Logo Header Antaranews Sumsel

Tak ada suasana pesta Piala Dunia di Sao Paolo

Selasa, 10 Juni 2014 13:51 WIB
Image Print
Piala Dunia 2014 Brazil (Antarasumsel.com/Logo/Aw)

Sao Paolo, Brazil (ANTARA Sumsel) - Meski pembukaan Piala Dunia 2014 Brazil hanya tinggal tiga hari lagi, sama sekali tidak terlihat suasana meriah menyambut pesta sepak bola terbesar di dunia itu di Sao Paolo, kota terbesar di Brazil yang akan menjadi salah satu kota tuan rumah.

Seperti dilaporkan wartawan Antara Atman Ahdiat yang mendarat di bandara internasional Guarulhos, Senin malam (Selasa dinihari WIB), hanya terdapat satu poster kecil bertuliskan "Welcome to Sao Paolo 2014" di lorong bandara menuju pintu keluar terminal kedatangan.

Sementara dari perjalanan selama satu jam lebih dari bandara menuju penginapan di kawasan Diadema, kota Sao Paolo, hampir tidak terlihat poster besar mencolok menyambut pesta empat tahunan itu.

Meski pun terdapat poster pemain di pinggir jalan utama, itu pun hanya berupa papan iklan dari beberapa produk elektronik.

Kondisi tersebut sangat jauh berbeda bila dibandingkan dengan Piala Dunia empat tahun lalu di Afrika Selatan ketika para tamu langsung disambut dengan poster besar mendiang Nelson Mandela yang sedang memegang tropi di bandara internasional Johannesburg, maupun poster para pemain tuan rumah di sepanjang jalan.

"Gegap gempita menyambut Piala Dunia memang tidak terasa di Sao Paolo, mungkin karena banyak masyarakat yang memprotes penyelenggaraan pesta sepak bola ini," kata Romo Ferdinand Doren yang menjemput Antara di bandara.

Dosen teologi di Institut Teologi Sao Paolo (ITESP) lulusan S3 Universitas Katholik Chicago, AS, yang sudah menetap selama 15 tahun di Sao Paolo itu menyatakan bahwa dalam beberapa hari terakhir, demonstrasi menentang Piala Dunia 2014 semakin marak dan sudah mengganggu aktivitas warga.

"Hampir tiga juta warga Sao Paolo sangat tergantung kepada transportasi kereta bawah tanah dan pemogokan oleh pegawai kereta membuat aktivitas warga lumpuh total. Saya dengar tuntutan kenaikan gaji pegawai kereta api bawah tanah itu sudah dipenuhi pemerintah," kata pria Indonesia asal Larantuka, NTT itu.

Sementara Douglas, warga Brazil yang merupakan rekan Romo Ferdinand mengakui bahwa warga sebenarnya bukan tidak setuju dengan penyelenggaraan Piala Dunia 2014, karena besarnya biaya penyelenggaraan yang membuat sebagian warga protes.

"Ketika delegasi FIFA melakukan inspeksi dan menyatakan bahwa stadion harus dibangun sesuai dengan standar internasional, langsung dipenuhi oleh pemerintah, sementara anggaran untuk pendidikan, kesehatan bagi warga miskin tidak diperhatikan," kata Douglas.

Suasana dengan sedikit aktivitas persiapan menyambut Piala Dunia 2014 justru ditemui gang-gang sempit di komplek perumahan kumuh (favela), ketika sekelompok pemuda di kawasan menuju Diadema membuat dekorasi berupa bentangan bentangan bendera Brazil berukuran kecil.

Meski berpenduduk sekitar 15 juta jiwa, suasana lalu lintas di Sao Paolo secara umum jauh lebih lancar dibanding dengan Jakarta yang semakin hari semakin macet.

Kepadatan kendaraan yang menimbulkan kemacetan hanya terjadi saat keluar dari kawasan bandara internasional Guarulhos, tapi saat melintas pusat kota, sama sekali tidak ada hambatan. Selain jalan yang lebih lebar dan mulus, pengendara yang lebih disiplin juga menjadi faktor penentu kelancaran lalu lintas.



Pewarta:
Editor: M. Suparni
COPYRIGHT © ANTARA 2026