Logo Header Antaranews Sumsel

Berjibaku memadamkan api kebakaran lahan gambut

Senin, 19 Oktober 2015 14:29 WIB
Image Print
Sejumlah prajurit TNI AD berlari sambil mengangkat mesin penyedot air saat akan memadamkan kebakaran lahan gambut di Desa Palm Raya, Ogan Ilir, Sumsel. (Foto Antarasumsel.com/Nova Wahyudi/15/den)
... api bisa meliuk-liuk menari bak manusia dengan ketinggian mencapai 60 meter. Api juga bisa meloncat semaunya mengikuti arah angin yang berhembus kencang dengan kecepatan rata-rata 35 km/jam....

Palembang (ANTARA Sumsel) - Memadamkan api yang berkobar di lahan gambut bukan perkara mudah, tak hanya dibutuhkan keberanian tapi juga kecerdasan dalam membaca arah angin.
Di tengah cuaca ekstrem yang saat ini terjadi, api bisa meliuk-liuk menari bak manusia dengan ketinggian mencapai 60 meter. Api juga bisa meloncat semaunya mengikuti arah angin yang berhembus kencang dengan kecepatan rata-rata 35 km/jam.
Danyon Armed 10/Kostrad Letkol Arm Toar Pioh yang dijumpai di Posko Satgas Kebakaran Hutan dan Lahan (TNI, BNPB, dan PT Bumi Andalas Permai) di Air Sugihan, Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan, Kamis (15/10), mengatakan kondisi alam seperti itu yang saat ini dihadapi anggotanya dan regu pemadam kebakaran perusahaan.
"Saya sendiri takjub melihat kejadian ini, kepala api bisa setinggi 60 meter, terlihat jelas karena malam hari. Saya dan tim pun tidak berani mendekati, jadi pemantauan dilakukan dari jarak sekitar 1 kilometer," kata Toar sembari menunjukkan rekaman video yang diambil pada 12 Oktober di kawasan distrik Air Sugihan milik PT BAP (perusahaan pemasok Asia Pulp & Paper/APP).
Ia mengatakan, pemadaman kebakaran pada tahun ini menghadapi tantangan luar biasa karena dihadapkan pada cuaca ekstrem yang ditandai dengan angin kencang dan udara yang sangat kering.
Padahal, dari sisi sarana dan prasarana, beserta personel, menurutnya, relatif terpenuhi yakni hampir seribu orang lebih personel TNI sudah diturunkan di Sumatera Selatan, beserta dukungkan beberapa unit pesawat water bombing, helikopter dan pesawat tanpa awak (drone) untuk menantau titik api.
"Jika api sudah setinggi 60 meter, siapa yang bisa menahan. Mau seribu orang pun yang dijajarkan untuk memadamkan api, tidak akan efektif, yang ada malah rebutan masuk kanal untuk menyelamatkan diri," ujar Toar yang sudah berada di lokasi Air Sugihan kurang lebih satu bulan bersama 167 orang personel TNI.
Ia menceritakan, beberapa hari lalu, anggota regu pemadam kebakaran malah berhadapan langsung dengan kondisi cuaca ekstrem tersebut.
Sebanyak empat anggota regu pemadam kebakaran perusahaan dengan peralatan lengkap menyemprotkan air ke kepala api dari jarak 60 meter, kemudian secara tiba-tiba muncul angin puting beliung sehingga api dapat berpindah ke atas dahan akasia yang siap panen dengan cepat.
Situasi pun berubah dalam sekejap, sehingga anggota regu pemadam yang terkurung api menyelamatkan diri dengan masuk ke dalam kanal air.
"Kejadian ini pada malam hari menjelang shubuh, tiba-tiba api berbalik arah dan mengurung regu pemadam kebakaran. Beruntung mereka dekat dengan kanal, jadi masuk ke dalamnya dan bersembunyi sampai dua jam untuk menunggu dievakuasi," kata dia.
Bahkan, dia melanjutkan, mobil yang akan digunakan mengevakuasi anggota regu pemadam juga sempat terangkat dan hampir masuk kanal akibat derasnya tiupan angin dan udara yang sangat panas sekali saat itu. "Jika sudah begini, maka keselamatan yang dikedepankan," kata dia.
