
Ibu-ibu curhat ke Komnas

....Tujuannya meninjau Desa Limbang Jaya, untuk melihat kondisi masyarakat terutama perempuan dan anak-anak pascaterjadinya bentrokan antara petani dengan polisi pada 27 Juli lalu....
Palembang (ANTARA Sumsel) - Ratusan ibu dan remaja putri di Desa Limbang Jaya, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan mengeluarkan curahan hati kepada tim Komisi Nasional Perempuan yang melakukan kunjungan di desa yang pernah terjadi bentrokan berdarah itu.
Ibu-ibu dan remaja putri mengungkapkan mereka hingga sekarang ini merasa ketakutan setiap mendengar suara mirip letusan senjata api dan tidak tenang dalam menjalani aktivitas sehari-hari, kata Ketua Pusat Pembelaan Hak-hak Perempuan "Womens Crisis Centre" Yeni Roslaini Izi seusai mendampingi tim Komnas Perempuan di kantor WCC Palembang, Sabtu.
Bahkan pada kesempatan itu ada sejumlah ibu mengungkapkan terpaksa harus menjadi tulangpunggung keluarga karena suaminya ketakutan dan pergi sembunyi ke suatu tempat, karena dijadikan tersangka oleh polisi dalam kaitan perjuangan mereka mendapatkan kembali 15 ribu hektare tanah yang dikuasai PT Perkebunan Nusantara VII sejak 1982 itu.
Tim Komisi Nasional Perempuan yang berkunjung ke Ogan Ilir itu dipimpin Wakil Ketua Desti Murdijana dan didampingi pimpinan WCC serta Ketua Solidaritas Perempuan Palembang Ekawati, akan menampung semua curahan hati (Curhat) tersebut.
"Curhat ibu-ibu dan remaja putri yang diperoleh dalam kunjungan ini akan dijadikan bahan pembuatan program penyembuhan trauma pascabentrokan antara petani dengan polisi di desa tersebut," ujar Yeni.
Wakil Ketua Komnas Perempuan Desti Murdijana sebelumnya mengatakan, tujuannya meninjau Desa Limbang Jaya, untuk melihat kondisi masyarakat terutama perempuan dan anak-anak pascaterjadinya bentrokan antara petani dengan polisi pada 27 Juli lalu.
Menurut Desti, dia bersama timnya dan aktivis perempuan di Palembang mengumpulkan data dan informasi mengenai dampak yang dirasakan perempuan dan anak-anak di Desa Limbang Jaya serta sekitarnya, pasca bentrokan mengakibatkan satu anak petani meninggal dunia dan beberapa perempuan mengalami luka tembak.
Data dan informasi tersebut akan digunakan untuk menyiapkan pola program tepat guna membantu masyarakat menghilangkan trauma yang dikenal dengan program penyembuhan trauma atau "Trauma Healing", kata dia menambahkan.(Y009)
Pewarta:
Editor: Indra Gultom
COPYRIGHT © ANTARA 2026
