
Bangka Belitung rawan pangan

Pangkalpinang (ANTARA Sumsel) - Kepala Dinas Pertanian, Perkebunan dan Peternakan Provinsi Bangka Belitung (Babel), Sunardi menyatakan, Bangka Belitung dikategorikan daerah rawan pangan karena produksi padi petani lokal kurang untuk memenuhi konsumsi warga daerah itu.
"Saat ini, dari seratus persen kebutuhan masyarakat Babel atas pangan beras, produk pertanian yang dihasilkan oleh para petani lokal hanya 14 persen, sedangkan produksi beras dari luar mencapai 86 persen," katanya di Pangkalpinang, Selasa.
Ia menjelaskan, rawan pangan terjadi apabila pasokan beras dari daerah sentra produksi beras di Pulau Jawa dan Sumatera tersendat.
"Biasanya, pasokan beras tersendat apabila kondisi cuaca di perairan memburuk yang ditandai gelombang tinggi, angin kencang dan lainnya yang membahayakan keselamatan kapal barang, petani di luar daerah gagal panen dan lainnya," ujarnya.
Ia mengatakan, ketersediaan pangan khususnya beras cukup mengkhawatirkan karena tingginya tingkat konsumsi beras warga seiring beras merupakan makanan pokok yang harus ada dan dikonsumsi warga.
"Apabila pasokan beras dari luar tersendat maka secara otomatis harga beras akan mengalami kenaikkan yang cukup tinggi, bahkan mencapai Rp11.000 per kilogram dari harga normal Rp9.000 per kilogram, sehingga akan memberatkan ekonomi warga kurang mampu," ujarnya.
Menurut dia, dalam upaya mengurangi ketergantungan pasokan beras dari luar ini, pihaknya terus berupaya mengoptimalkan lahan pertanian padi sawah, menyalurkan bantuan benih berkualitas, sarana produksi, pembinaan dan penyuluhan kepada petani.
"Saat ini, luas lahan padi sawah di Bangka Belitung mencapai 10.500 hektare tersebar di Kabupaten Bangka, Bangka Barat, Bangka Tengah, Bangka Selatan, Belitung dan Belitung Timur yang masih belum dikelola dengan maksimal," ujarnya.
Ia mengatakan, pengelolaan lahan padi sawah secara maksimal ini tentu akan meningkatkan produksi padi petani. Selama ini penanaman padi hanya dilakukan satu kali dalam setahun ditingkatkan menjadi dua hingga tiga kali tanam per tahun.
"Kami berupaya meningkatkan kesadaran dan minat petani untuk menanam padi minimal dua kali dalam setahun, sehingga akan meningkatkan kesejahteraan petani dan menekan kenaikkan harga beras luar tersebut," ujarnya.
Pewarta: Oleh Aprionis
Editor: Indra Gultom
COPYRIGHT © ANTARA 2026
