Logo Header Antaranews Sumsel

Pemindai satelit akan ungkap kehidupan paus biru

Rabu, 27 Maret 2013 20:30 WIB
Image Print
Ikan paus biru (Foto ANTARA/Reuters)

Sydney (ANTARA/Reuters) - Menjaga keseimbangan di atas perahu kecil di tengah ombak-ombak kecil perairan Antartika, kadang selama berjam-jam dan berselubung es, para peneliti Australia membidik kawanan paus biru yang langka itu dengan senapan angin untuk menempelkan pelacak pada mahluk raksasa itu.

Selama tujuh pekan pelayaran ilmiah para ilmuwan Australia dari Divisi Antartika itu telah melekatkan alat pelacak dan memindai melalui untuk mengikuti mahluk terbesar di dunia yang jarang terlihat itu dengan sonar yang dilekatkan pada pelampung khusus.

Hingga saat ini baru sedikit yang terungkap mengenai kebiasaan paus biru, yang ukurannya sangat besar --jantungnya sebesar manusia dewasa, telah diburu hingga populasinya terancam pada 1900an dan sekarang masih langka.

"Pergerakan yang detil belum dikumpulkan, sehingga ini sangat penting," kata Virginia Andrews-Goff, anggota tim peneliti yang jago melekatkan pemindai pada paus.

"Kami mengambil contoh biopsi dan foto untuk mempelajari satu-persatu, sehingga nantinya informasi individu itu dapat memberitahui keberadaan paus biru Antartika dan bagaimana mereka pulih dari penangkapan."

Di antara misteri yang meliputi paus biru-- yang dapat tumbuh sepanjang 30 meter dan berbobot 170 ton, adalah jumlah mereka.

Diperkirakan saat ini ada beberapa ribu di seluruh dunia, tetapi jumlah tetapnya belum ada kepastian.

Mekanisme penelitian ilmiah ini sangat menantang. Untuk melekatkan alat pemantau hanya dapat dilakukan dengan tembakan senapan angin dari jarak dekat, sehingga memerlukan latihan fisik untuk otot, melatih keseimbangan berdiri di atas perahu yang terombang-ambing dan membidik dengan jitu.

" Kami menempelkan alat pemantau, mengambil contoh jaringan dan juga memotret, sehingga kadang harus berada di air selama empat jam lebih untuk satu kesempatan," kata Andrewss-Goff.

"Kita berada di udara dengan suhu di bawah nol derajat celsius, kadang-kadang turun salju, kadang es juga bisa membuatmu beku."

Metode penelitian yang tidak mematikan dan berpotensi untuk diterapkan pada paus jenis lain ini diumumkan dalam jumpa pers di Tasmania, Rabu.

"Kemajuan penelitian yang tidak memakai peralatan mematikan ini dengan jelas membuktikan, bahwa tidak perlu membunuh paus untuk meneliti mereka," Menteri Lingkungan Hidup Tony Burke mengatakan.

Tim peneliti itu akan memaparkan temuan mereka pada pertemuan Komisi Perburuan Paus Internasional sebagai badan internasional yang mengatur paus.

Penerjemah: M. Dian A



Pewarta:
Editor: AWI-SEO&Digital Ads
COPYRIGHT © ANTARA 2026