Logo Header Antaranews Sumsel

Pendapatan PTBA naik 13 persen

Senin, 6 Agustus 2012 16:38 WIB
Image Print
Dirut PTBA Milawarma dalam suatu kegiatan beberapa waktu lalu. (FOTO ANTARA)

Palembang (ANTARA Sumsel) - Pendapatan PT Bukit Asam (Persero) Tbk yang beroperasi di Tanjung Enim, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, pada Semester I (Januari-Juni) 2012 mengalami peningkatan sebesar 13 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

"Pendapatan perusahaan Semester I tahun 2012 tercatat Rp5,79 triliun atau meningkat dari periode yang sama tahun 2011 sebesar Rp5,11 trliun," kata Direktur Utama PTBA Milawarma di Palembang, Minggu malam.

Menurut dia, kenaikan pendapatan itu menunjukkan kinerja perusahaan berjalan sangat baik dan mampu tampil relatif lebih eksis dari perusahaan tambang batubara lainnya dalam kondisi perekonomian global yang sekarang ini kurang kondusif.

Selain itu didukung oleh peningkatan volume penjualan yang mencapai 7,36 juta ton batubara dibandingkan dengan penjualan Semester I tahun 2011 yang hanya sebesar 6,54 juta ton batubara.

Penjualan batu bara tersebut harganya cukup baik yakni rata-rata Rp785.043 per ton atau lebih tinggi 0,5 persen dari tahun sebelumnya sebesar Rp781.228 per ton, kata dia.

Dia menjelaskan, mengenai produksi batu bara pada periode Januari-Juni 2012 terealisasi sebesar 7,08 juta ton atau mengalami peningkatan sebesar 14 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya sebesar 6,19 juta ton.

Sedangkan pembelian dari pihak ketiga sebesar 0,81 juta ton atau 44 persen lebih tinggi dari pembelian Semester I tahun lalu sebesar 0,33 juta ton.

Meskipun secara umum pendapatan dan produksi mengalami peningkatan, namun dari sisi laba usaha dan laba bersih perusahaan mengalami sedikit penurunan.

"Semester I/2012 laba usaha tercatat Rp1,87 triliun atau turun lima persen dari laba usaha periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp1,97 triliun, sedangkan laba bersih tercatat Rp1,56 triliun atau turun tiga persen dari periode yang sama tahun sebelumnya yang mecapai Rp1,61 triliun," ujar Milawarma.

Turunnya laba usaha dan laba bersih tersebut dipengaruhi meningkatnya biaya operasional dan terjadinya peningkatan volume produksi namun tidak sebanding dengan peningkatan angkutan kereta api yang berakibat meningkatnya volume persediaan batubara, katanya. (ANT/Y009)





Pewarta:
Editor: Indra Gultom
COPYRIGHT © ANTARA 2026