panjaitan dalam beberapa pekan ke depan, pihaknya optimistis dapat menurunkan jumlah titik panas di Sumsel terutama di dua kabupaten yang terdeteksi paling banyak terjadi kebakaran lahan gambut dan penyumbang asap seperti Kabupaten Ogan Komering Ilir, dan Musi Banyuasin, ujar Yulizar.
Pewarta:
Editor: Yudi Abdullah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
