
Penataan permukiman eks kebakaran jangan "Lips Service"

...Janji pejabat pemerintah daerah untuk membantu membangun kembali rumah yang terbakar dan menata permukiman agar tidak terkesan kumuh sudah sering didengar namun sangat sedikit yang terealisasi...
Palembang (ANTARA Sumsel) - Permukiman penduduk di Kota Palembang, Sumatra Selatan, sebagian besar merupakan bangunan lama yang kurang tertata dengan baik, sehingga menimbulkan berbagai masalah sosial dan terkesan kumuh.
Kondisi itu juga sangat rawan kebakaran, dan jika terjadi musibah tersebut bisa menimbulkan korban yang besar karena rumah warga berdempetan, sehingga api cepat menjalar ke mana-mana, apalagi jalan masuk ke kawasan permukiman penduduk sempit.
Beberapa kasus kebakaran yang terjadi di Palembang menimbulkan korban yang cukup banyak, karena jalan yang sempit membuat petugas pemadam kebakaran sulit menjangkau lokasi kejadian dengan cepat, sehingga mereka pun tidak bisa melakukan pemadaman secara maksimal.
Kasus kebakaran yang terjadi di kawasan pemukiman padat penduduk Lorong Sungai Jeruju I, Kecamatan Ilir Timur II, Kawasan Pasar Kuto Palembang, Sabtu (1/9), mengakibatkan 23 rumah hangus terbakar dan sekitar 200 warga dari 82 kepala keluarga (KK) kehilangan tempat tinggal.
Banyaknya rumah warga terbakar karena posisinya berdempetan antara rumah warga yang satu dengan yang lainnya.
Selain itu, mobil pemadam kebakaran tidak bisa masuk ke lokasi kejadian, sehingga petugas membutuhkan waktu untuk memasang dan menarik selang air yang cukup panjang guna melakukan pemadaman.
Petugas Dinas Penyelamatan dan Pemadam Kebakaran (PPK) Palembang, Romli, mengatakan, pihaknya cukup sulit memberikan pertolongan kepada warga Sungai Jeruju itu karena lorongnya sangat kecil, sehingga mobil pemadam kebakaran tidak bisa masuk ke lokasi kejadian.
Setiap terjadi musibah kebakaran, kendala utama untuk memberikan penanggulangan bencana itu adalah sempitnya jalan menuju lokasi kejadian dan permukiman yang sangat padat, ujar petugas pemadam kebakaran itu.
Masalah sempitnya jalan dan permukiman yang padat serta terkesan kumuh mendapat perhatian Wali Kota Palembang Eddy Santana Putra yang turun langsung ke lokasi kebakaran.
Orang nomor satu di kota pempek itu sangat prihatin dengan kondisi permukiman penduduk yang tidak memiliki jalan akses yang lebar dan kurang tertata dengan baik.
Bahkan wali kota sempat "berjanji" akan membantu para korban kebakaran membangun rumah yang terbakar dengan penataan yang baik dan layak huni.
Begitu juga Sekretaris Daerah Kota Palembang Husni Thamrin menaruh perhatian besar terhadap permukiman penduduk yang kurang tertata dengan baik dan kumuh.
Pejabat Kota Palembang itu juga mengimbau kepada warga kota yang menjadi korban kebakaran dalam dua bulan terakhir agar menata permukiman sehingga tidak menjadi kumuh.
"Warga diimbau jangan asal membangun rumah di lokasi bekas kebakaran tanpa memperhatikan sirkulasi udara, saluran air limbah rumah tangga dan jarak antarrumah penduduk satu dengan yang lain," kata Sekda ketika memberikan bantuan kepada korban kebakaran di Sungai Jeruju baru-baru ini.
Dalam dua bulan terakhir terjadi musibah kebakaran melanda warga di permukiman padat seperti di Kecamatan Ilir Timur I pada 20 Agustus 2012 dan warga Lorong Sungai Jeruju I, Kecamatan Ilir Timur II, Kawasan Pasar Kuto Palembang, pada 1 September lalu.