Begitu pula, pada kejadian lain, yakni saat 50 orang petugas pemadam yang terdiri dari unsur TNI dan regu pemadam kebakaran perusahaan terpaksa dievakuasi karena terkurung api di Simpang Heran, Air Sugihan.
Puluhan orang ini terkurung api karena arah angin tiba-tiba berbalik.
"Ini lebih menegangkan lagi, karena heli tidak masuk ke area itu karena tebalnya asap. Sehingga mau tidak mau, 50 orang anggota pemadam harus berlari dalam udara yang penuh asap dan sangat panas sekali," kata dia.
Toar sudah berada di OKI sejak awal September membawa 350 personel yang kemudian disebar di beberapa titik yakni di OKI, Ogan Ilir, dan Musi Banyuasin.
Sejak berada di lokasi tersebut, titik api di distrik Air Sugihan sudah berhasil dijinakkan dan saat ini sedang proses penyemprotan sisa kebakaran untuk mengurangi dampak asapnya.
Petugas memusnahkan asap dari lahan yang terbakar dengan menyemprotkan air yang disuplai dari kanal menggunakan pompa.
"Untuk Distrik Air Sugihan ini, sudah terkendali, tinggal 'move up' atau memusnahkan asapnya saja supaya tidak ada hotspot lagi. Tapi yang saat ini sedang berkobar di Distrik Bagan Tengah semua personel difokuskan ke sana," kata dia yang dihubungi Minggu (18/10).
Menurutnya, untuk mengatasi kebakaran lahan di Bagan Tengah, OKI ini, anggota TNI telah membuat sekat bakar sepanjang dua kilometer dengan lebar 200 meter bertujuan mengurung kepala api yang saat ini masih berkobar di kawasan tersebut.
Sekat bakar itu dibuat menggunakan traktor PT BAP untuk memberikan jarak antara lokasi yang sudah terbakar dengan lokasi yang masih dilindungi (belum terbakar).
Lebarnya harus 200 meter, karena lahan yang terbakar ini sebagian besar merupakan siap panen sehingga pohonnya sudah cukup tinggi ukurannya. Jika tidak cukup lebar maka bisa membuat titik api baru, katanya.
Sebelumnya, dengan metode serupa telah berhasil memadamkan satu titik api di Air Sugihan pada tiga hari lalu.
"Lebarnya harus 200 meter lebih, karena jika kurang maka tidak akan efektif, api masih bisa menyeberang. Apalagi saat ini, ada dorongan dari cuaca ekstrem, api bisa berpindah (meloncat) karena dorongan angin," kata dia.
Ia melanjutkan, untuk mengoptimalkan upaya pemadaman api ini, TNI bersama regu pemadam kebakaran perusahaan juga membuat embung seperti arahan dari Panglima TNI ketika berkunjung ke lokasi tersebut belum lama ini.
"Embung juga dibuat karena bisa juga untuk menahan pergerakan api, intinya berbagai upaya dilakukan terus, termasuk mengoptimalkan kanal milik perusahaan untuk membuat sekat basah (lahan dibersihkan dari tumbuhan kemudian dilumuri lumpur dari kanal, red)," kata dia.
Tak hanya mengoptimalkan kanal, sejak empat hari lalu, di lokasi tersebut telah menggunakan racun api (flame freeze) yakni sejenis cairan kimia yang digunakan untuk mematikan kepala api.
Kepala Perlindungan Lahan dari Kebakaran PT BAP Tunggul Wajidin yang dihubungi dari Palembang, mengatakan racun api ini memiliki partikel yang lebih kecil dibandingkan air sehingga dapat dengan cepat membunuh oksigen dan mematikan api.
"Seperti pengalaman di lapangan, semprotan air terkadang tidak begitu berdampak pada kepala api, lewat begitu saja. Tapi dengan cairan racun api ini, membuat lebih cepat mematikan api," kata dia.
Tak hanya itu, cairan ini juga dapat memberikan jedah bahwa benda yang terbakar untuk tidak terbakar lagi atau berfungsi sebagai pelapis bahan yang mudah terbakar.
