
Aktivis dan polisi bentrok di Mapolda Sumsel

Palembang (ANTARA Sumsel) - Aksi unjuk rasa sejumlah aktivis dan petani di Mapolda Sumatera Selatan yang menuntut pencopotan Kapolres Ogan Ilir AKBP Deni Dharmapala SIk terkait tragedi kasus lahan perkebunan tebu Cinta Manis yang dikelola PTPN VII berakhir ricuh dengan aparat kepolisian Selasa sore.
Demo yang awalnya berlangsung tertib kemudian menjadi ricuh ketika para peserta unjuk rasa yang tergabung didalamnya Walhi, Serikat Petani Indoneisa (SPI) Sumsel, Serikat Petani Sriwijaya (SPS) Serikat Hijau Indonesia Sumsel dan Persatuan Pergerakan Petani Indonesia (P31) karena mereka berusaha masuk dan merobohkan pagar Mapolda.
Melihat aksi yang mulai provokatif itu, polisi berkumpul dan berusaha mengantisipasi tidakan massa serta menangkap beberapa orang yang diduga memprovokasi aksi tersebut.
Kericuhan pun terjadi dan berlanjut dengan aksi saling pukul antara pengunjuk rasa dengan polisi. Akibatnya kedua belah pihak ada yang terluka.
Berdasarkan informasi yang dihimpun dari Direktur Eksekutif Walhi Sumsel Anwar Sadat mengatakan, mereka melakukan aksi sekitar sekitar 25 orang.
"Tapi polisi menyerang saat kami berusaha menerobos pagar," ujar Sadat yang dibagian kepalanya diakui mengalami luka-luka akibat terkena sabetan benda tumpul.
Pengunjuk rasa yang terluka akibat kericuhan itu yakni Direktur Eksekutif Walhi Sumsel Anwar Sadat
(33), Deputi penindakan Walhi Dedek Chaniago (23) juga luka di kepala, sedangkan warga yang juga menjadi korban Komaruddin mengalami luka bocor di kepala, serta Rosita yang terluka lecet dan luka memar ditubuhnya.
Warga lainnya adalah Ahmad Yani (35), Amri (55), Fikri, Ahmad Jaya, Awalludin yang kesemuanya
mengalami luka memar.
Sementara dua orang anggota polisi dari Satuan Sabhara Polresta Palembang yang mengalami luka yaitu Aiptu S Naibaho, Briptu Hermanto mengalami luka memar dipergelangan tangan kanannya.
Sekitar 12 orang peserta unjuk rasa berhasil ditangkapi aparat di antaranya adalah Direktur Walhi Sumsel Anwar Sadat. Waktu kejadian diperkirakan antara pukul 16.30 hingga. 17.00 WIB.
Hingga saat ini sejumlah pengunjuk rasa ditangkap masih ditahan dan diperiksa di Mapolda Sumsel. Sementara yang luka-luka masih belum menerima perawatan medis, terang Anwar Sadat.
Wakapolda Sumsel Brigjend Pol Muhammad Zulkarnain langsung menemui pengunjuk rasa saat diamankan di ruang SPKT Polda.
"Apa mau kalian. Kalau mau minta tindakan hukum, kami juga bisa minta tindakan hukum. Selama dua hari kalian diberikan kebebasan, tapi malah berbuat tindakan menyalahi aturan. Kalian bertindak sudah tidak wajar lagi karena merusak aset milik negara," katanya.
Wakapolda Sumsel juga memerintahkan Kepala Denma Polda Sumsel untuk membuat laporan para pengunjuk rasa ini bertindak melakukan pengerusakan aset negara.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Independent Police Watch (EIPE) Sumsel Ade Indra Chaniago pihaknya mengecam dan mengutuk keras tindakan aparat yang secara brutal mengahadapi aksi massa tersebut.
"Bentrok yang terjadi tersebut akibat polisi tidak profesional dalam menjalankan kinerjanya sebagai pengayom masyarakat," tegas dia.
Kejadian tersebut diharapkan tidak terulang lagi, namun bila masih terjadi polisi akan berhadapan
dengan rakyat secara langsung.
"Apapun alasanya polisi salah karena tugas utama mereka sebagai pengayom masyarakat, tandasnya. (FN)
Pewarta:
Editor: Indra Gultom
COPYRIGHT © ANTARA 2026
