
PB HMI desak PBB menengahi konflik di Mesir

...Atas nama kemanusiaan, kami mengecam atas segala bentuk kekerasan yang terjadi oleh para pihak di Mesir, karena setiap tetes darah yang mengalir di tubuh rakyat Mesir adalah darah kami sebagai manusia...
Makassar (ANTARA Sumsel) - Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) mendorong dan mendesak PBB untuk ikut menengahi konflik para pihak di Mesir dengan mengedepankan nilai kemanusiaan dan bukan dengan pendekatan politik dan militer.
Ketua Umum PB HMI periode 2013-2015, Muh. Arief Rosyid dan Sekjen Mulyadi P. Tamsir, mengemukakan hal itu dalam pernyataan sikap yang diterima Antara di Makassar, Sabtu.
Surat Pernyataan itu juga dikirimkan via pos kepada Sekjend PBB, Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), Ketua ASEAN, Presiden RI, Komisi I DPR RI, dan Duta Besar Mesir untuk Indonesia
"Atas nama kemanusiaan, kami mengecam atas segala bentuk kekerasan yang terjadi oleh para pihak di Mesir, karena setiap tetes darah yang mengalir di tubuh rakyat Mesir adalah darah kami sebagai manusia," kata alumnus Fakultas Kedokteran Unhas Makassar tersebut.
Arief mengatakan pihaknya mendesak Pemerintah Indonesia melalui Presiden Republik Indonesia untuk ikut aktif sebagai mediator perdamaian para pihak di Mesir. Hal ini didasarkan pada modal sejarah dan kerja sama antarkedua Negara yang sudah terbangun dari awal kemerdekaan Indonesia.
"Mendesak Negara Arab dan Negara Islam yang tergabung dalam Organisasi Kerja Sama Islam untuk ikut aktif melakukan dialog perdamaian atas konflik politik di Mesir," katanya.
Pihaknya juga menghimbau kepada negara-negara yang memiliki kepentingan secara langsung dan tidak langsung untuk tidak turut serta memperuncing konflik politik Mesir.
"Seiring dengan kumandang tekad kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, ada satu bangsa yang kemudian menjadi bangsa perdana yang mengamini peristiwa bersejarah tersebut. Negara bangsa itu bernama Mesir. Sebuah bangsa yang dikenal sebagai bangsa penuh peradaban dan menjadi bangsa yang mengukir sejarah dunia semesta sedari dulu kala," katanya.
Dia mengatakan Mesir mengakui de facto kemerdekaan RI, selain itu Mesir juga bersedia menanggung kehidupan ekonomi warga Indonesia di Mesir setiap bulan sebagai ganti utang yang diputuskan kedutaan Belanda pada waktu itu.
Selain itu, Pemerintah Mesir memberikan corong Radio Mesir kepada diplomat dan pelajar Indonesia untuk mengumandangkan lagu "Indonesia Raya" pada Hari Kemerdekaan Indonesia yang pertama kali di Mesir.
"Warga Indonesia pada perayaan kemerdekaan Indonesia pertama kali di Mesir juga menggelar pentas seni dengan judul 'Kembalinya Surga'. Pentas ini merupakan teater politik yang mengisahkan pertemuan pejuang bawah tanah dengan seorang dara pengikut Soekarno di ibukota yang berakhir dengan pertemuan di lapangan Gambir dalam suasana proklamasi kemerdekaan. Aksi teater ini dimainkan langsung oleh para pemuda Mesir," katanya.
Namun saat Indonesia mempersiapkan Hari Kemerdekaan 17 Agustus tahun ini, ujar dia, negara Mesir justru dalam gelombang konflik yang memprihatinkan, korban tewas sejak peristiwa politik kepada Presiden Moursi (3/7) sudah mencapai angka yang tidak bisa ditolerir.
Pewarta: Oleh: Agus Setiawan
Editor: Yudi Abdullah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