Menurutnya, sejauh ini sudah digunakan dua jenis racun api, yakni berbentuk cair dan bubuk.
"Untuk racun api cair, dosisnya 0,4 liter per 100 liter air, sudah dicobakan untuk 5.000 liter untuk disemprotkan di kepala api yang ada di distrik Bagan Tengah. Sementara untuk jenis bubuk dibawah menggunakan pesawat TNI untuk ditaburkan di distrik Bagan Tengah," kata dia.
Terkait seberapa efektif menggunaan racun api ini, menurutnya menjadi pilihan terbaik untuk saat ini.
Namun, meski sudah ada cairan kimia tersebut tetap tidak serta merta dapat menuntaskan persoalan karena untuk menyemprotkan harus didukung oleh cuaca.
"Petugas tidak bisa "head to head" langsung dengan api karena sangat berbahaya saat ini. Jika tingginya di atas 21 meter maka tidak diperkenankan, tapi jika kurang dari itu masih bisa dengan syarat harus berjarak sekitar 60 meter, dan ada sekat basah dan kanal. Jika tidak, maka akan sangat berbahaya," kata dia.
Karena pengaruh cuaca ini, tim menggunakan metode pematian kepala api dari pinggir, atau tidak langsung ke pusatnya.
"Jadi disisir dari pinggir, dengan harapan mempertemukan kepala api di satu titik, kemudian menunggunya sampai pada kanal primer yang lebarnya sampai 200 meter, dan mati sendiri," kata dia.
Menurutnya, upaya-upaya seperti ini yang sudah dilakukan sejak awal September dengan dibantu warga sebanyak 185 orang, dan regu pemadam kebakaran perusahaan berjumlah 310 orang.
"Upaya sudah maksimal, tapi cuaca demikian ekstrem sehingga satu kepala api dijinakkan pada hari ini, tapi besoknya muncul kepala api baru," kata dia.

Cuaca ekstrem
Pergerakan api di lahan gambut yang terbakar di Air Sugihan, Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan sejak17 Oktober 2015 masuk kategori ekstrem dengan kecepatan mencapai 1 kilometer per hari.
Koordinator wilayah penggunaan pesawat bantuan asing Badan Nasional Penanggulangan Bencana Budi Erwanto yang dihubungi dari Palembang, Minggu (18/10), mengatakan, kecepatan kepala api itu dipengaruhi oleh cuaca karena sempat terjadi angin puting beliung di kawasan tersebut.
"Ini sudah hari kelima, dan api belum padam juga. Saat ini pusatnya ada di Distrik Bagan Tengah. Untuk dua hari terakhir, malah pergerakannya ekstrem sekali karena sudah ada pusaran api yang cukup besar dan bentangan yang sangat luas," kata Budi yang berada di posko Satgas Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan PT Bumi Andalas Permai, Air Sugihan.
Ia melanjutkan, untuk itu, sebanyak dua unit pesawat bantuan Malaysia, satu unit dari Singapura, dan satu unit milik TNI difokuskan memadamkan api di Air Sugihan, tepatnya di distrik Bagan Tengah.
Dalam satu kali terbang, setiap unit pesawat milik Malaysia mampu menjatuhkan air sebanyak 1.600 liter dari udara. Setiap hari, pesawat ini diproyeksikan terbang sebanyak empat-lima kali.
Ia mengatakan, kencangnya angin menjadi salah satu penyebab utama kebakaran hutan dan lahan demikian cepat meluas di kawasan tersebut.
"Bahkan, pergerakannya kepala api saat ini sudah mendekat laut, sudah ke arah sungsang," kata dia.
Untuk memantau pergerakan kepala api ini, Posko Satgas Air Sugihan diperkuat 22 personel yang terdiri dari unsur BNPB, TNI dan perusahaan.
"Digunakan pesawat tanpa awak (drone), satu unit helikopter milik perusahaan untuk memantau kepala api yang biasa dilakukan setiap sore. Hasil pemantauan langsung disampaikan ke BNPB di Palembang, untuk menentukan titik koordinat pesawat 'water bombing' menjatuhkan air," kata Budi yang sudah 10 hari berada di posko tersebut.
