Logo Header Antaranews Sumsel

Ribuan warga Mukomuko menderita Ispa

Selasa, 25 September 2012 17:12 WIB
Image Print
Ilustrasi - salah satu anak penderita penyakit ispa yang sedang dirawat di rumah sakit setempat (FOTO ANTARA)
....Sebanyak 9.047 orang warga di daerah Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu sejak Januari hingga Agustus 2012 menderita penyakit inpeksi saluran pernapasan akut....

Mukomuko, Bengkulu (ANTARA Sumsel) - Sebanyak 9.047 orang warga di daerah Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu sejak Januari hingga Agustus 2012 menderita penyakit inpeksi saluran pernapasan akut.

"Penanganan ribuan warga penderita itu dilakukan oleh tenaga medis di 16 puskesmas yang tersebar di 15 kecamatan Mukomuko," kata Plt Kabid Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan (P2P dan PL) Dinas Kesehatan setempat Endris Marlinda, di Mukomuko, Selasa.

Menurut dia, jumlah warga yang ditangani lalu disembuhkan oleh tenaga medis di 16 puskesmas di daerah itu pada 2012 lebih banyak dibandingkan pada tahun 2011 tercatat 5.514 orang.

"Warga setempat yang terserang kasus penyakit inpeksi saluran pernapasan akut (ISPA) tahun ini mengalami peningakatan dibandingkan tahun 2011 sebanyak 5.514 orang," ujarnya.

Namun penyakit ISPA yang diderita oleh warga setempat itu masih tergolong ringan, sehingga lebih mudah disebuhkan hanya dengan obat-obatan tersedia di puskesmas.

"Kasusnya memang meningkat dibandingkan tahun sebelumnya, tetapi mayoritas ISPA biasa, sehingga bisa ditangani oleh pihak puskesmas setempat," ujarnya.

Namun dari ribuan warga terserang penyakit tersebut, kata dia, salah satu penyakit yang sama tetapi lebih berbahaya diderita oleh 150 orang balita dan 29 orang anak di atas usia lima tahun.

"Balita dan anak di atas usia lima tahun itu masuk dalam data warga yang terserang ISPA, namun jenis penyakitnya lebih parah yakni pneumonia atau radang paru-paru," ujarnya menjelaskan.

Sedangkan penyebab penyakit tersebut, lanjutnya, mayoritas berasal dari debu, karena partikel debu sangat halus dan mudah masuk lewat udara melalui pernapasan balita.

"Kalau asap tidak begitu berdampak terlalu jauh terhadap bayi, kebayakan itu dari debu apalagi saat musim kemarau," ujarnya.

Untuk mengantisipasi penyakit itu, lanjutnya, warga harus menghindari debu dengan menggunakan penutup hidung, sehingga debu tidak mudah masuk lewat saluran pernapasan.

Sedangkan pada bayi, sarannya, agar orang tuanya tidak sering membawa bayi ke luar rumah sehingga bisa terhindar dari debu.

"Kalau penyuluhan selalu kami sampaikan lewat tenaga medis puskesmas agar warga menggunakan penutup mulut dan hidung," ujarnya.

Karena lanjutnya, saat ini pihak Dinas Kesehatan sendiri belum ada menyiapkan masker untuk diberikan kepada warga guna menghindari serangan debu.

"Kalau penutup hidung bisa menggunakan alat apa saja tidak harus masker," ujarnya menyarankan.(KR-FTO/F002/Ant)



Pewarta:
Editor: M. Suparni
COPYRIGHT © ANTARA 2026