Logo Header Antaranews Sumsel

BKKBN Sumsel garap remaja sosialisasikan penundaan usia perkawinan

Kamis, 9 Januari 2014 14:17 WIB
Image Print
Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional(BKKBN) ( Antarasumsel.com/logo/Ist)
"Beberapa kegiatan difokuskan untuk kalangan remaja seperti kunjungan ke sekolah-sekolah dan perlombaan/kompetisi yang bertujuan mengimbau agar menunda usia perkawinan...

Palembang (ANTARA Sumsel) - Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Sumatera Selatan aktif membidik kalangan remaja untuk mensosialisasikan penundaan usia perkawinan.

"Beberapa kegiatan difokuskan untuk kalangan remaja seperti kunjungan ke sekolah-sekolah dan perlombaan/kompetisi yang bertujuan mengimbau agar menunda usia perkawinan," kata Kabid Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi BKKBN Provinsi Sumatera Selatan Aan Jumhana Mulyana di Palembang, Kamis.

Ia mengemukakan, remaja harus memahami bahwa menikah sebaiknya dilakukan pada usia matang karena pada saat itu alat-alat reproduksi telah berkembang dengan sempurna sehingga menurunkan resiko kematian.

Selain itu, dengan menunda usia perkawinan maka secara tidak langsung akan menekan angka pertambahan penduduk mengingat mengurangi masa subur untuk bereproduksi.

"Perempuan yang menikah pada usia 15 tahun maka masa subur untuk memiliki anak akan demikian panjang jika berpatokan hingga usia 40 tahun. Keadaan ini sungguh berbeda dengan perempuan yang menikah pada usia 25 tahun yang hanya menyisakan setidaknya 15 tahun," ujarnya.

Sosialisasi ini pun gencar dilakukan karena kasus pernikahan dini saat ini tak hanya terjadi di pedesaan tapi juga di perkotaan.

Kondisi ini sungguh memperihatinkan mengingat usia perkawinan yang ditemui berkisar 15 hingga 19 tahun, bahkan ada yang dibawah itu.

"Bahkan fenomena yang baru dalam beberapa tahun terakhir yakni pernikahan dini disebabkan kehamilan diluar nikah. Malah kasus banyak dijumpai di perkotaan," ujarnya.

BKKBN Sumsel pun aktif mensosialisasikan program Kependudukan danKeluarga Berencana ini kalangan remaja, salah satunya dengan mengoptimalkan keberadaan Pusat Informasi dan Konseling Remaja/Mahasiswa (PIK-R/M) yang eksis di Sekolah Menengah Atas dan Universitas/Perguruan Tinggi.

Sosialisasi kepada PIK-R/M itu dipandang akan efektif mengingat sebanyak 548 unit tersebar di kabupaten/kota se-Sumsel yang melibatkan ribuan pelajar dan mahasiswa .

Sementara ini, program Kependudukan dan Keluarga Berencana belum berjalan dengan semestinya berdasarkan hasil Survey Demografi Kependudukan Indonesia (SDKI) tahun 2012, mengingat terjadi peningkatan jumlah total angka kelahiran atau Total Fertility Rate (TFR).

Angka TFR tercatat 2,6 per wanita usia subur (dalam 10 wanita usia subur terdapat 26 anak yang terlahirkan) atau menyamai catatan SDKI 2007 (stagnasi), sementara Sumsel sendiri mencatat angka 2,8.



Pewarta:
Editor: Indra Gultom
COPYRIGHT © ANTARA 2026