
CAJ: standar wartawan ASEAN belum sama

...Sekarang ini kondisi wartawan di kawasan Asia Tenggara memiliki tiga tingkatan, untuk menghadapi masyarakat ASEAN yang dimulai pada 2015 perlu disamakan standarnya...
Palembang (ANTARA Sumsel) - Pusat Pendidikan dan Pelatihan Jurnalistik ASEAN atau CAJET yang segera dibangun di Jakabaring Palembang, Sumatera Selatan bertujuan untuk menyamakan standar profesi wartawan dan kebebasan pers di kawasan Asia Tenggara.
"Sekarang ini kondisi wartawan di kawasan Asia Tenggara memiliki tiga tingkatan, untuk menghadapi masyarakat ASEAN yang dimulai pada 2015 perlu disamakan standarnya," kata Sekretaris Tetap Konfederasi Wartawan ASEAN (CAJ) Akhmad Kusaeni ketika mengisi siaran khusus di studio Radio Republik Indonesia (RRI) Palembang, Rabu.
Dalam siaran khusus yang dipancarkan secara nasional itu, Kusaeni yang didampingi wartawan dari Malaysia Cin Sung Chew seusai menggelar kegiatan pelatihan dan seminar CAJ menjelaskan, di negara ASEAN standar prefesi wartawan belum seimbang.
Selain itu tingkat kebebasan persnya juga tidak seimbang, karena berdasarkan catatan CAJ terdapat tiga tingkatan kebebasan pers di kawasan Asia Teggara ini.
Tingkat pertama negara yang memilki kekebebasan pers luar biasa atau paling bebas dengan dijamin oleh Undang Undang yakni Indonesia dan Filipina.
Kemudian pada tingkat kedua yakni negara yang memliki kebebasan tetapi masih ada peraturan Undang Undang yang bisa mengancam kebebasan pers yakni Malaysia dan Singapura.
Tingkat ketiga atau tingkat yang paling rendah yakni negara yang tidak memiliki alat perangkat yang memungkinkan pers bisa bebas atau persnya dikontrol ketat oleh pemerintah seperti Laos dan Myanmar.
Dengan adanya CAJET yang dijanjikan pembangunannya selama dua tahun mulai Februari 2014 ini oleh Gubernur Sumatera Selatan Alex Noerdin, wartawan ASEAN dapat dididik dan dilatih dengan standar yang sama dan mendorong pemerintah di negaranya memberikan kebebasan pers seperti di Indoensia, kata Kusaeni yang juga Direktur Pemberitaan Kantor Berita Indonesia Perum LKBN Antara.
Sementara perwakilan wartawan dari Malaysia Cin Sung Chew pada kesempatan itu menambahkan, pers di Indonesia dianggap paling baik demokrasinya dan paling bebas.
Selama tiga hari mengikuti pelatihan dan seminar jurnalistik di Kota Palembang, terkesan dengan semangat wartawan di daerah ini tidak berbeda dengan kota di Indonesia lainnya.
"Pemerintah Indoensaia sangat menghormati wartawan. Kami dari Malaysia masih perlu banyak belajar dengan Indonesia terkait standar dan kebebasan perssesuai tuntutan masyarakat ASEAN 2015 seluruh profesi harus memiliki standar yang sama termasuk wartawan," ujar wartawan Malaysia itu.
Pewarta:
Editor: Yudi Abdullah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
