
Kue "bantingan" diminati kalangan tersendiri

....Malahan masyarakat rela beralih profesi sementara menjadi pedagang makanan dan minuman untuk memanfaatkan momentum lebaran....
Palembang (ANTARA Sumsel) - Kue "batingan" atau kue kualitas rendah memiliki pasar tersendiri diminati kalangan menengah ke bawah, sehingga bisnis ini sangat bergeliat selama Ramadhan.
Ayu, pemilik toko kue di Pasar Perumnas, Palembang, Minggu, mengatakan, meski rasanya tidak seenak kue yang dijual di pusat perbelanjaan modern tapi kue bantingan itu tetap diburu pembeli menjelang lebaran.
Ia pun telah menyetok kue itu sejak awal Ramadhan dengan memajang dalam puluhan toples berukuran besar di tokonya.
"Harganya murah jadi sesuai dengan kantong masyarakat berekonomi lemah. Jika di supermarket hanya dapat satu toples berat seperempat kilogram (kg), maka kue bantingan ini justru bisa dapat 1 kg," kata Ayu.
Menurut dia, meski kualitasnya rendah tapi secara rasa tetap terasa enak.
"Tentunya ada permainan bahan dari produsen untuk mentega, gula, dan tepung, sehingga harganya bisa murah. Jika mau pakai yang kualitas baik, tentnya tidak bisa dijual Rp30.000 perkilogram," ujarnya.
Umumnya jenis kue kering yang dijual terbilang sangat familier di tengah masyarakat, seperti, nastar, lidah kucing, kue kacang, kue keju.
Sepekan menjelang lebaran merupakan puncak permintaan pembeli dengan rata-rata menjual 80 hingga 100 kg perhari
"Sebenarnya dari warna saja sudah tahu bahwa kue yang disajikan adalah "bantingan", karena umumnya berwarna kuning terang, dan bentuknya yang besar. Tentunya berbeda dengan membuat sendiri yang akan lebih rapi," katanya.
Sementara, Romlah, pembuat kue kering itu mengatakan meraup keuntungan berlipat setiap Hari Raya karena masyarakat memiliki tradisi menyajikan kue kering saat berlebaran.
"Dengan mempekerjakan 10 orang karyawan bisa membuat hingga hingga 300 kg kue kering perhari," ujarnya.
Ia mengaku tidak kesulitan memasarkan produknya itu karena telah memiliki sejumlah langganan tetap.
"Biasanya pedagang yang meminta memasukkan barang, malahan sering kehabisan stok menjelang Hari Raya karena sebagian karyawan sudah pulang kampung," katanya.
Sementara, Kepala Bidang Industri Kecil dan Menengah Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Sumsel Afrian Joni mengatakan selama Ramadhan banyak bermunculan usahawan baru dari sektor makanan dan minuman.
"Jumlah usahawan baru ini jelas banyak sekali, bisa dilihat dengan adanya Pasar Bedug karena umumnya mereka pedagang musiman," ujarnya.
Demikian juga pada industri makanan dan minuman di Kota Palembang.
"Malahan masyarakat rela beralih profesi sementara menjadi pedagang makanan dan minuman untuk memanfaatkan momentum lebaran. Mengenai modal, biasanya mereka akan mengadaikan atau menjual perhiasan yang dimiliki karena memiliki keyakinan akan meraup keuntungan lebih besar," katanya.(Dolly)
Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
