Logo Header Antaranews Sumsel

Kampanye budaya di tengah hingar-bingar politik

Rabu, 2 April 2014 18:11 WIB
Image Print
ILustrasi.(Foto Antarasumsel.com/13/Awi)

Jakarta (ANTARA Sumsel) - Hingar-bingar kampanye politik dapat dirasakan di seluruh penjuru negeri semenjak kampanye Pemilu 2014 sejak 16 Maret hingga 5 April mendatang. Berbagai cara dilakukan oleh calon anggota legislatif untuk mendulang suara di daerah pemilihannya.

Ada yang mengenalkan diri melalui film, gambar karikatur, "door to door", maupun orasi politik di kampanye terbuka.

Namun, ada hal yang berbeda di Lapangan bola desa Pesanggrahan, Kecamatan Kesugihan, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Di lokasi tersebut ada festival Wayang Pakeliran Padat dan Lengger Calung yang dilaksanakan sejak tanggal 27 Maret hingga 30 Maret 2014.

Pagelaran akbar tersebut diikuti 14 dalang dan 14 tim Lengger yang berasal dari berbagai kabupaten antara lain Cilacap, Banyumas, dan sekitarnya.

"Saya melihat kampanye terbuka membuat kita menonjolkan suatu perbedaan yang bisa membuat perselisihan. Dalam festival ini bolehlah kita berbeda tapi bersatulah dalam kebudayaan dan dilarang menyebutkan nama partai disitu," ujar Calon Anggota DPR-RI dari Partai Gerindra Sadar Subagyo.

Caleg DPR RI daerah pemilihan Jawa Tengah VIII tersebut mengatakan festival tersebut dilakukan untuk melestarikan kesenian tradisional Banyumasan seperti Wayang dan Tari Lengger.

Ia mengatakan dalam festival Wayang Pakeliran Padat diberikan durasi rata-rata 90 menit untuk setiap penampilan dalang.

"Kalau wayang tetap dilakukan semalam suntuk itu kelihatannya peminatnya sudah berkurang sehingga banyak wayang itu dicampur dengan dangdut, campur sari dan lain-lain," kata dia.

Wayang Pakeliran Padat merupakan jawaban terhadap pesatnya perkembangan budaya masyarakat tanpa meninggalkan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya.

"Ini adalah salah satu usaha bagaimana melakukan transformasi budaya wayang menjadi katakanlah nanti pagelarannya itu 3 jam Sehingga kita melakukan lomba pakeliran kulit ini dalam rangka melestarikan budaya sehingga wayang tetap eksis dan tetap diminati khususnya dengan generasi saat ini," ujar dia.

Ia meyakini salah satu upaya tersebut dalam melestarikan wayang itu dapat berjalan di tengah modernisasi zaman.

"Ini akan saya lakukan setiap tahun dan kalau tahun ini dilakukan dan nanti orang yang berkepentingan itu juga melakukan pagelaran 3 - 4 jam saya rasa itu akan berkembang dan melebar ke mana-mana," kata dia.

Ia mencontohkan Kuda Lumping atau di Banyumas disebut "ebeg", saat ini keberadaan kelompok seni ebeg di pedesaan sangat memprihatinkan karena jarang ditanggap atau digunakan oleh masyarakat.

"Misalnya ngebek itu kuda lumping mulai punah karena sudah tidak digunakan. Jadi kalau mau melestarikan pakailah budaya kita, ditanggap budaya kita oleh semuanya termasuk bupati, camat, kalau mau mantu sunat dan nanggap budaya ini, supaya tetap eksis dan tidak akan tergerus zaman

Sementara itu dalang, Kukuh Bayu Aji, mengatakan sebagai dalang yang muda harus kreatif agar kesenian wayang itu tidak punah dan setuju sekali dengan adanya pagelaran ini,

"Untuk melestarikan budaya jawa jangan sampai malah kita melestarikan budaya luar. Yah kuncinya adalah anak muda. Yah saya setuju sekali dengan pagelaran seperti ini, ini satu tahun sekali," ujar dia.

Hal senada juga diungkapkan dalang lainnya, Purnomo, yang mengatakan bahwa kegiatan ini sangat membantu sekali dan dirinya mengharapkan agar kegiatan seperti ini diadakan sekali dalam setahun atau dua tahun sekali untuk melestarikan kesenian tradisional tersebut.

"Saya bangga sekali dan terima kasih kepada penyelenggara terutama kepada pengunjung dan seniman yang ada di banyumas karena saat ini wayang sedang prihatin sekali," katanya.

