Logo Header Antaranews Sumsel

BI tahan suku bunga sesuai prediksi

Sabtu, 19 September 2015 23:59 WIB
Image Print
...BI telah mempertahankan suku bunga sejak menguranginya sebanyak 25 bps pada Februari 2015...

Jakarta (ANTARA Sumsel) - Ekonom PT Bank UOB Indonesia Ho Woei Chen mengatakan keputusan Bank Indonesia mempertahankan tingkat suku bunga acuan di level 7,5 persen dengan suku bunga deposit facility 5,5 persen sesuai dengan konsensus dan prediksi pelaku usaha.

Ho Woei Chen dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu, mengatakan BI telah mempertahankan suku bunga sejak menguranginya sebanyak 25 bps pada Februari 2015.

Ia memperkirakan tingkat suku bunga pada November akan dinaikkan karena harga minyak dunia turun.

Ia mengharapkan tidak banyak perbedaan kebijakan antara Indonesia dan AS terkait "capital outflow" ke depan agar rupiah tidak semakin terdepresiasi.

"Dengan Fed (Bank Sentral AS) melakukan penyesuaian suku bunga, berbagai kebijakan yang dilakukan BI untuk menurunkan suku bunga akan meningkatkan tekanan pada rupiah. Sedangkan menaikkan suku bunga akan memicu inflasi dan melemahkan prospek pertumbuhan domestik" kata dia.

Sejak awal tahun, kata dia, rupiah telah terdepresiasi sebesar 14,3 persen dari dolar AS sehingga kini berada pada titik terendah dalam 17 tahun terakhir.

Ia memperkirakan rupiah akan terdepresiasi kembali pada kuartal IV karena melemahnya sektor komoditas saat AS menyesuaikan suku bunga.

"Kami meningkatkan perkiraan pada kuartal IV nilai tukar rupiah 14.700 per dolar AS dari 14.000," kata Ho Woei Chen.

Sementara itu, Ho Woei Chen mengatakan data ekspor dan impor pada Agustus 2015 menunjukkan angka penurunan yang terjadi selama 11 bulan berturut-turut, tetapi menunjukkan angka yang lebih baik daripada perkiraan.

Ekspor Agustus 2015 turun 12,3 persen (yoy), sedangkan perkiraan akan turun 17,7 persen, sementara ekspor pada Juli turun 18,8 persen. Untuk impor turun 17,1 persen (yoy), sedangkan perkiraan turun 23,3 persen dan ekspor pada Juli turun 28,4 persen.

Dengan menurunnya impor, tutur dia, neraca perdagangan menjadi surplus sebanyak 434 juta dolar AS. Ia menilai menurunnya permintaan ekspor akan melambatkan pertumbuhan ekonomi pada semester II 2015 dan diperkirakan pertumbuhan ekonomi mendekati pertumbuhan ekonomi semester I sebesar 4,7 persen (yoy).

Untuk inflasi yang pada Agustus sebesar 7,3 persen (yoy), Ho Woei Chen memperkirakan akan menurun menjadi 4-4,5 persen (yoy) pada Desember.

Sebelumnya, pada Kamis (17/9) Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia kembali memutuskan untuk mempertahankan tingkat suku bunga acuan ketujuh kalinya secara berturut-turut di level 7,5 persen dengan suku bunga deposit facility 5,5 persen dan lending facility pada level 8 persen.

Keputusan tersebut sejalan dengan upaya membawa inflasi menuju pada kisaran sasaran sebesar 4 plus minus satu persen di 2015 dan 2016 serta sebagai bagian dari langkah Bank Indonesia dalam mengantisipasi kemungkinan kenaikan suku bunga kebijakan Bank Sentral AS.



Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026