
Komunitas kenalkan penyakit "Lupus" ke pengunjung

Palembang (ANTARA Sumsel) - Komunitas tergabung dalam persatuan Lupus Sumatera Selatan melakukan pengenalan penyakit lupus, yakni penyakit auto imun kronik yang menyerang seluruh organ penting seperti ginjal, sendi, mata yang dapat menimbulkan kematian ke pengunjung Kambang Iwak Palembang, Sabtu.
Sejak pukul 06.30 pagi aktivis, pengidap dan mantan pengidap lupus dari aneka latar belakang sosial yang tergabung dalam komunitas tersebut menggelar spanduk serta membagikan buku saku berisi informasi tentang penyakit lupus kepada pengguna track jogging di kawasan itu.
Ketua persatuan Lupus Sumatera Selatan Elnita Sari saat ditemui di sela kegiatan tersebut menjelaskan kegiatan semacam ini dilakukan dalam rangka memperingati hari lupus se-dunia pada 10 Mei ini.
"Tiap 10 Mei kami mensosialisakan penyakit lupus ini dan menjelaskan pada masyarakat bahwa lupus bukan hanya tokoh fiksi novel remaja," kata dia.
Ia pun menekankan betapa pentingnya pengetahuan tentang penyakit yang juga dikenal sebagai penyakit seribu wajah itu.
"Lupus itu penyakit auto imun kronik yang menyerang seluruh organ penting seperti ginjal, sendi, mata, dan berujung pada kematian,"papar wanita yang sudah dinyatakan sembuh dari lupus sejak 2009 ini.
Menurut dia, kebanyakan penderita terlambat menyadari penyakit ini.
Lupus sendiri memiliki Ciri-ciri salah satunya rambut rontok, sariawan berulang, sakit persendian dan bila terkena matahari muka menjadi merah.
Penderita lupus umumnya 90 persen wanita usia produktif yakni 15-45 tahun. Sementara 10 persen pria dan anak-anak.
Persatuan Lupus Sumsel mencatat kurang lebih ada 300-an orang pengidap lupus di Sumatera Selatan.
"Jumlah tersebut dari yang terhimpun, kami yakin masih banyak belum terdeteksi," kata dia.
Komunitas Persatuan Lupus Sumsel secara terbuka dan gratis memberikan bimbingan maupun penyediaan obat-obatan bagi penderita lupus maupun konsultasi.
Komunitas Lupus Sumsel sejak tahun 2006 itu memang sangat serius menggarap penanganan dan bimbingan pengidap penyakit tersebut.
"Kami berikan obat gratis yang harganya sangat mahal, beruntung sebagian operasional untuk obat-obatan dibantu pemerintah setempat," kata dia.
Ia pun mengharapkan pihak manapun untuk dapat memberikan bantuan moril maupun materil untuk menyokong kesembuhan penderita lupus.
"Penderita lupus bisa sembuh meski tidak total sembuh, asal berani mengganti pola hidupnya seperti menghindari panas matahari dan lebih memperhatikan pola makan," ujarnya.
Pewarta: Oleh: Feny Selly
Editor: M. Suparni
COPYRIGHT © ANTARA 2026
