
Telaah: Dinamika pergerakan pemuda

Membaca ulang karya monumental Takashi Shiraisi, "Zaman Bergerak", kita akan menemukan gairah semangat pemuda dan akar Indonesia modern.
Buku yang awalnya sebuah disertasi sarjana Jepang itu, dengan data dan penulisan yang luar biasa memberikan kita sebuah jawaban tentang apa itu pergerakan.
Tokoh pergerakan seperti Dr Tjipto Mangunkusumo, Mas Marco Kartodikromo dan Haji Misbach begitu cerdas membaca situasi zaman dan amat idealis dalam memikirkan bangsanya. Bahkan secara cerdas menuliskan buah pemikirannya di media massa saat itu.
Terlihat jelas saat itu, banyaknya organisasi, banyaknya ide dan gagasan, beragamnya ideologi atau pandangan perjuangan, sama sekali tidak membuat perbedaan pada cita-cita sebuah bangsa yang merdeka, bahkan semuanya sinergis.
Bisa dibandingkan dengan para pemimpin hari ini yang berjuang dengan filosofi yang berbeda, namun saling sikut kanan-kiri. Bahkan berebut kekuasaan dan berlomba untuk korupsi.
Gerakan reformasi berjasa cukup besar untuk membuka pintu demokrasi. Namun juga tak bisa dipungkiri, kaum muda "tertipu" oleh euphoria reformasi, yang hanya sebatas menghendaki pergantian aktor-aktor dalam pemerintahan. Padahal yang dikehendaki adalah pergantian sistem yang baru sama sekali.
Akibatnya sekarang masih banyak sekali pekerjaan rumah yang semakin banyak dan tidak terselesaikan dengan tuntas. Reformasi berjalan "setengah hati" bahkan dicuri orang ditengah jalan.
Hari ini kita masih sering melihat ketimpangan dalam penegakan hukum. Bahkan banyak pula oknum penegak hukum yang melanggar dan mempermainkan hukum.
Akhirnya hingga saat ini pula yang dirasakan bersama adalah kedaulatan orang tua bukan kedaulatan hukum dalam kehidupan bernegara. Padahal demokrasi sendiri perdefinisi ditandai oleh adanya kedaulatan hukum serta perlakuan yang sama semua pihak tanpa pandang bulu, asal-usul, suku, agama, maupun golongan.
Bukan berpretensi untuk melakukan justifikasi, satu dekade lebih pasca-reformasi hingga hari ini nyatanya karakter dan idealisme gerakan mahasiswa dan pemuda semakin dipertanyakan.
Ekses dari kebebasan dan keterbukaan memang sangat melenakan. Tidak jarang gerakan mahasiswa dan pemuda mendapat sorotan negatif karena perilaku aktor-aktornya. Sehingga yang mencuat hanya soal kebrutalan, kekerasan dan berbagai cap negatif lainnya. Pada gilirannya masyarakat pun menjadi kurang simpatik.
Generasi baru
Sesungguhnya gerakan mahasiswa dan pemuda kini dihadapkan pada kompleksitas permasalahan bangsa yang ke depan semakin beragam. Berbagai macam ekses globalisasi, sadar atau tidak sudah memasuki bagian terkecil dalam keseharian kita.
Indonesia membutuhkan generasi baru untuk menjadi katalisator bagi perubahan sistem pemerintahan yang lebih baik.
Generasi baru ini bukan dari aktor-aktor yang sama sekali baru, akan tetapi dari semua kelompok masyarakat yang berkesadaran dan saling bahu-membahu mewujudkan tatanan pemerintahan yang bersih dan berkeadilan.
Pemuda dan mahasiswa merupakan ujung tombak. Hal ini bukan mustahil karena terbukti masyarakat yang semakin cerdas dengan sendirinya menjadi kontrol bagi kebijakan pemerintah serta lingkungannya.
Namun, di sisi lain daya tahan ormas maupun organ gerakan mahasiswa akan benar-benar diuji. Mereka yang mentahbiskan dirinya "kaum modernis" akan mudah ditinggal oleh pengikutnya, karena kurang mempunyai akar yang kuat di masyarakat.