Kebakaran hutan dan lahan di Air Sugihan, OKI hingga kini belum bisa dipadamkan secara total karena kepala api masih bergerak leluasa menjangkau areal kering lahan gambut.
Setidaknya, 6.000 hektare lahan milik PT BAP di Air Sugihan telah terbakar, sementara areal di luar konsesi perusahaan tersebut seperti hutan konservasi, dan hutan lindung sudah lebih dahulu terbakar.
Peneliti kebakaran hutan asal Institut Pertanian Bogor DR Suwarso mengatakan kebakaran hutan dan lahan ini merupakan persoalan kompleks yang harus diselesaikan mulai dari akar permasalahannya, dengan cara menyeluruh dan mensinergikan banyak pihak.
"Api dapat bermula dari mana saja, bisa dari puntung rokok yang dibuang begitu saja, atau memang dari pembakaran untuk pembukaan lahan baru. Maka penting sekali mencegah, karena jika lahan gambut sudah terbakar maka sangat sulit dipadamkan, malah kemungkinan yang pastinya yakni meluas," kata Suwarso yang penelitian S3-nya fokus pada kebakaran hutan dan lahan.
Ia mengemukakan, lahan gambut yang tidak dijaga dan tidak memiliki kanal akan rentan sekali terbakar karena di saat musim kemarau akan sangat kering sekali.
Ketika tersulut api, maka akan terjadi kebakaran di bawah tanah karena kedalaman gambut berkisar 1 meter hingga 8 meter, bahkan 15 meter seperti di Kalimantan.
"Jika sudah begini, sangat sulit sekali. Apalagi, saat ini sedang cuaca ekstrem," kata dia.
Untuk itu, perlu ada keseriusan untuk pencegahan yakni bagaimana mengajak masyarakat dan perusahaan untuk mengedepankan pembukaan lahan dengan tanpa bakar, yakni pembukaan lahan dengan ramah lingkungan.
Berdasarkan penelitiannya beberapa tahun lalu, ia mendapati bahwa penduduk di OKI, memiliki model pertanian sonor yakni membakar untuk pembersihan lahan.
Mereka melakukannya pada dua bulan menjelang musim penghujan dengan menggunakan bensin tanpa didukung infrastruktur embung.
"Biasanya, petani ini memiliki areal seluas dua hingga empat hektare. Pembakaran ini dipilih karena mudah, nanti setelah hujan pertama di musim hujan tinggal tabur benih. Lalu, empat bulan lagi datang ke lahan tersebut, dan siap panen padi. Pembakaran ini juga dipilih, untuk mendapatkan ikan yang bersembunyi dibalik tanaman senduduk di saat kemarau," kata dia.
Ia menilai, pentingnya kiranya menyelesaikan kasus kebakaran hutan dan lahan ini dari akar persoalannya.
Menurutnya, jika saja, para petani sonor ini diberikan peralatan seperti traktor dan eskavator untuk pembersihan lahan maka model pembakaran lahan tidak akan menjadi pilihan lagi.
"Itulah yang saya katakan, semua pihak harus bersinergi, tidak bisa hanya mengadalkan perusahaan saja untuk mencegah dan memadamkan, masyarakat juga harus diedukasi dan diberikan kompensasi agar mereka tidak membakar lahan, seperti peralatan pertanian," kata dia.
Selain itu, pemerintah juga harus merevisi UU karena berdasarkan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup dinyatakan bahwa pembakaran lahan diperkenankan untuk luas areal kurang dari dua hektare.
"Jadi penangganannya tidak bisa sendiri-sendiri harus holistik dan saling bersinergi," kata dia.
Kebakaran hutan dan lahan hingga kini masih berlangsung di Sumatera Selatan meski upaya maksimal sudah dilakukan dan telah menguras tenaga, pikiran, dan biaya.
Berkaca pada kejadian dan kerugian yang diakibatkannya, maka sangat penting kiranya semua pihak berfokus pada pencegahan agar tahun depan kejadian serupa tidak terulang lagi.



Pewarta:
Editor: Indra Gultom
COPYRIGHT © ANTARA 2026