Logo Header Antaranews Sumsel

Bupati diduga aniaya warga

Jumat, 25 Januari 2013 21:55 WIB
Image Print
Stop kekerasan (FOTO ANTARA)

Makassar (ANTARA Sumsel) - Bupati Wajo, Sulawesi Selatan Burhanuddin Unru diduga telah melakukan penganiayaan dan intimidasi kepada enam warga, pada 22 Januari lalu sesaat sebelum Pemilihan Gubernur Sulsel di Kabupaten Wajo.

"Waktu itu saya diseret dari rumah orang tua saya, kemudian dipukuli dan diperlakukan layaknya teroris bahkan dikatakan perampok. Kemudian saya dibawa dan disekap selama delapan jam," kata Akhiruddin salah satu korban penganiayaan, di Makassar, Jumat.

Enam korban tersebut diantaranya, Akhiruddin, Muhammad Aziz, Dakirwan, H Daeng Tapalang, Daeng Pasolong serta Hasriadi. Perlakuan kekerasan dan diduga penculikan itu terjadi di Desa Doping, Kecamatan Penrang, Wajo.

Sebelumnya, empat orang dijemput paksa di rumah orang tua Akhiruddin, pada pukul 04:30 WITA, menyusul dua orang lainnya. Akhiruddin mengaku banyak polisi namun tidak berbuat apa-apa dan hanya menonton perlakuan kasar tersebut.

Dalam keterangan persnya di media Center pasangan calon Gubernur Ilham-Aziz (IA) jalan Boulevard Makassar, dirinya menyebutkan, saat kejadian sekitar jam 04:30 dini hari waktu setempat, sejumlah orang berseragam salah satu organisasi pemuda dan baju preman mendatangi rumahnya dipimpin Bupati Wajo.

"Rumah saya digeledah dan diobak-abrik, lalu saya diseret-seret dan tangan saya diikat katanya orang suruhan IA dan dituduh membagi-bagikan sarung dan sejumlah uang atas perintah Bupati Kolaka, Sulawesi Tenggara. Saya tidak punya hubungan sama sekali," tuturnya.

Ia mengatakan, dirinya beserta lima orang korban lainnya diarak ke salah satu warung kopi kemudian dipublis seolah-olah tersangka yang melakukan kejahatan besar.

"Saya dan lima orang lainnya disuruh duduk bersila di lantai depan warkop dan dilihat semua orang dan kemudian dipaksa mengaku. Setelah itu saya dibawa ke Sekertariat Golkar Wajo dan kembali dipaksa mengaku. Pukul 11:00 WITA baru kami dilepas," ucap pengusaha ini.

Kuasa Hukum tim IA, Akbar mengaku akan mengadukan hal ini ke Komnas HAM dan Kontras serta Mabes Polri terkait dugaan kekerasan dan intimidasi itu.

"Kalau ini tidak ditanggapi serius, kami akan ke Jakarta membawa korban untuk mengadukan ke Komnas HAM dan Kontras terkait hak kemanusiaan. Laporan akan ditembuskan ke Mabes Polri untuk ditangani," ucapnya.

Saat ingin dikonfirmasi terkait kasus ini, telepon gengam Bupati Wajo Andi Burhanuddin Unru sedang tidak aktif atau berada diluar jangkauan, saat diberi pesan pendek (SMS) pun enggan dijawab.(ANT)



Pewarta:
Editor: M. Suparni
COPYRIGHT © ANTARA 2026