Logo Header Antaranews Sumsel

Penderita ispa di Palembang menurun

Minggu, 13 September 2015 10:33 WIB
Image Print
Ilustrasi - salah satu anak penderita penyakit ispa yang sedang dirawat di rumah sakit setempat (Foto antarasumsel.com)

Palembang (ANTARA Sumsel) - Penderita ifeksi saluran pernapasan di Palembang, Sumatera Selatan, pada 2015 menurun jika dibandingkan tahun lalu, kata Kepala Dinas Kesehatan kota setempat Anton Suwindro.

"Secara bulanan tahun ini memang terus meningkat karena pada Juli terdata sekira 16 ribu orang dan Agustus sudah 18 ribu orang, tapi jika dibandingkan 2014 terjadi penurunan, karena pada Agustus tahun lalu saja sudah sekira 20 ribu orang," kata Anton di Palembang, Sabtu.

Penurunan ini, menurut Anton, dipengaruhi oleh kondisi asap di beberapa wilayah Sumatera Selatan yang tidak sepekat tahun lalu.

"Memang betul, kejadiannya relatif sama dengan tahun lalu karena beberapa hari ini masyarakat mengeluh bahwa asap sudah masuk ke dalam rumah. Tapi, jika dibandingkan tahun lalu ada perbedaan karena saat itu asapnya lebih menggumpal," kata Anton.

Ia menerangkan, berdasarkan jumlah data penderita tersebut maka sudah sepatutnya warga Palembang mewaspadai bencana asap ini dengan menghindari aktivitas di luar rumah pada pagi hari.

"Jika pun terpaksa harus ke luar rumah maka harus menggunakan masker sebagai upaya pertahanan diri dari infeksi pernapasan dan radang tenggorokan. Selain itu, menghindari interaksi langsung dengan asap dimaksudkan untuk mencegah gatal pada kulit, iritasi mata, hingga bahaya akibat terlalu banyak zat berbahaya di paru-paru," kata dia.

Ia menambahkan, bagi warga yang dihadapkan pada situasi kritis akibat asap maka sebaiknya diberikan air putih yang banyak.

"Ini akan berbahaya bagi penderita asma, jadi pertolongan pertamanya minum air putih," kata dia.

Sementara itu, sejak Kamis (10/9) hingga Sabtu (12/9), Pemkot Palembang meliburkan seluruh pelajar karena bencana asap sudah melewati batas ambang kesehatan.

Tak hanya pelajar yang sudah terimbas, tapi juga beragam aktivitas ekonomi masyarakat juga terganggu, seperti nakhoda atau pengemudi kapal cepat, penjual sayur, hingga sopir angkutan antarkota.



Pewarta:
Editor: M. Suparni
COPYRIGHT © ANTARA 2026