Puluhan rumah hangus terbakar dan ratusan warga kehilangan tempat tinggal akibat musibah tersebut.
Selain pejabat Pemerintah Kota Palembang dan Pemprov Sumsel, beberapa pengusaha yang tergabung dalam Lions Club dan secara pribadi juga berpartisipasi memberikan bantuan kepada para korban kebakaran tersebut.
Salah satu pengusaha yang sangat peduli terhadap penderitaan warga kota pempek itu adalah H Mularis Djahri.
Pengusaha perkebunan kelapa sawit itu, pada musibah kebakaran yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir menjadi pengusaha yang pertama kali memberikan bantuan kepada para korban kebakaran.
Bantuan yang diberikan oleh pengusaha itu selain bahan makanan, juga uang tunai sebesar Rp1 juta kepada setiap kepala keluarga korban kebakaran.
Bantuan uang tunai itu merupakan bantuan awal untuk membantu memperbaiki rumah terbakar dan menata kembali permukiman tersebut dengan kondisi yang lebih baik.
Jika masyarakat masih membutuhkan bantuan, Mularis mempersilahkan kepada para korban kebakaran untuk menghubunginya.
Meskipun dalam kondisi sulit sekarang, bukan berarti warga yang tertimpa musibah tidak bisa membuat tempat tinggal lebih nyaman dan layak huni.
"Masyarakat tidak sendirian menghadapi musibah tersebut, ada Pemerintah Kota dan pengusaha yang peduli dan siap membantu para korban mewujudkan permukiman idaman itu," ujar Mularis Djahri.
Jangan Hanya `Lips Service`
Bantuan dari pemerintah daerah, pengusaha, masyarakat umum dan semua pihak yang peduli terhadap nasib korban kebakaran sangat diharapkan, karena sebagian besar para korban tidak bisa menyelamatkan harta benda ketika peristiwa tersebut terjadi.
"Sejak hari pertama terjadinya kebakaran hingga sekarang Alhamdulillah bantuan terus mengalir baik berupa bahan makanan, air minum dalam kemasan, pakaian, peralatan memasak, peralatan makan, serta uang tunai," ujar Budi Raharjo, salah seorang korban kebakaran di Sungai Jeruju.
Atas nama keluarga dan warga Sungai Jeruju yang menjadi korban kebakaran, dia mengucapkan terima kasih atas perhatian dan bantuan yang telah diberikan semua lapisan masyarakat kepada mereka.
Bantuan yang diberikan tersebut sangat membantu dan meringankan beban penderitaan mereka, kata Budi.
Secara umum bantuan tersebut cukup untuk mengatasi masalah sementara atau untuk "menyambung hidup", namun selanjutnya para korban membutuhkan bantuan membangun kembali rumah mereka yang terbakar agar bisa kembali berkumpul bersama keluarga di bawah satu atap yang lebih layak.
Imbauan pejabat Pemerintah Kota Palembang agar korban kebakaran tidak asal membangun rumah dan menata kembali permukiman yang terbakar merupakan kondisi yang sangat diharapkan.
Warga di kampung ini mendambakan permukiman layak huni yang tertata dengan rapi, namu karena kondisi ekonomi yang tidak mendukung akhirnya warga membangun rumah dengan seadanya.
Janji pejabat pemerintah daerah yang dilontarkan ketika terjadinya musibah kebakaran untuk membantu membangun kembali rumah yang terbakar dan menata permukiman agar tidak terkesan kumuh sudah sering didengar namun sangat sedikit yang terealisasi.
Janji tersebut diharapkan bisa ditepati dan diwujudkan di lokasi eks kebakaran Sungai Jeruju ini, serta tidak hanya omong kosong atau "lips service". (ANT-Y009)
Pewarta: Oleh Yudi Abdullah
Editor: Yudi Abdullah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