Prihatin itu maksudnya kesenian Jawa kalah dari budaya luar maupun domestik terutama wayang sekarang yang meluap sekali itu dangdut, lagu-lagu melayu, anak-anak kecil itu tidak tahu wayang tahunya dangdut.

"Karena itu, saya berharap sering-sering diadakan festival seperti ini dan diadakan penyuluhan dari sekolah, di sekolahan itu dipelajari masalah perwayangan lah," kata dia.

Pelestarian
Ketua Panitia Pelaksana Rindang Suroto mengatakan wayang adalah budaya daerah yang menggunakan pakem sehingga sangat sayang wayang tidak dikenal oleh masyarakat Jawa dan Indonesia sehingga dengan adanya festival ini dapat melestarikan kesenian tradisional ini.

"Wayang mempunyai filosofi kehidupan dan terkandung di dalamnya nilai-nilai luhur yang dapat dipelajari generasi muda," ujar dia.

Ia mengatakan perhelatan akbar tersebut digelar dalam rangka HUT Kota Cilacap yang ke 158 yang dimotori karang taruna Perkasa dan disponsori seorang putra daerah yang juga anggota DPR-RI, Bapak Sadar Subagyo.

"Tujuannya membangkitkan semangat dan mengembalikan roh semangat bagi para pelaku kesenian tradisional itu. Para juara ini akan bawa kepada tokoh yang lebih baik dan akan dibawa ke Manteb Sudarsono untuk menambah pengetahuan yang lebih mendalam lagi," kata dia.

Ia menambahkan kriteria penilaian wayang itu berupa susunan dan isi cerita, dodok (bagaimana menghidupkan jalan cerita), dan sastra (wayang itu bisa dinikmati oleh penonton).

"Festival ini pertama dan akan dijadikan kalender tahunan. Harapan saya agar wayang ini sebagai hiburan sebagai mata pencaharian kehidupan mereka. Animo masyarakat sangat baik dan para dalang sangat menyambut baik acara ini," kata dia.

Seni Rupa Adikarya
Bagi Anggota Komisi XI DPR RI tersebut Wayang bukan sekadar cerita atau kisahnya saja, tapi yang pokok adalah wayang sebagai produk seni rupa adikarya.

Sadar mengenal Wayang sejak umur 5 tahun, dimasa kecil dirinya sering sekali menonton wayang kulit, bahkan sampai hafal kisah pakem mulai dari Begawan manumayasa hingga raja parikesit.

Disamping itu sejak kelas 4 SD dirinya sudah bisa membuat wayang dengan bahan karton. Tokoh wayang yang dikagumi adalah raden wisanggeni putra arjuna yang sakti.

"Saya menyadari kekayaan budaya luhur yang diwujudkan dalam bentuk wayang dan pakem sebagai cerita yang dahsyat dan mendalam," ujar dia.

Ia mengungkapkan salah satu cerita yang pantas diteladani untuk zaman sekarang adalah kisah Sumantri.

Diceritakan bahwa seorang satria yang tampan dan sakti mandraguna ingin mengabdi kepada raja moespati yang berjuluk prabu Harjuna sasrabahu setelah melewati berbagai tes sulit ternyata masih ada pula tes yang paling berat yaitu memindahkan taman sriwedari di kahyangan ke kerajaan moespati dengan syarat tidak ada sehelai daun yang gugur.

Dalam dukanya Sumantri meminta tolong adiknya yang sakti mandraguna bernama Raden Sukasrana mukanya jelek dan badannya raksasa kerdil. Karena keberhasilannya Sumantri mendapat gelar Mahapati Kerajaan Moespati.

Namun, Raden Sukasrana malu menghadirkan adiknya yang telah berjasa kepadanya dan secara tidak sengaja ia membunuh Sukasrana. Kemudian, Raden Sumantri tewas di tangan Rahwana yang dimasuki roh Sukasrana yang ingin menyatu dengan kakandanya.

"Simbol dari cerita tersebut saya tafsirkan sebagai wujud bersatunya Negara (Arjuna Sasrabahu) Eksekutif (Sumantri) Sukasrana (Rakyat) maka negara akan makmur dan sejahtera seperti halnya di taman Sriwedari di negara Swargaloka," ujar dia.

Tapi, apabila kekayaan tersebut hanya untuk kaum elite saja, maka tunggulah kedatangan sang angkasa murka Rahwana raja yang akan menghancurkan negara ideal.



Pewarta:
Editor: AWI-SEO&Digital Ads
COPYRIGHT © ANTARA 2026