Logo Header Antaranews Sumsel

Nelayan keluhkan kerusakan terumbu karang

Minggu, 9 Desember 2012 23:06 WIB
Image Print
Ilustrasi - Penyelam mengamati berbagai jenis terumbu karang dan tanaman bawah laut di kawasan Waiwo, Raja Ampat, Papua Barat. (FOTO ANTARA)

Muntok (ANTARA Sumsel) - Nelayan di Kecamatan Muntok, Kabupaten Bangka Barat, mengeluhkan rusaknya terumbu karang di sekitar daerah itu yang berdampak pada menurunnya pendapatan setiap harinya.

"Kami minta Pemerintah Kabupaten setempat mengambil langkah strategis untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan, karena melaut merupakan keahlian satu-satunya yang mereka miliki," ujar Pembina Kelompok Nelayan Jiran Siantan, Fikri Ahmad di Muntok, Minggu.

Ia menjelaskan, beberapa tahun lalu perairan Muntok terkenal sebagai penghasil ikan kualitas bagus, bahkan banyak warga luar daerah menyempatkan diri mencari ikan, cumi-cumi, udang dan kepiting ke daerah itu.

Beberapa tahun lalu, kata dia, nelayan mencari ikan tidak terlalu jauh dari garis tepi pantai di sepanjang perairan Muntok dengan menggunakan alat tangkap ikan seadanya sudah bisa mendapatkan ikan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, bahkan sebagian dijual.

"Namun saat ini jangankan untuk dijual, untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari saja susah," kata dia.

Ia mengatakan, nelayan Muntok biasa menangkap ikan di kawasan tumbuh karang, mulai dari karang belolaut, karang pait, karang laut Muntok, karang lalang, karang berang-berang, karang aji sampai karang tanjungular.

"Saat ini yang masih tumbuh hanya karang aji, yang lainnya banyak yang mati," kata dia.

Menurut dia, untuk mengantisipasi hal tersebut, sebagian nelayan harus melaut lebih jauh, namun karena ketersediaan peralatan yang tidak mendukung, mereka tidak bisa terlalu jauh.

Ia mengatakan, untuk melaut hingga di atas empat mil tidak mungkin dilakukan karena keterbatasan perahu, mesin dan alat tangkap serta modalnya terlalu tinggi, sementara sebagian besar anggota kelompoknya merupakan nelayan tradisional bermodal kecil.

"Kami terpaksa masih melaut di perairan Muntok meskipun kadang tidak mendapat ikan sama sekali, namun tetap kami lakukan karena melaut merupakan satu-satunya keahlian kami," kata dia.

Ia mengatakan, dalam sehari mendapatkan uang hasil penjualan ikan Rp100.000 saja sudah bagus, bahkan tidak jarang nelayan harus merugi.

Dengan keadaan seperti itu, kata dia, sebaiknya pemerintah segera melakukan langkah-langkah nyata yang menguntungkan berbagai pihak terutama untuk membantu nelayan meningkatkan kesejahteraannya.

"Peralatan nelayan masih sangat tradisional yaitu pancing, jaring, bubu dan bagan, kalau perairan dekat bibir pantai sudah tidak ada ikan karena rusaknya terumbu karang, kami juga tidak bisa berbuat apa-apa untuk menghidupi keluarga," katanya. (ANT)



Pewarta:
Editor: Indra Gultom
COPYRIGHT © ANTARA 2026