
Habis kabut asap waspadai banjir

...Kini, masalah kabut asap telah berlalu, namun timbul masalah baru yang mengancam kehidupan masyarakat di provinsi berpenduduk sekitar tujuh juta jiwa itu, seiring dengan datangnya musim hujan mulai November 2012...
Palembang (ANTARA Sumsel) - Masyarakat Sumatra Selatan menghadapi dilema dua musim yang terjadi di negeri ini yakni musim kemarau pada April - Oktober dan musim hujan Oktober - April.
Pada musim kemarau tiba masyarakat direpotkan dengan masalah kabut asap yang bisa mengganggu berbagai aktivitas masyarakat, transportasi darat, laut dan udara hingga gangguan kesehatan seperti infeksi saluran pernapasan akut (Ispa).
Masalah kabut asap tersebut puncaknya terjadi pada September dan Oktober 2012 sehingga Pemerintah Privinsi Sumatra Selatan harus mengambil langkah membuat hujan buatan dengan Terknologi Modifikasi Cuaca (TMC).
Kini, masalah kabut asap telah berlalu, namun timbul masalah baru yang mengancam kehidupan masyarakat di provinsi berpenduduk sekitar tujuh juta jiwa itu,seiring dengan datangnya musim hujan mulai November 2012.
Kasi Observasi dan Informasi Stasiun Klimatologi Kenten Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Sumsel Indra Purnama mengatakan, provinsi ini mulai memasuki musim hujan pada November ini dengan intensitas curah hujan terus bergerak naik yang sebelumnya paling tinggi 200 mm kini intensitas curah hujannya bisa mencapai 300 mm lebih.
Dalam kaitan ini, warga kota diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan menyangkut kemungkinan timbulnya dampak negatif dari musim hujan tersebut, terutama banjir dan tanah longsor.
"Warga harus melakukan berbagai langkah antisipasi terutama dari banjir dan tanah longsor mengingat kondisi alam di daerah ini berbukit dan banyak rawa serta sistem drainase perkotaan masih belum terlalu baik," ujar dia.
Aktivis lingkungan dari Serikat Hijau Indonesia (SHI) Sumsel juga mencemaskan ancaman banjir dan longsor melanda sejumlah kabupaten dan kota provinsi setempat, karena kerusakan hutan tidak seimbang dengan kegiatan penghijauan kembali atau reboisasi.
"Kerusakan hutan akibat faktor alam dan kebakaran pada musim kemarau serta ulah manusia lebih banyak dibandingkan dengan reboisasi, sehingga keseimbangan alam terganggu dan bisa menyebabkan tanah longsor dan banjir di mana-mana pada musim hujan sekarang ini," ujar Sekretaris SHI Sumsel Muhammad Syarifudin.
Menurut aktivis lingkungan itu, setiap tahun terdapat ribuan hektare hutan di provinsi berpenduduk sekitar tujuh juta jiwa ini mengalami kerusakan.
Untuk mencegah terjadinya kerusakan hutan yang lebih parah dan mengancam keselamatan jiwa serta harta benda masyarakat akibat banjir dan tanah longsor pada setiap musim hujan perlu digalakkan kegiatan reboisasi.
Kegiatan menghutankan kembali areal hutan yang mengalami kerusakan menjadi tanggung jawab bersama pemerintah, pihak swasta dan seluruh lapisan masyarakat agar bencana alam tersebut bisa dicegah atau paling tidak dampaknya bisa diminimalisir, kata Syarifudin.
Dia menjelaskan, selain perlu menggalakkan reboisasi, perlu juga segera dilakukan langkah perlindungan dan pengamanan hutan dari oknum masyarakat dan pihak-pihak yang hanya mencari keuntungan pribadi atau kelompoknya saja.
Praktik penebangan atau perambahan hutan secara ilegal harus dihentikan dan pelakunya ditindak tegas, karena ulah mereka bisa mengancam kelangsungan hidup manusia dan makhluk hidup lain di sekitarnya.
Melalui berbagai upaya tersebut diharapkan ke depan masyarakat tidak harus mencemaskan lagi terjadinya ancaman banjir dan tanah longsor pada setiap musim hujan tiba karena alam bisa menyeimbangkan dengan kondisi iklim, kata pengurus SHI Sumsel itu.
Dinsos Siapkan Bantuan
Untuk membantu masyarakat jika terjadi bencana banjir dan tanah longsor pada musim hujan ini, Dinas Sosial menyiagakan relawan binaannya yang tergabung dalam Taruna Siaga Bencana (Tagana).
"Sebanyak 759 anggota Tagana binaan Dinas Sosial selama musim hujan akan disiagakan hingga 24 jam terutama di daerah-daerah yang rawan bencana alam," kata Kepala Dinas Sosial Sumsel Apriyadi.
Menurut dia, anggota Tagana sekarang ini sudah ada di 15 kabupaten/kota Sumsel, para relawan tersebut setiap saat siap diturunkan ke lokasi bencana lengkap dengan peralatan penyelamatan dan bantuan bahan makanan.
Pada musim hujan sekarang ini ada beberapa kabupaten/kota yang rawan terjadi bencana banjir seperti Kota Palembang, Kabupaten Musi Rawas, Musi Banyuasin, Banyuasin dan Muara Enim. Sedangkan daerah Sumsel lainnya yang termasuk rawan bencana tanah longsor seperti Kabupaten Lahat, Lintang Empat Lawang, dan Kota Pagaralam.
Jika terjadi musibah bencana alam di daerah tersebut, anggota Tagana siap memberikan bantuan melakukan evakuasi korban dan menyediakan bahan makanan dengan mendirikan dapur umum, kata Apriyadi.
Lebih lanjut Kabid Bantuan dan Jaminan Sosial Dinas Sosial Sumsel MS Sumarwan menjelaskan, pihaknya sekarang telah menyiapkan bantuan tanggap darurat untuk mengantisipasi terjadinya masalah sosial dampak bencana yang kemungkinan timbul pada musim hujan sekarang ini.
Bantuan tanggap darurat yang disiapkan itu antara lain dalam bentuk bahan makanan dan dana rehabilitasi rumah warga yang mengalami kerusakan parah akibat bencana banjir dan tanah longsor hingga Rp15 juta per kepala keluarga, kata dia.
Masyarakat yang mengalami bencana alam tersebut akan diberikan bantuan tanggap darurat jika sampai berpotensi menimbulkan masalah sosial seperti rawan pangan dan tidak mampu memperbaiki rumah mereka yang rusak.
"Namun, tidak semua korban bencana alam diberikan bantuan tanggap darurat. Bantuan ini sifatnya sebagai perlindungan sosial kepada masyarakat yang benar-benar layak menerimanya," ujar Sumarwan menambahkan.
(ANT-Y009)
Pewarta: Yudi Abdullah
Editor: Yudi Abdullah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
