
SD di Semarang terapkan "Javanese Day"

...Javanese Day hanya kami terapkan setiap Kamis. Penerapan kebijakan berbahasa Jawa halus ini di luar kegiatan belajar-mengajar...
Semarang (ANTARA Sumsel) - Sekolah Dasar Negeri Sambiroto 3 Semarang menerapkan kebijakan "Javanese Day" yang mewajibkan seluruh warga sekolah berkomunikasi menggunakan bahasa Jawa halus untuk melestarikan bahasa daerah.
"Javanese Day" hanya kami terapkan setiap Kamis. Penerapan kebijakan berbahasa Jawa halus ini di luar kegiatan belajar-mengajar," kata Kepala SD Negeri Sambiroto 3 Semarang Kusnandar di Semarang, Kamis.
Setiap Kamis, kata dia, seluruh warga sekolah diwajibkan menggunakan bahasa krama inggil saat berkomunikasi, baik siswa dengan sesama siswa, siswa dengan gurunya, maupun guru dengan sesama guru yang lainnya.
Menurut dia, kebijakan yang baru diterapkan tahun ini tersebut diterapkan untuk mengenalkan dan membiasakan siswa berbahasa Jawa sebagai bahasa daerah sehingga menumbuhkan kecintaan untuk melestarikannya.
"Terutama bahasa krama inggil, yakni tingkatan halus dalam bahasa Jawa. Bahasa Jawa kan ada beberapa tingkatan, kalau untuk bahasa ngoko atau kasar siswa sudah terbiasa, namun belum tentu bisa krama inggil," katanya.
Kusnandar mengakui kelestarian bahasa daerah sangat ditentukan oleh kemampuan, kemauan, dan kesetiaan para generasi muda untuk menggunakan bahasa yang diwariskan nenek moyangnya tersebut dalam komunikasi sehari-hari.
Ia mengungkapkan sebagian besar guru sudah menguasai bahasa krama inggil sehingga tidak mengalami kesulitan untuk mengajak siswa berkomunikasi, sebab peran guru dalam penerapan kebijakan ini sangat menentukan.
Namun, kata dia, dalam praktik kegiatan belajar-mengajar tetap menggunakan bahasa Indonesia sebagai pengantar, mengingat kebijakan "Javanese Day" tersebut hanya diterapkan pada waktu-waktu di luar jam pembelajaran.
"Sebenarnya, penguasaan bahasa ini sangat penting. Tak hanya bahasa daerah dan bahasa nasional, bahasa Inggris sebagai bahasa internasional pun seharusnya dikuasai di tengah era globalisasi sekarang ini," katanya.
Sekarang ini, kata Kusnandar, interaksi masyarakat antarnegara bukan hal yang jarang lagi, misalnya olimpiade internasional yang diikuti siswa-siswa berbagai negara sehingga menuntut kemampuan berbahasa asing.
Tak hanya bahasa krama inggil untuk berkomunikasi, kebijakan "Javanese Day" itu juga diterapkan dalam penguasaan aksara Jawa, dimulai dengan membiasakan guru memakai atribut papan nama di dada menggunakan aksara Jawa.
Sementara itu, Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Semarang Nana Storada sangat mengapresiasi kebijakan "Javanese Day" yang diterapkan sekolah tersebut, mengingat pentingnya pelestarian bahasa daerah di tengah modernisasi.
"Saat ini kan masih diterapkan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP), sekolah memiliki kewenangan menggali potensi yang dimiliki, termasuk kebijakan 'Javanese Day' yang diterapkan SD Negeri Sambiroto 3," katanya.
Disdik Kota Semarang, kata dia, mendukung kebijakan itu dan bukan tidak mungkin sekolah-sekolah lain nantinya diminta untuk mengikuti langkah tersebut jika memang berkontribusi bagus terhadap pelestarian bahasa daerah. (ANT)
Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
