Logo Header Antaranews Sumsel

BI perkirakan perekonomian Sumsel lebih baik

Minggu, 11 November 2012 10:03 WIB
Image Print
Bank Indonesia (ist) (Foto istimewa)
....Meskipun melambat, namun pertumbuhan ekonomi dikisaran 6,0 persen merupakan prestasi ditengah fundamental ekonomi global belum solid dan harga karet yang anjlok....

Palembang (ANTARA Sumsel) - Bank Indonesia memperkirakan perekonomian Sumatera Selatan lebih baik pada akhir triwulan IV (November-Desember) 2012, karena belanja pemerintah dikebut dan peningkatan volume ekspor seiring dengan membaiknya harga karet dan minyak sawit mentah/CPO.

"Biasanya realisasi belanja pemerintah akan dikebut pada triwulan akhir dan berpengaruh pada keuangan daerah, sehingga angka pertumbuhan ekonomi akan terangkat dibandingkan sebelumnya, selain itu harga karet dan sawit mulai naik," kata Peneliti Bank Indonesia Kantor Perwakilan Wilayah VII Gamal Muhammad, di Palembang, Minggu.

Ketika ditanya perkiraan angka pertumbuhan ekonomi pada triwulan akhir ini, Gamal mengatakan Bank Indonesia mencatat belanja pemerintah daerah hingga triwulan III 2012 (Juli-September) hanya 54,8 persen. Sementara, realisasi belanja tidak langsung sebesar 60,7 persen dan belanja langsung 45,0 persen.

Sementara, angka pertumbuhan ekonomi pada triwulan III mengalami penurunan dibandingkan fase sebelumnya dari 6,2 menjadi 5,9 persen.

"Capaian penyerapan anggaran tahun ini relatif lebih baik dibandingkan tahun 2011 yang baru menyerap 43,5 persen ketika memasuki triwulan IV," ujarnya.

Keadaan berbeda justru terjadi para realisasi pendapatan yang mencatat 71,7 persen atau lebih rendah dibandingkan 2011 dengan 75,6 persen.

Selain didorong peningkatan aktifitas belanja pemerintah, angka pertumbuhan ekonomi juga sejalan dengan APBD-Perubahan yang menganggarkan defisit sekitar Rp357 miliar, atau berkebalikan dengan rencana sebelumnya yang menganggarkan surplus sebesar Rp197 miliar.

Ia menambahkan, secara keseluruhan ekonomi Sumsel pada 2012 diperkirakan tumbuh tinggi meski melambat dengan kisaran 5,9 - 6,4 persen (yoy) atau turun dibandingkan 2011 yang mencatat 6,5 persen.

"Meskipun melambat, namun pertumbuhan ekonomi dikisaran 6,0 persen merupakan prestasi ditengah fundamental ekonomi global belum solid dan harga karet yang anjlok," katanya.(ANT-.pso-039)



Pewarta:
Editor: M. Suparni
COPYRIGHT © ANTARA 2026