Sedangkan yang berasal dari "golongan tradisionalis" akan sangat mudah goyah karena selama ini hanya mengandalkan klaim mayoritas pengikutnya. Sementara mereka hampir selalu luput untuk melakukan kaderisasi serta managerial yang bagus bagi organisasinya.
Masyarakat sedang digiring untuk merayakan liberalisasi di segala bidang. Ancaman hilangnya kedaulatan ekonomi dan politik sudah di depan mata.
Parahnya lagi, yang paling tidak terasa adalah ancaman liberalisasi budaya. Hal inilah yang terus menerus menggerus budaya gotong-royong serta kolektivitas masyarakat. Menggerus akar tradisi dan budaya masyarakat digantikan oleh individualisme, konsumerisme, puncaknya pada pemujaan hedonisme.
Hal inilah yang turut mempersubur maraknya korupsi dan tidak berdayanya hukum menghadapi sistem pemerintahan yang korup.
Tidak bisa disangkal, carut-marut keadaan yang seperti itu di satu pihak menjadikan agama sebagai faktor penting. Namun akan sangat disayangkan bila pemahaman terhadap agama itu sendiri hanya secara sepintas yang kemudian melahirkan sikap ekstremisme dan fundamentalisme terhadap agama.
Di sisi lain, arus pasar global yang secara massif juga melahirkan sikap fundamentalisme terhadap pasar.
Sesungguhnya hal itu bisa dijembatani oleh tiga hal, pertama gerakan mahasiswa dan pemuda harus tahu benar permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat. Ia harus turun menjejakkan kakinya di tengah-tengah masyarakat. Selanjutnya, dengan begitu kesadaran untuk menjaga tradisi, melakukan kaderisasi serta disiplin terhadap organisasi merupakan hal yang mutlak.
Kedua, gerakan mahasiswa dan pemuda harus terus berupaya pada perbaikan sistem bukan sebatas pada pergantian aktor-aktor kepemimpinan di level nasional maupun lokal. Dan yang terakhir, mereka harus senantiasa membangun komunikasi dan bekerja sama dengan semua golongan. Menyamakan visi dan misi gerakan untuk masa depan Indonesia yang berdaulat.
Di sinilah letak penting adanya konsensus nasional antar semua komponen bangsa. Semangat persatuan dan kesatuan pemuda 1928 harus digairahkan. Posisi gerakan mahasiswa dan pemuda menjadi sangat strategis untuk mendorong dan mengonsolidasikan terbentuknya konsensus nasional.
Hal ini sangat penting karena yang dikehendaki adalah adanya perubahan sistem, kedaulatan hukum dan perlakuan yang sama terhadap semua pihak sebagai sesama warga negara.
Mendiang Presiden Amerika Serikat John F Kennedy pernah berucap, "Anda tidak bisa mengharapkan seorang pemimpin seperti seorang nabi. Ia hanyalah seorang regulator dari sebuah sistem yang berjalan".
Hal ini membuktikan pentingnya sebuah pendidikan moral, sistem kaderisasi, serta manajemen yang bagus. Dari sini diharapkan terlahir seorang pemimpin yang paham benar terhadap permasalahan rakyat.
Seorang yang bersih dan berdedikasi. Karena ia dikehendaki oleh rakyat, lahir dan berjuang di tengah rakyat. Bukan hasil balutan kampanye media atau banyaknya politik uang (money politic) yang ia pertaruhkan.
Menurut hemat penulis, "ASEAN+9 Youth Assembly for ASEAN Community 2015" yang diinisiasi oleh Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII) beberapa hari lalu merupakan salah satu jawaban yang ingin dibuktikan oleh pemuda. Mengajak seluruh pemuda Indonesia menjadi generasi baru yang bersih dan berintegritas.
Selalu siap untuk menyongsong masa depan dan menjadi pelopor dalam persatuan dan pembangunan bangsa.
*) Ketua Kaderisasi PB PMII
Pewarta: Oleh Miftah Farid Mh*
Editor: AWI-SEO&Digital Ads
COPYRIGHT © ANTARA 2026
