
Pejabat AS: Tak ada status hukum anak rantau

Washington (ANTARA/AFP) - Ribuan anak-anak rantau yang melintasi perbatasan ke Amerika Serikat tanpa ditemani orang dewasa dalam beberapa bulan belakangan, tidak dijamin mendapat kewarganegaraan atau status hukum dan menjadi prioritas untuk diusir, kata pejabat, Kamis.
Tiga dari empat anak-anak yang menyeberang perbatasan ke Amerika Serikat secara gelap berasal dari El Salvador, Honduras, dan Guatemala.
Anak-anak itu melakukan perjalanan melelahkan sejauh ratusan mil melewati Meksiko untuk keluar dari kondisi ekonomi yang buruk serta kekerasan di negara mereka, dan bergabung dengan keluarga mereka di Amerika Serikat.
"Saya tidak mendorong migrasi ilegal dalam cara dan bentuk apapun. Itulah pesannya," kata Menteri Keamanan Dalam Negeri Jeh Johnson, "Mereka yang melintasi perbatasan kami secara ilegal, termasuk anak-anak, tidak layak mendapat kewarganegaraan."
Perubahan undang-undang imigrasi saat ini bertujuan untuk mengamankan perbatasan AS, mengubah prosedur visa dan Menawarkan jalan akhir untuk memperoleh kewarganegaraan bagi sekitar 12 juta imigran gelap yang terombang-ambing.
Pemerintah AS juga memulai program untuk anak-anak yang secara ilegal dibawa ke AS oleh orang tua mereka sebelum usia 16 tahun.
Deportasi terhadap para pemimpi ini ditunda dan mereka bisa bekerja di AS.
Namun salah satu persyaratannya adalah mereka sudah tinggal di AS sejak 2007.
Dalam beberapa bulan terakhir, terjadi lonjakan imigran gelap anak-anak tanpa orang tua yang membanjiri baratdaya perbatasan AS.
Lebih dari 47 ribu anak-anak menyeberang perbatasan secara ilegal tanpa didampingi orang dewasa antara Oktober dan Mei, hampir dua kali lipat dari data enam bulan sebelumnya.
Presiden Barack Obama dan legislator menyebut masalah ini sebagai krisis kemanusiaan.
Pejabat AS memperkirakan data tersebut bisa mencapai 60 ribu tahun ini, kata Mark Greenberg, penjabat wakil menteri untuk anak dan keluarga pada Kementerian Kesehatan dan Layanan Masyarakat.
Sebagian besar anak-anak itu tertangkap di Texas, dan banyak diantaranya dikirim ke Arizona karena fasilitas di Texas sudah melebihi kapasitas.
Kementerian Luar Negeri Honduras mengatakan telah mengirim staf dari Kedutaan Besar di Washington untuk membantu para imigran tersebut di rumah penampungan di Arizona.
Pemerintah Honduras juga mengambil sejumlah langkah untuk memperbaiki kondisi anak-anak yang berada di beberapa lokasi penampungan berbeda di Texas.
Johnson mengatakan mereka yang tertangkap melintasi perbatasan secara ilegal merupakan prioritas untuk pemulangan, berapapun umur mereka.
Kementerian Pertahanan meminjamkan tiga markas militernya untuk memproses dan menampung anak-anak itu.
Johnson mengatakan pemerintah menambah petugas federal untuk mengambil tindakan terhadap oknum perdagangan orang yang beroperasi di sepanjang perbatasan.
Greenberg mengatakan pihaknya telah meningkatkan kemampuan untuk menangani lonjakan imigran, namun kewalahan menghadapinya dalam beberapa bulan terakhir.
"Apa yang terjadi akhir-akhir ini adalah bahwa jumlah, terutama sejak awal Mei, telah meningkat hingga taraf yang tidak kita perkirakan dan tidak diperkirakan oleh Kementerian Keamanan Dalam Negeri," katanya, "Itulah yang menjadi tantangan terkini."
Johnson seraya menekankan parahnya situasi tersebut, menceritakan pertemuannya dengan seorang imigran anak berusia 10 tahun pada Hari Ibu bulan lalu.
Saat ditanya dimana ibunya, anak perempuan itu menjawab ia tidak punya ibu dan tengah mencari ayahnya di Amerika Serikat.
"Esoknya saya kembali ke Washington untuk melakukan sesuatu atas situasi ini," kata Johnson.
Johnson mengatakan ia berencana mengunjungi Guatemala pada Juli untuk mengemukakan krisis tersebut.
"Kita tahu kita harus melakukan sesuatu untuk menghentikan masalah ini," katanya, dengan menekankan bahwa ia telah berkomunikasi dengan para duta besar dan pejabat lain dari Guatemala, El Salvador, Honduras dan Meksiko.
Penerjemah: S. Haryati
Pewarta:
Editor: M. Suparni
COPYRIGHT © ANTARA 2026
