Logo Header Antaranews Sumsel

Program atlet andalan terapkan sistem degradasi

Senin, 13 Mei 2013 15:32 WIB
Image Print
Komite Olahraga Nasional Indonesia. (Antarasumsel.com/Grafis/Aw)

Palembang (ANTARA Sumsel) - Program pembinaan atlet andalan KONI Sumatera Selatan menerapkan sistem promosi dan degradasi untuk memacu peningkatan prestasi menyongsong PON XIX di Jawa Barat tahun 2016.

"Sistem promosi akan memacu atlet yang belum masuk program elite ini untuk meningkatkan kemampuan, sementara degradasi untuk mendorong atlet untuk menjaga prestasi yang telah diraih," kata Wakil Ketua Umum Bidang Pembinaan Prestasi KONI Sumsel Taufik Arif di Palembang, Senin.

Ia mengemukakan, sistem seperti ini telah dijalankan pada program terdahulu yakni Sumsel Bangkit dan High Perfomance Program.

"KONI menilai sistem ini cukup efektif karena sangat dinamis sehingga atlet menyadari bahwa dirinya harus mengeluarkan kemampuan terbaik pada setiap kejuaraan," ujarnya.

Hanya saja, pihaknya tidak serta-merta melakukan pencoretan bagi atlet yang gagal mempertahankan prestasi dalam penerapan sistem degradasi.

Pihaknya, akan memberikan kesempatan hingga dua kali sebelum akhirnya melakukan pencoretan.

"Jika pada kejurnas tahun ini gagal, maka evaluasi terakhir akan diberikan pada kejurnas tahun berikutnya. Jika gagal memperbaiki maka terpaksa dikeluarkan dari program elit dan masuk program lapis kedua yang saat ini sedang disiapkan," katanya.

KONI Sumatera Selatan melanjutkan program pembinaan atlet jangka panjang yang sempat terhenti setelah perhelatan Pekan Olahraga Nasional XVIII di Riau tahun 2012.

Terhitung sejak 1 Maret 2013, sebanyak 90 orang atlet peraih medali PON Riau tahun 2012 dan 31 pelatih dari 16 cabang olahraga bergabung dalam program Pusat Pembinaan dan Pelatihan Provinsi Sumsel (Puslatprov Sumsel).

Ke-90 orang atlet itu terdiri dari cabang olahraga anggar (19 orang), atletik (7 orang), akuatik (2 orang), biliar (3 orang), bowling (2 orang), catur (1 orang), dayung (4 orang), gulat (2 orang), karate (3 orang), senam (7 orang), ski air (2 orang), polo air (19 orang), menembak (7 orang), squash (6 orang), taekwondo (1 orang) dan pencak silat (5 orang).

Sementara, ke-31 pelatih itu, anggar (6 orang), atletik (5 orang), akuatik (1 orang), biliar (2 orang), bowling (1 orang), catur (tidak ada), dayung (2 orang), gulat (1 orang), karate (1 orang), senam (4 orang), ski air (1 orang), polo air (4 orang), menembak (1 orang), squash (1 orang), taekwondo (1 orang) dan pencak silat (1 orang).

"Para atlet yang tergabung dalam program elite ini akan mendapatkan uang saku dari kisaran Rp3 juta hingga Rp5 juta rupiah, serta mendapatkan kesempatan mengikuti Kejuaraan Nasional dan uji coba ke daerah lain atau ambil bagian dalam ajang terbuka," katanya.

Program ini bertujuan membuat Tim Sumsel yang solid dan tangguh, serta mengikat atlet dan pelatih agar tidak berpindah ke daerah lain.

Hal itu menjadi kewaspadaan Sumsel mengingat dalam waktu dekat terdapat ajang tingkat nasional yakni Pekan Olahraga Wilayah di Bangka Belitung tahun 2015 dan PON XIX di Jawa Barat tahun 2016.



Pewarta:
Editor: M. Suparni
COPYRIGHT © ANTARA 2026