Logo Header Antaranews Sumsel

Inflasi Palembang mulai turun

Selasa, 17 September 2013 13:50 WIB
Image Print
Bank Indonesia (ist) (Foto istimewa)

Palembang (ANTARA Sumsel) - Tekanan inflasi Kota Palembang mulai menurun pada September 2013, seiring dengan berkurangnya dampak kenaikan harga bahan bakar minyak dan berangsur stabilnya permintaan bahan makanan setelah Lebaran.

"Sebenarnya penurunan tekanan inflasi sudah terasa pada bulan Agustus dan tren itu sepertinya berlanjut hingga September," kata Kepala Divisi Kebijakan Moneter Bank Indonesia Kantor Perwakilan Wilayah VII Sudarta di Palembang, Selasa.

Ia mengemukakan bahwa penurunan tekanan inflasi tersebut secara bulanan tercatat 0,58 persen (mtm) atau menurun dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 2,92 persen. Persentase ini lebih rendah daripada inflasi bulanan nasional sebesar 1,12 persen (mtm).

Sementara itu, inflasi tahunan sedikit meningkat dibandingkan bulan sebelumnya, yakni dari 7,30 persen (yoy) menjadi 7,37 persen (yoy), dan berada di atas median proyeksi, yaitu 7,24 persen (yoy).

"Tekanan inflasi tahunan ini karena adanya kenaikan tarif listrik dan kenaikan harga emas," ujarnya.

Ia mengemukakan bahwa kenaikan harga kelompok bahan makanan (volatile food) lebih lambat daripada bulan sebelumnya, yakni pada bulan Agustus 2013 mengalami kenaikan sebesar 0,72 persen (mtm) atau lebih rendah daripada bulan sebelumnya 4,46 persen (mtm).

"Kelompok bumbu-bumbuan mengalami penurunan harga sebesar 2,08 persen (mtm). Komoditas cabai merah dan bawang putih yang selama ini sering memberikan andil tinggi pada inflasi, mengalami penurunan masing-masing sebesar 12,54 persen (mtm) dan 6,85 persen (mtm) dengan andil deflasi sebesar 0,08 persen dan 0,02 persen," ujarnya.

Tekanan inflasi untuk komponen inti, kata dia, justru relatif meningkat karena didominasi oleh kenaikan pada kelompok pendidikan dan kelompok barang pribadi dan sandang.

Hal itu bertepatan dengan dimulainya periode semester baru untuk pendidikan dan naiknya harga emas perhiasan yang cukup signifikan, sedangkan kenaikan harga kelompok administered prices telah mereda karena Agustus 2013 hanya naik 0,73 persen (mtm) atau menurun dibandingkan laju kenaikan harga pada bulan sebelumnya sebesar 8,65 persen (mtm).

"Walaupun telah lepas dari dampak puncak kenaikan harga BBM bersubsidi, masih terdapat tekanan inflasi yang diakibatkan oleh peningkatan tarif listrik, serta kenaikan harga angkutan sebagai efek lanjutan dari kenaikan harga BBM bersubsidi dan Idul Fitri," ujarnya.

Terkait dengan tekanan inflasi Palembang September 2013, dia memperkirakan bakal berada pada kisaran 0--0,2 persen (mtm) dan inflasi tahunan 7,7--7,9 persen (yoy).

"Pada bulan September 2013 diperkirakan dampak kenaikan harga BBM sudah minimal dan pengaruh tuntutan bahan pangan relatif membaik pasca-Idul Fitri. Namun, di sisi lain, depresiasi rupiah akan memberikan dampak terhadap kenaikan harga komoditas impor. Harga emas, yang merupakan produk kelompok inti, akan terus naik mengikuti harga internasional," ujarnya.



Pewarta:
Editor: M. Suparni
COPYRIGHT © ANTARA 2026